<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abdul Talib Rachman</title>
	<atom:link href="http://suaraatr2025.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaraatr2025.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2009 11:44:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='suaraatr2025.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/225e5af8b2d1e07ac8f3d251c4e4c540?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abdul Talib Rachman</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>BUDAYA DALAM KOMUNITAS BERBANGSA DN BERNEGARA</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/06/17/budaya-dalam-komunitas-berbangsa-dn-bernegara/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/06/17/budaya-dalam-komunitas-berbangsa-dn-bernegara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 11:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>
		<category><![CDATA[BERNEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[KOMUNITAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Kita menyadari sepenuhnya perang kemerdekaan dimulai dengan Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.
Namun demikian perlu kita sadari bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan yang dimulai dari pergerakan nasional pada permulaan abad ke-20 dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perjuangan yang sebelumnya dilaksanakan secara sedaerah-daerah, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=150&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN</p>
<p style="text-align:justify;">Kita menyadari sepenuhnya perang kemerdekaan dimulai dengan Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian perlu kita sadari bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan yang dimulai dari pergerakan nasional pada permulaan abad ke-20 dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perjuangan yang sebelumnya dilaksanakan secara sedaerah-daerah, namun terdapat pebedaan kualitatif dalam perjuangan dimana unsur modernisasi mempengaruhi pola berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi perlu untuk diingat bahwa penjajahan Belanda mempengaruhi proses perubahan dalam bersikap dan berperilaku dalam memasuki proses modernisasi. Proses itu tidak berakhir setelah kita mengakhii penjajahan Belanda, melainkan kita melanjutkan dan meningkatkan proses modernisasi itu dalam pembinaan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Disatu sisi kita menyadari satu sumber kekuatan selama perjuangan kenmerdekaan ialah kemampuan bangsa kita untuk memelihara dan terus meningkatkan perastuan dan kestuan nsional kita sambil menghormati secara wajar keanekaragaman dalam rangka persatuan dan keatuan nasional itu. Hal itu paling nyata  dilambangkan oleh PANCASILA tidak hanya dasar Negara secara formal saja, tetapi juga telah menempa identitas bangsa kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Disisi lain bahwa dalam perjuangan kemerdekaan kita yang telah disusul oleh pembinaa bangsa, revolusi dan pembangunan yang diiukuti perubahan dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi tidak menunjukkan perhatian yang terfokuskan mengenai “pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan”. Dapat kita baca hal tersebut yang ditulis oleh para pemikir seperti Soejatmoko dalam bukunya “Dimensi manusia dalam pembangunan”, Prof Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan”, Mochtar Lubis dalam bukunya “ Manusia Indonesia”</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang terjadi, para pemikir tidak lepas dari perdebatan yang dikenal “Polemik Kebudayaan” kearah mana pengembangan dan perkembangan Kebudayaan Nasional Indonesia seharusnya berkiblat ? budaya barat atau arah budaya yang sudah mentradisi di dunia timur khususnya di bumi Nusantara ?</p>
<p style="text-align:justify;">Polemik yang berkepanjangan tidak jelasnya rumusan tentang “budaya berbangsa dan bernegara Indonesia” dalam menafsirkan seperti yang termuat dalam UUD ’45 yang tertuang dalam pasal 32 “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia” (sebelum dirubah) serta uraian dalam penjelasan yang berbunyi “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya Rakyat Indonesia seluruhnya.” “Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kea rah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari ebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal tersebut terdapat perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002, yang berbunyi “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”  “(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari rumusan atas perubahan yang diungkapkan diatas hanyalah mendorong adanya pemikiran polemik yang berkepanjangan dan hal itu yang diinginkan oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tuntunan dalam kebrsamaan dalam bersikap dan berprilaku dalam mengaktualisasikan kesatuan dalam pemikiran yang tidak memiliki budaya berbangsa dan bernegara yang kuat karena tidak memiliki kredebilitas manusia Indonesia seutuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari apa yang kita kemukakan diatas, maka dipandang perlu untuk merumuskan kembali apa yang diungkapkn dalam pasal 32 UUD ’45 seselum perubahan dengan mencantumkan ayat (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Pealsanaannya diatur lebih lanjut dalam peraturan pemrintah. Dalam penjelasan ditambahkan kedalam satu alenia baru yang berbunyi “ Diprlukan satu rumusan Budaya Berbangsa dan Bernegra Indonesia sebagai aturan dan tuntunan yang harus dianut dalam bersikap dan berperilaku sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam memberikan arah Kreabilitas Bangsa Indonesia.<span id="more-150"></span></p>
<p style="text-align:justify;">2. PENDEKATAN SEBAGAI RUMUSAN KONSEPSI</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk merumuskan suatu knsepsi sebagai pola berpikir dalam merumuskan satu gagasan atau idea yang dapat dipergunakan sebagai landasan, maka dieprlukan satu pendekatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan yang kita maksudkan disini “menguraikan huruf dari kata dan merumuskan menjadi kata bermakna kedalam sutua untaian kalimat yang dapat mendorong dalam bersikap dan berperilaku” dalam proses kemampuan berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata yang hendak dirumuskan disini adalah BUDAYA, BERBANGSA, BERNEGARA, INDONESIA, dngan uraian sebagai berikut ;</p>
<p style="text-align:justify;">Kata BUDAYA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :<br />
B menjadi kata bermakna (B)ERPIKIR<br />
U menjadi kata bermakna (U)SAHA-USAHA<br />
D menjadi kata bermakna (D)AYA CIPTA<br />
A menjadi kata bermakna (A)MANAH<br />
Y menjadi kata bermakna (Y)AKIN<br />
A menjadi kata bermakna (A)GAMA</p>
<p style="text-align:justify;">BUDAYA Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan adalah kemampuan seseorang dalam BERPIKIR untuk dapat menggerakkkan USAHA-USAHA dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal untuk menciptakan DAYA CIPTA dalam menjalankan AMANAH yang berlandaskan ke –YAKINAN dengan AGAMA yang dianutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata BERBANGSA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :<br />
B menjadi kata bermakna (B)ERJIWA<br />
E menjadi kata bermakna (E)TIKA<br />
R menjadi kata bermakna (R)UKUN<br />
B menjadi kata bermakna (B)BERBUDI<br />
A menjadi kata bermakna (A)QLAK<br />
N menjadi kata bermakna (N)URANI<br />
G menjadi kata bermakna  (G)ERAKAN<br />
S menjadi kata bermakna  (S)OSIAL<br />
A menjadi kata bermakna (A)DIL</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERBANGSA adalak manusia yang BERJIWA dengan landasan ETIKA, ke-RUKUNAN, BERBUDI, ber-AQLAK mulia dalam menjalankan hati NURANI sebagai suatu GERAKAN  dalam mewujudkan makna SOSIAL dan ADIL.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata BERNEGARA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :<br />
B menjadi kata bermakna (B)ERSATU<br />
E menjadi kata bermakna (E)MOSIONAL<br />
R menjdi kata bermakna (R)ASIONAL<br />
N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL<br />
E menjadi kata bermakna (E)KLEKTIS<br />
G menjadi kata bermakna (G)ABUNGAN<br />
A menjadi kata bermakna (A)NTAR<br />
R menjadi kata bermakna (R)AS<br />
A menjadi kata bermakna (A)GAMA</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kta-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERNEGARA adalah keinginan yang berlandaskan niat untuk BERSATU secara EMOSIONAL dan RASIONAL dalam membangun rasa NASIONALIEME secara EKLEKTIS kedalam sikap dan perilaku ANTAR yang berbeda RAS dan AGAMA..</p>
<p style="text-align:justify;">Kata INDONESIA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :<br />
I menjadi kata bermakna (I)NTERGERASI<br />
N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL<br />
D menjadi kata bermakna (D)AERAH<br />
O menjadi kata bermakna (O)RGANISASI<br />
N menjadi kata bermakna (N)EGARA KESATUAN<br />
E menjadi kata bermakna (E)KONOMI<br />
S menjadi kata bermakna (S0EJAHTERA<br />
I  menjadi kata bermakna (I)MPIAN<br />
A menjadi kata bermakna (A)MANAH</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kata-kata trsbut kita susun dalam untaian kalimay yang bermakna, maka ita merumuskan INDOESIA adalah wilayah kepulauwan yang ter-INTERGERASI secara NASIONAL dari DAERAH daratan dan lautan kedalam ORGANISASI berbentuk NEGARA KESATUAN untuk melaksanakan pembangunan EKONOMI dalam mewujudkan masyarakat SEJAHTERA sebagi realisasi IMPIAN yang di-AMANAHKAN oleh UUD ’45.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pendekatan yang kita utarakan diatas, diharapkan dapat dipergunakan untuk menyusun suatu konsepsi yang dapat dipergunakan untuk menyatukan sudut pandang dalam kita merumuskan, apa yang telah tertuang dalam pasa 32 UUD ’45 sebelum diadakan perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Degan sudut pandang itu, kita harapkan kita dapat menyatukan pola berpikir dalam merumuskan visi, misi, tujuan, strategi  dalam mengaktualisasikan BUDAYA BERBANGSA BERNEGARA INDONESIA sebagai pedoman dalam kita bersikap dan berperilaku dalam menjalankan fungsi, pekerjaan, kerja, jabatan, peran dan tanggung jawab dalam berbangsan dan bernegara.</p>
<p style="text-align:justify;">3. RUMUSAN B3I (BUDAYA BEBANGSA BERNEGARA INDONESIA)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pendekatan tersebut diatas, maka kita dapat merumuskan konsepsi yang kita maksudkan dengan B3I sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">B3I adalah wujud sikap dan perilaku sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam kemampuan memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal kedalam usaha mengaktualisasikan  makna Budaya Berbangsa Bernegara Indonesia sebagai pedoman yang harus dianut selaku warga Negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsepsi tersebut mendorong kita untuk memahami apa arti me masuki abad 21, suatu abad yang telah ditandai oleh perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan. Perubahan tersebut menunjukkan pula, perlunya satu usaha untuk melakukan pendekatan baru dalam mewujudkan daur hidup organisasi Negara yang selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian yang selalu ada dimana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berjalan terus, era globalisasi merupakan tantangan di abad ini, maka   dalam memasuki dunia tanpa batas diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan mengelola organisasi negara berbasiskan budaya berbangsa dan bernegara Indonesia. B3I sebagai wajah baru haruslah mampu mengantisipasi dan mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang selaras dengan keputusan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran, strategi).</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan nasional silih bergati dan   menerapkan gayanya sendiri , sehingga ada satu kesan B3I bukanlah penentu keberhasilan, sehingga pada saat ia mencanangkan suatu gagasan untuk dilaksanakan, ia beranggapan sama luasnya dengan fungsi perencanaan itu sendiri tapi mereka tidak arti dari sisi hal yang konkrit dan hal yang yang bersifat abstrak. Jadi yang menentukan keberhasilan terletak pada dimensi manusia itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu adanya anggapan yang menganggap sama mudah menyebar seperti sistem gayanya kedalam pengikutnya, yang mendorong orang tidak pernah fokus untuk memikirkannya secara konsepsional arti penting keberadaan B3I. B3I tidak pernah dirumuskan sehingga organisasi negara sebagai satu pendekatan adalah sangat penting untuk diterapkan dan diperlukan seorang yang mampu berperan untuk mengkomunikasikan dengan baik dengan tanggung jawab bersama dengan satu pola pikir bahwa suatu organisasi NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) sebagai pondasi yang efektif adalah visi dan misi yang sejalan dengan B3I yang dianutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan ungkapan itu seorang Kepemimpinan Nasional menyadari sepenuhnya selama berjalan waktu adanya bahwa organisasi Negara pada saat ini memahami sepenuhnya untuk apa ia berdiri dan atas prinsip apa yang dianut dalam beroperasinya. Oleh karena itu perilaku organisasi bernegara yang didasarkan kepada B3I yang kuat bukan saja pilihan filosofis melainkan sejalan dengan tuntutan daur hidup organisasi bernegara dalam kelangsungan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi berdasarkan pemikiran diatas, sudah saatnya suatu NKRI memiliki konsepsi B3I yang jelas, sehingga dapat diambil kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku untuk menyelaraskan kedalam kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dalam bertindak sesuai dengan tuntunan yang telah kita rumuskan dalam melaksanakan pembangunan ekonomi yang berdemensi manusia Indonesia seutuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengkomunikasikan B3I tersebut diperlukan langkah-langkah agar konsepsi B3I yang dituangkan secara formal diperlukan keterlibatan semua warga Negara Indonesia untuk memahami dan mempelajari sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bernegara.</p>
<p style="text-align:justify;">4. PEMAHAMAN DAN PERAN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk dapat menyamakan konsep dalam berpikir diperlukan suatu paham yang sama mengenai B3I yang telah kita rumuskan pada bagian terdahulu melalui pendekatan dari makna kata yang diuraikan kedalam satu untaian kalimat yang bermakna. Untuk memperjelas konsepsi yang kita utarakan diperlukan pemahaman dari sudut pandang lain yaitu dengan  mengkombinasikan baik dari sudut pandang yang disebut dengan anthropologi maupun dari sudut sosiologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sudut pandang anthropologi menekankan pada sistem gagasan atau idea, sedangkan dari sudut sosiologi menekankan pada sistem sosial (perilaku). Bertitik tolak dari sudut pandang tersebut maka dapat dirumuskan pengertian budaya itu sendiri sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Sistem nilai dan keyakinan bernegara yang mewarnai perilaku warga dan kegiatan bernegara<br />
•	Cara atau kebiasaan kerja yang telah membudaya (tertanam) dalam satu organisasi bernegara.<br />
•	Suatu pola terpadu dari tingkah laku masyarakat dalam bernegara antara lain pemikiran, tindakan, pembicaraan, ritual / upacara dan benda-benda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pengertian-pengertian yang dikemukakan diatas, maka dapat pula kita simpulkan peran B3I sebagai suatu pemahaman tersebut diharapkan pula menjadi daya dorong dalam mewujudkan keputusan strategik agar dapat memberikan motivasi dalam usaha membina Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki intergritas pribadi, memiliki wawasan mengenai keagamaan, bahasa, sejarah, kesenian, kesusteraan, ilmu pengetahuan</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membangun, mewujudkan, membina dan  mengembangkan SDM yang memiliki karekteristik tersebut kedalam sikap dan perilaku diperlukan landasan B3I dalam suatu pemahaman yang mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;">B3I diperlukan untuk berperan dalam menyatukan cara pandang serta cara bertindak dalam menyelaraskan kepentingan stakeholders ditengah lingkungan yang selalu berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan B3I akan menuntun sikap dan perilaku secara terpola dalam mewujudkan prima dalam karsa dan sadar dalam karya artinya:</p>
<p style="text-align:justify;">Prima Dalam Karsa :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Setiap manusia Indonesia memiliki komitmen dalam pelaksanaan pekerjaan.<br />
•	Komitmen menjadi daya dorong membangun kebanggaan dalam berbangsa dan bernegara Indonesia<br />
•	Berbangsa dan bernegara yang memiliki  komitmen tidak lagi menunggu komando untuk diawasi.<br />
•	Tidak diperlukan kontrol yang ketat dalam mewujudkan mutu kerja.<br />
•	Setiap warga bangsa yang memiliki komitmen juga proaktif dan produktif.<br />
•	Manajemen yang prima  dalam melaksanakan B3I berarti wujud karsa dalam berusaha meningkat produktivitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sadar Dalam Karya :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Sikap sadar dalam karya melahirkan disiplin yang tidak semu.<br />
•	Dengan disiplin maka warga dalam berbangsan dan bernegara mengenal konstribusi dalam perannya.<br />
•	Mendorong da menumbuh kembangkan nilai-nilai kreativitas, inovatif, adaptif, proaktif, dan produktif.<br />
•	Melahirkan kemampuan berpikir dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdesan dan akal untuk menghindari masalah.<br />
•	Setiap warga Negara Indonesia merasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan selalu merasa memiliki keunggulan dalam keahliannya.</p>
<p style="text-align:justify;">5. UNSUR  DAN PENGARUH B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan makna B3I, serta memperhatikan yang dinungkapkan oleh Koentjraningrat dalam bukunya “kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, ia mengungkapkan bahwa kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud ialah :</p>
<p style="text-align:justify;">“1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-idee, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainnya.<br />
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dlam masyarakat,<br />
3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.”</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya ia mengatakan bahwa “ Wujud pertama adalah wujud idel dari kebudyaan. Kebudayaan ideel ini dapat kita sebut adapt tata-kelakuan atau secara singkat atau secara singkat adapt dalam arti khusus, atau adati-istiadat dalam bentuk jamaknya” Wujud kedua dari kebudayaan yang disebut sistem soisial.” “ Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari apa-apa yang telah kita uraikan diatas, maka yang termasuk unsur-unsur kedalam budaya berbangsa dan bernegara Indonesia adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">•	NILAI, dalam arti apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih atau kurang baik dan apa yang lebih benar atau yang kurang benar. Nilai budaya dapat berbentuk : Disiplin murni (taat bekerja dengan penuh kesadaran) ; Kreatif individu / kelompok ; Inovasi organisasi ; Mengutamakan mutu dan produktivitas ; Kepuasan bersama ; Profesional (mengerti apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya) ; Proaktif (tanggap dan tidak menunggu perintah) ; Jiwa pelayanan ikhlas, ramah tamah ; Kerjasama ; Adaptif ; Tabah (tinah kenal putus asa) ; Menghargai waktu ; dsb.</p>
<p style="text-align:justify;">•	NORMA, dalam arti aturan atau kaidah yang dipakai sebagai tolak ukur penilaian. Atau dapat juga dikatakan norma adalah aturan yang mengikat sebagai panduan, tatanan dan kendali tingkah laku individu dalam organisasi berbangsa dan bernegara Indonesa Seluruh peraturan yang diterbitkan harus dijiwai oleh nilai-nilai yang disepakati bersama sebagai tuntunan dalam bersikap dan berperilak.</p>
<p style="text-align:justify;">•	WEWENANG, dalam arti kemampuan untuk mengambil keputusan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Wewenang adalah kekuasaan  yang syah untuk melaksanakan peranan sesuai dengan jabatan untuk mewujudkan harapan-harapan selaras dengan B3I.  Wewenang merupakan wahana untuk memasyarakatkan nilai-nilai dan norma-norma dalam B3I.</p>
<p style="text-align:justify;">•	GANJAR, dalam arti imbalan yang diberikan secara wajar dan adil baik bersifat finansial maupun non finansial. Atau dengan kata lain ganjar adalah imbalan dalam bentuk penghargaan atas prestasi positip atau hukuman atas prestasi negatif. Sistim pemberian ganjar mndorong terwujudnya B3I dan tercapainya sasaran organisasi dalam bernegara sebagai manusia yang seutuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran yang kita utarakan diatas, mengingatkan kita kembali apa yang ditulis Soejatmoko dan Mochtar Lubis seperti halnya juga Koentjraningrat telah memberikan arah perfektif mengenai “Manusia Indonesia Seutuhnya” dalam demensi pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi unsur-unsur tersebut bila dituangkan dalam konsepsi B3I yang dformalkan akan menjadi landasan bersikap dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi kedalam pola berpikir untuk mengembangkan wawasan dan imajinasi warga Negara Indonesia kedalam dimensi pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pengaruh B3I dalam proses berpikir  akan selalu mendorong manusia Indonesia merasakan arti keberadaannya sebagai warga Negara Indonesia untuk dapat memberikan konstribusi dalam pembangunan sesuai dengan perannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain daripada itu B3I memebrikan daya dorong bahwa setiap warga diberikan peluang untuk maju, sepanjang yang bersangkutan selalu memahami arti hidup berbangsa dan bernegara yang yang dapat memotivasinya secara sadar untuk memahmi masa lalu, masa kini dan masa depan. Pada saat ia memahmi masa kini, berarti ia dapat menangkap pengalaman masa lalu. Sejalan dengan itu ia mengharapkan masa depan yang lebih baik dari masa kini, oleh karena ia tidak dapat melepaskan arti berpikir, bekerja dan belajar berlandaskan pemahaman yang bersangkutan pada B3I.</p>
<p style="text-align:justify;">6. VISI DAN MISI B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemikiran intuitif, maka diperlukan satu pernyataan singkat agar dapat menuntun arah yang hendak kita tuju di masa depan yang kita sebut dengan :</p>
<p style="text-align:justify;">VISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia seutuhnya membangun CITRA sebagai manusia yang unggul berdasarkan pelaksanaan pemahaman yang mendalam atas B3I sebagai penuntun menuju ke ARAH kesiapan yang mampu memasuki setiap perubahan dengan TUJUAN membangun kebiasaan yang produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur visi B3I dalam sikap mencakup : Citra, Budaya, Arah, Tujuan artinya:<br />
•	CITRA adalah mewujudkan sikap sebagai manusia yang unggul.<br />
•	B3I adalah mengkomunikasikan pola berpikir kedalam prinsip kepemimpinan kolaboratif.<br />
•	ARAH adalah sikap positip dalam memasuki setiap perubahan<br />
•	TUJUAN adalah menyatukan kesamaan berpikir dalam membangun kebiasaan yang produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan VISI B3I menggambarkan arah perjalanan yang hendak dituju, sebaliknya pernyataan MISI B3I menyatakan bagaimana sarana itu disiapkan dalam menuju arah yang dituju, dengan pernyataan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">MISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia seutuhnya dalam usaha-usaha untuk MEMPERHATIKAN perilaku dalam mengkomunikasikan kehangatan serta MEMBIMBING dalam membangun kepercayaan dengan pemikiran ANALITIS STRATEGIS melihat masa depan yang bersifat antisipatif dari sudut pandang yang bersifat EKSPRESIF dengan penguasaan wawasan dan imajinasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur MISI B3I dalam perilaku mencakup: Memperhatikan, Membimbing, Analitis, Ekspresif artinya :<br />
•	MEMPERHATIKAN adalah mengkomunikasikan kehangatan<br />
•	MEMBIMBING  adalah membangun kepercayaan<br />
•	ANALITIS STRATEGIS adalah mengkomunikasikan fakta, gagasan ke masa depan.<br />
•	EKSPRESIF adalah inisiatif, kreatif, spontan, bersemangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian apa yang telah diuraikan bahwa B3I mempengaruhi Visi (perjalanan yang ingin dilakukan), sehingga dalam bersikap (cara anda mengkomunikasikan suasana hati anda kepada orang lain) selalu dalam pemikiran yang positip, sedangkan  Misi dalam Perilaku (segala tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme) sebagai wahana transformasi dalam pola berpikir yang akan menuntun bagaimana organisasi bernegara menyeberangi kesenjangan B3I VS RENCANA PERSFEKTIF, POSISI DAN KINERJA dalam mewujudkan prima dalam karsa dan sadar dalam karya Jadi dengan adanya B3I  diharapkan menjadi penuntun dalam berskap dan berperilaku karena menyangkut hal-hal yang konkrit yang digerakkan oleh manusia yang memiliki budaya sebagai penggerak mewujudkan hal-hal yang bersifat abstrak</p>
<p style="text-align:justify;">6. TUJUAN MERUMUSKAN B3I YANG DIFORMALKAN</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari Visi dan Misi B3I yang diutarakan diatas sebagai penuntun, maka diperlukan pula rumusan yang jelas tujuan-tujuan yang hendak dicapai dengan B3I diformalkan kedalam peraturan pelaksanaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya anda seorang PRESIDEN RI yang baru diangkat untuk memimpin Negara Kesatuan Republik INdonesia yang sedang mengalami masalah yang normal dan tidak normal, maka sebelum anda melangkah mencari penyelesaiannya akan timbul satu pertanyaan, mengapa masalah itu timbul ? Karena organisasi NKRI tidak siap mengantisipasi perubahan yang serba komplek dan ketidak kepastian, ditambah lagi posisi daur hidup Negara berada dalam masalah abnormal yang dikelompokkan kedalam katagori “penyakit”</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, timbul pertanyaan “mengapa harus dimulai dari membanngun B3I ?” sedangkan kitapun menyadari bahwa  membutuhkan waktu dalam mentransformasikannya karena hal-hal yang tak dapat diraba dan tidak terlihat sehingga diperlukan pemahaman atas peran B3I  seperti yang telah kita utarakan sebelumnya, oleh karena itu bila kita mengakui perlunya perubahan yaitu menetapkan secara formal B3I maka mereka sebagai warga negara lebih cenderung untuk mendukungnya, sehingga diharapkan adanya satu pemahaman yang dapat mendorong perubahan dalam berikir yang menyangkut hal-hal sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Manusia dan intelektual adalah unsur sentral dalam keberhasilan.<br />
•	Konsepsi B3I menekankan peran utama manusia.<br />
•	Teknik manajemen dan strategi yang baik tidak ada artinya apabila dalam berbangsa dan bernegara tidak memiliki orang-orang yang punya komitmen yang kuat untuk merealisasikan keputusan yang ditetapkan.<br />
•	Pengalaman menunjukkan bahwa keunggulan yang diraih oleh negara-negara industri baru dan Jepang adalah konsekwensi dari budaya kerja yang diyakini oleh para pekerja.<br />
•	NKRI yang memperhatikan unsur manusia dan intelektual akan mengembangkan B3I yang kuat.<br />
•	Karena itu strategi NKRI yang baik adalah dilengkapi dengan dimensi B3I.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan pemahaman kita mengenai hal-hal tersebut diatas serta wawasan kita mengenai agama, bahasa, seni, kesusteraan, sejarah, ilmu pengetahuan dan sebagainya mendorong berpikir intuitif untuk merumuskan apa yang menjadi tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari konsepsi B3I yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman sebagai aturan yang harus kita patuhi dan dijalankan sebagai komitmen yang datang dari diri sendiri dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Dengan pedoman yang diformalkan dan dapat diterima oleh Warga Indonesia diharapkan dapat menuntun dalam menjalankan peran yang dibebankan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Dengan pedoman itu pula mendorong kepada setiap warga untuk mampu membangun kebiasaan yang produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman dalam merumuskan budaya kerja kedalam masimng-masing unit kerja ssuai dengan bidangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman bagi setiap orang yang merasakan akan arti penting untuk terus meningkatkan kompetensi agar dapat berperan dalam dimensi pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman bagi setiap pemimpin pada semua tingkatan untuk menumbuh kembangkan kepemimpinan kolaboratif.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman bagi setiap warga yang selalu siap menghadapi perubahan dalam gelombang ketidak pastian.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menjadi pedoman sebagai daya dorong agar setiap warga mampu menggerakkan kreativitas dan inovasi .</p>
<p style="text-align:justify;">7.  STRATEGI MELAKSANAKAN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan dirumuskan B3I secara formal yang ditetapkan berdasarkan satu pemikiran Visi, Misi, Tujuan dengan memperhatikan peran dan unsur nilai, norma, wewenang dan ganjar yang telah kita rumuskan dalam kerangka berpikir dengan pendekatan pemahaman kata dari unsur huruf yang bermakna serta pendekatan sistem, berarti kita berusaha untuk memecahkan dimensi manusia dalam usaha menyeberangi kesenjangan dari pola pikir lama menuju ke pola pikir baru bahwa diperlukan fokus kedalam pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan seperti yang diungkapkan oleh Soedjatmoko dalam bukunya “Dimensi Manusia dalam Pembangunan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka untuk merealisasikan apa yang telah kita rumus dalam B3I (Budaya Berbangsa Bernegara Indonsia) diperlukan seperangkat strategi untuk melaksanakannya  sebagai landasan untuk merumuskan kebijaksanaan dan program perencanaan, proses dan transformasi atas pelaksanaan perubahan yang kita harapkan, mencakup :</p>
<p style="text-align:justify;">Strategi untuk meyakinkan semua pihak bahwa B3I, mutlah diperlukan dan dirumuskan kedalam ketentuan pasal 32 UUD “45, dengan mencantumkan bahwa pelaksanaan akan diatur dalam Undang-Undang.</p>
<p style="text-align:justify;">Strategi mengelola penyelenggaraan Negara oleh Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif haruslah berbasiskan B3I yang telah disepakati bersama dalam bersikap dan berperilaku dalam menjalankan peran secara responsip dalam arti selalu siap dalam menghadapi perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Strategi mengelola penyelenggaraan Negara oleh Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif berbasiskan kejelasan kedalam iklim organisasi, gaya kepemimpinan dan kinerja dengan infrastruktur yang mendorong dalam bersikap dan berperilaku dalam emberikan konstribusinya dalam berperan.</p>
<p style="text-align:justify;">Strategi dalam pengelolaan berbangsa bernegara berbasiskan pemanfaatan teknologi informasi dalam membangun kebiasaan yang produktif, perubahan berencana yang berkesinambungan dan melaksanakan kepemimpinan kolaboratif da good governance</p>
<p style="text-align:justify;">BAB  II<br />
RUMUSAN NILAI-NILAI KEDALAM B3I</p>
<p style="text-align:justify;">1. 45 	BUTIR NILAI DALAM P4</p>
<p style="text-align:justify;">45 Butir nilai dalam P4, bukanlah sesuatu yang baru, disebar luaskan, diajarkan dalam setiap kesempatan bagi setiap yang memiliki peran, tapi dalam praktek tidak dapat ditransformasikan menjadi satu unsur dari B3I yang dapat menjadi penggerak dalam perubahan sikap dan perilaku. Itulah satu pertanyaan yang harus kita jawab. Mengapa ?</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada satupun dalam kepemimpinan nasional yang silih berganti memberikan perhatian secara fokus makna yang dituangkan dalam pasal 32 sebelum perubahan, sedangkan mereka menyadari demensi manusia dalam pembangunan, itulah sebabnya kehancuran bangasa Indonesia, apakah Nrgara ini masih ada harapan untuk tumbh dan berkembang. Ataukah daur hidup Negara ini masih menghadapi masalah abnormal yang berkepanjangan, yang jelas belum ada tanda perbaikan bahkan saat ini kita menghadapi konflik terbuka yan dimainkan oleh pihak ketiga dalam memecah bangsa. Ketidak puasan muncul dimana-mana melalui demontasi-demontrasi, tidak melalui saluran nilai yang diakui bersama, dampaknya sangat merugikan dalam berbangsa da bernegara.</p>
<p style="text-align:justify;">Oeleh karena itu diperlukan nilai-nilai yang diakui bersama sebagai unsur dalam B3I yang diformalkan dan dtransformasikan secara baik dan berkesinambungan dalam pelaksanaannya. Untuk itu diperlukan pemahaman mengenai factor yang akan mempengaruhinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini  ada hal-hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian sebelumnya melalui pemahaman apa yang kita sebut dengan iklim organisasi berbangsa dan bernegara, gaya kepemimpinan dan kinerja untuk dipahami terlebih dahulu karena ia merupakan faktor penentu dalam keberhasilan atas perubahan dalam mentrasformasi usaha-usaha memangun B3I yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara singkat hal-hal tersebut dapat kita uraikan lebih lanjut dengan memperhatikan kesenjangan dari pola pikir lama menuju ke pola pikir baru kedalam bersikap dan berperilaku sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Iklim organisasi berbangsa dan bernegara :</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah suasana hubungan antar individu dan atau kelompok dalam berbangsa dan bernegara atas nilai-nilai yang telah kita sepakati.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran tersebut diperlukan adanya iklim organisasi berbangsa dan bernegara yang kondunsif sehingga dapat memberikan daya dorong kedalam motivasi, prestasi dan kepuasan kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Wujud dari iklim organisasi berbangsa dan bernegara dapat ditunjukkan dengan adanya ciri-ciri sbb. :<br />
•	Kejelasan dengan tanggung jawab artinya seperti tiap individu merasa diberi tanggung jawab dalam menjalankan peran.<br />
•	Kejelasan sasaran kerja artinya setiap individu mengertia apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaksanakan serta kepada siapa ia harus melaporkannya.<br />
•	Kejelasan penilaian kerja artinya setiap individu memperoleh umpan balik dari apa yang dikerjakan sesuai dengan perannya.<br />
•	Adanya tantangan kerja bagi stiap individu dalam melaksanakan kerja.<br />
•	Adanya bimbingan kerja bagi setiap individu.<br />
•	Adanya keinginan untuk bekerja keras.<br />
•	Adanya penghargaan untuk individu yang berprestasi.<br />
•	Kejelasan karir di masa depan.<br />
•	Adanya pengakuan dari atasan dan teman sejawat.<br />
•	Adanya keluwesan dalam melaksanakan pekerjaan.<br />
•	Kejelasan dalam pengambilan resiko untuk setiap peran .<br />
•	Adanya keterbukaan artinya setiap individu merasa bahwa manajemen dan lingkungan kerja sifatnya terbuka.<br />
•	Adanya keakraban hubungan kerja secara harmonis.<br />
•	Adanya sikap toleran artinya kesadaran tiap individu mempertimbang saran yang diberikan.<br />
•	Adanya kepedulian artinya setiap individu peduli atas masalah yang timbul dan berusaha mencari jalan pemecahannya.<br />
•	Adanya rasa memiliki artinya setiap individu merasa terikat dalam organisasi berbangsa dan bernegra bukan diikat.<br />
•	Adanya kerja sama yang akrab dalam organisasi berbangsa dan bernegara berdasarkan kepemimpinan kolaboratif<br />
•	Adanya saling percaya mempercayai dalam melaksanakan pekerjaan yang terkoordinasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Gaya Kepemimpinan :</p>
<p style="text-align:justify;">Gaya kepemimpinan adalah sikap dan perilaku seorang pemimpin dengan kepemimpinannya mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan keputusan dalam kerangka mewujudkan persfektif, posisi dan performansi yang telah ditetapkan dalam struktur cabinet dan unit-unit organisasi berbangsa dan negara</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya bila kita membicarakan gaya kepemimpinan, maka terdapat kecenderungan untuk mengatakan dua kutub, disatu sisi disebut dengan autokratik (direktif) yang biasanya dikaitkan dengan penggunaan otoritas  atas dasar posisi dan disisi lain disebut dengan demokratik (suportif) dikaitkan dengan personalitas dan keikutsertaan pengikut atau bawahan dalam proses pengambilan keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari bentuk-bentuk kepemimpinan yang efektif terdapat pada gaya :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Gaya Eksekutif adalah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan orientasi hubungan kemanusiaan dan tugas yang tinggi.<br />
•	Gaya Developer adalah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi hubungan kemanusiaan.<br />
•	Gaya Benevolent Autokrat ialah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi tugas.<br />
•	Gaya Birokrat ialah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi hubungan kemanusiaan dan tugas yang rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk-bentuk gaya kepemimpinan yang tidak efektif adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Gaya kompromi adalah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi hubungan kemanusiaan rendah dan tugas yang tinggi.<br />
•	Gaya Misionari ialah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi hubungan kemunusiaan yang tinggi dan oreintasi tugas yang rendah.<br />
•	Gaya Otokrat ialah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi tugas yang tinggi dan oreintasi hubungan kemanusiaan yang rendah.<br />
•	Gaya Deserter ialah suatu gaya yang mengaktualisasikan sikap dan perilaku melalui penggunaan oreintasi tugas dan hubungan kemanusiaan yang rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kinerja :</p>
<p style="text-align:justify;">Kinerja dapat diartikan kemampuan seseorang / unit kerja / perusahaan untuk meraih prestasi yang terbaik. Prestasi yang terbaik  ditentukan oleh pengukuran job performance, oleh karena itu dalam melakukan penilaian atas prestasi kerja sangat tergantung pada kreteria-kreteria yang dalam hal ini baik kedalam bentuk standard yang obyektif (kuantitatif) maupun dalam bentuk pertimbangan subjektif (kualitatif).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dalam mengembangkan pemahaman kinerja sebagai output dari efesiensi, efektif dan mutu, maka perlu diperhatikan dalam membangun budaya perusahaan bahwa kinerja dan motivasi merupakan dua muka dari satu mata uang. Oleh karena itu motivasi diwujudkan dengan membudayakan budaya perusahaan secara berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan uraian diatas maka untuk meraih kinerja terbaik diperlukan adanya peningkatan motivasi kerja, sehingga dapat pula kita menjelaskan bahwa performance  kerja pada garis besarnya oleh dua hal yang pertama faktor-faktor individu itu sendiri yang menjalankan tugas dan kedua faktor-faktor stuasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Uraian diatas menegaskan kembali kepada kita bahwa “Mengelola Organisasi Berbasiskan Budaya Perusahaan”, merupakan satu keputusan strategik yang harus diambil sebelum melangkah dalam perjalanan hidup perusahaan untuk menata iklim organisasi, gaya kepemimpinan dan kinerja kedalam satu kerangka berpikir untuk merumuskan membangun budaya perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan merumuskan budaya perusahaan, diharapkan terjadi satu proses kedalam sistem dimana sikap dan perilaku yang dijunjung oleh komitmen dalam kebersamaan untuk mewujudkan kepemimpinan kolaboratif sebagai daya dorong untuk memberikan wadah pemberdayaan yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">2. KETUHANAN YANG MAHA ESA</p>
<p style="text-align:justify;">•	Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
•	Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Agama dan Kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.<br />
•	Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatara pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
•	Membina kerukunan hidup di antara sesame umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
•	Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha esa  adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercaya dan diyakininya.<br />
•	Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan  menjalankan ibadah  sesuai dengan agama dan keercayaan masing-masing.<br />
•	Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">3. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB</p>
<p style="text-align:justify;">•	Mengakui memperlakukan manusia ssuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.<br />
•	Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia , tanpa membeda-bedakan suku, keurunan, agama, kepercayaan , jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.<br />
•	Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira.<br />
•	Mengembangkan sika tidak semena-mena  terhadap orang lain.<br />
•	Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.<br />
•	Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.<br />
•	Berani membela kebenaran dan keadilan.<br />
•	Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh ummat manusia.<br />
•	Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjsama dengan bangsa lain.</p>
<p style="text-align:justify;">4. PERSATUAN INDONESIA</p>
<p style="text-align:justify;">•	Mampu menempatkan  persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa  dan Negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.<br />
•	Sanggub dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan bangsa apabila diperlukan.<br />
•	Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa.<br />
•	Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.<br />
•	Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial.<br />
•	Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinika Tunggal Ika.<br />
•	Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">5. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT<br />
KEBIJAKSANAAN DLM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN</p>
<p style="text-align:justify;">•	Sebagai warga Negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.<br />
•	Tidak boleh memksakan kehendak kepada orng lain.<br />
•	Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.<br />
•	Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.<br />
•	Menghormati dan menjunjung tinggi keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.<br />
•	Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.<br />
•	Musyawarah dilakukan dengan akal yang sehat dan ssuai denganhati nurani yang luhur.<br />
•	Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan pesatuan dan kesatuan dem kepentingan bersama.<br />
•	Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.</p>
<p style="text-align:justify;">6. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA</p>
<p style="text-align:justify;">•	Mengembangkan Perbuatan yang luhur,, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongan-royongan.<br />
•	Mengembangkan sikap adil terhadap sesame.<br />
•	Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.<br />
•	Menghormati hak orang lain.<br />
•	Suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.<br />
•	Tidak menggunakan hak milik usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.<br />
•	Tida menggunakan hak milk untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.<br />
•	Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentinga umum.<br />
•	Suka bekerja keras.<br />
•	Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemanusiaan da kesejahteraan bersama.<br />
•	Suka melakukan kegiatan dalam angka mewujudkan kemajan yang merata dan keadilan soisial.</p>
<p style="text-align:justify;">BAB  III<br />
RUMUSAN NORMA, WEWENANG, GANJAR KEDALAM B3I</p>
<p style="text-align:justify;">1. LANDASAN DAN RUMUSKAN NORMA KEDALAM B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Bangsa Indonesia dapat menerima 45 butir nilai-nilai yang telah dirumuskan dari PANCASILA dan diajarkan kedalam lapisan masyarakat, hanya saja setiap berganti kepemimpinan nasional, tidak pernah memikirkan bahwa nilai tersebut menjadi acuan dalam merumuskan norma sebagai unsur kedua yang harus dirumuskan secara formal kedalam B3I.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kita perlu merumuskan kedalam norma, karena dibutuhkan aturan yang tegas setiap warga merasakan keterikatan dalam bersikap dan berperilaku sebagai tuntunan agar ia menggerakkan kemampuan berpikir dalam pemanfaatan kesadaran, kecerdasan dan akal yang sejalan dengan kebutuhan orang banyak, bukan sekedar memenuhi kebutuhan pribadi dan kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman sampai saat ini telah menunjukkan bahwa pembangunan yang tidak mempehatikan demensi manusia telah memperlihat realisasi yang di amanatkan dalam UUD ’45 jauh dari harapan, bahkan dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, pengalaman tersebut ingin menunjukkan bahwa dengan mendalami arti pengalaman sebagai guru terbaik, maka ia dapat menjadi daya dorong untuk menumbuhkan prinsip dalam perjalanan hidup warga dalam berbangsa dan bernegara yaitu apa yang kita sebut dengan prinsip dapatkah kita melepaskan diri dari kebiasaan yang menjadi sikap dan perilaku warga dapat berubah mengenai “ Kiblat kepada  atasan daripada prinsip kiblat kepada karya yang diridhoi oleh Allah Swt”. Inilah satu kenyataan dalam hidup berbangsa dan bernegara yang telah menjerumuskan bangsa kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan wawasan nilai dirumuskan kedalam norma, timbul imajinasi bagi kita dari  sekulimit pengelaman diatas, tak lain ingin menunjukkan bahwa ada yang berpendapat bahwa perubahan yang terkait dengan lapisan nilai yanng mencakup budaya berbangsa dan benegara, kekuasaan politik, sistem keyakinan individu merupakan hal-hal yang sangat sulit terhadap perubahan yang tidak jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menyadari hal-hal yang diutarakan diatas, maka 45 butir nilai-nilai yang telah disepakati keberadaannya, haruslah dirumuskan kedalam norma-norma untuk dapat menjadi penuntun dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">45 butir nilai-nilai tersebut menjadi landasan untuk merumuskan norma-norma kedalam ketentuan UUD sebelum terjadi perubahan yang terdiri dalam 16 Bab, yang berisikan 37 pasal dengan Aturan Peralihannnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi nilai-nilai tersebut dirumuskan kedalam norma-norma yang terkait dengan aturan dan ketentuan yang tertuang kedalam :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Bentuk dan Kedaulatan<br />
•	Majelis Permusyawaratan Rakyat<br />
•	Kekuasaan Pemerintahan Negara.<br />
•	Dewan Pertimbangan Agung<br />
•	Kementerian Negara<br />
•	Pemerintah Daerah.<br />
•	Dewan Perwakilan Rakyat<br />
•	Hal Keuangan<br />
•	Kekuasaan Kehakiman<br />
•	Warga Negara<br />
•	Agama<br />
•	Pertahanan Negara<br />
•	Pendidikan.<br />
•	Kesejahteraan Sosial.<br />
•	Bendera dan Bahasa</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh kebijaksanaan yang akan dirumuskan sebagai aturan yang mengikat sebagai panduan, tatanan, dan kendali individu, kelompok dan organisasi bernegara haruslah dijiwai dengan nilai-nilai budaya berbangsa dan bernegara, yang telah disepakati bersama dalam PANCASILA yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa ; Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab ; Perstuan ndonesia ; Kerakytan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan ; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemkiran tersebut, maka nilai-nilai yang dituangkan kedalam norma-norma seperti yang kita utarakan diatas yang terkait dengan batang tubuh UUD ’45 yang digerakkan oleh manusia, maka dalam merumuskannya tidak terlepas dengan memperhatikan dalam pola dasar manajemen sumber daya manusia yang akan mencakup kedalam sub sistem :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Sistem perencanaan SDM<br />
•	Sistem penerimaan dan penempatan<br />
•	Sistem mutasi<br />
•	Sistem promosi<br />
•	Sistem kepangkatan dan jalur karir<br />
•	Sistem pengembangan kompetensi<br />
•	Sistem pendidikan dan pelatihan<br />
•	Sistem penilaian dan pengembangan prestasi kerja pegawai<br />
•	Sistem penggajian dan fasilitas<br />
•	Sistem pelayanan kesehatan</p>
<p style="text-align:justify;">2. LANDASAN DAN RUMUSAN WEWENANG KEDALAM B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari rumusan nilai dan norma, maka sebagai pola dasar dalam perumusan wewenang sebagai landasan akan terkait kedalam struktur organisasi formal yang bersifat fleksibel dan mudah dikontrol artinya sebagai unsur budaya organisasi berbangsa dan bernegara , maka wewenang harus mampu bergerak sesuai dengan perubahan tuntutan lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memenuhi tuntutan tersebut diperlukan pensyaratan dalam merumuskannya yang terkait dengan struktur dalam peran eksekutif, legislatif dan yudikatif sebagai organisasi penyelenggara Negara yang mencakup hal-hal yang kita sebutkan dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Organisasi penyelenggaraan Negara dan unit-unit kerja harulah dibangun berbasiskan pengetahuan dan pembelajaan dengan pendekatan sistem.<br />
•	Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unit  kerja harus dibangun kedalam  model jaringan, datar, fleksibel, global.<br />
•	Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unit kerja harus dibangun memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan : Tim sebagai unit dasar organisasi ; Jaringan bersama lingkungan ; Alur informasi secara horizontal dan vertical ; Penekanan pada proses, hasil dan kepentingan stakeholders ; Waktu kerja fleksibel ; Jalur karir fleksibel ; Sistem ganjar dan evaluasi disesuaikan ; Fokus dan spesialisasi ; Lingkungan dipandang sebagai global dan internasional.<br />
•	Organisasi harus dibangun kedalam iklim organisasi yang sehat, sehingga tercipta perilaku organisasi bernegara dan berbangsa yang dapat menjadi daya dorong keseimbangan individu, kelompok dan organisasi.<br />
•	 Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unit kerja engan karekteristik yang kita kemukakan diatas dapat memberikan daya dorong kedalam tantangan organisi kedalam pengembangan keahlian individu, pengelolaan organisasi dan pengelolaan lingkunga..</p>
<p style="text-align:justify;">3. LANDASAN DAN RUMUSAN GANJAR KEDALAM B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan depikiran yang kita kemukakan diatas serta memperhatikan perubahan paradigma sumber daya manusia kedalam “Isu Ganjar” mngenai :</p>
<p style="text-align:justify;">Isu Ganjar :                              Org. Lama :                       Org. Baru :</p>
<p style="text-align:justify;">Jalur karir                                 Linier                                 Fleksibel<br />
Promosi                                    Senioritas                           Keahlian<br />
Pembayaran                              Tingkatan                           Keahlian<br />
Jam kerja                                   Tetap                                  Fleksibel<br />
Komitmen                                 Waktu pakai                       Insiatif</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dalam merumuskan ganjar kedalam B3I, akan terkait kedalam pola dasar manajmen sumber daya manusia<br />
Pola dasar dalam perumusan ganjar akat terkait kedalam pola yang akan mencakup sub sistem :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Sistem pembinaan SDM<br />
•	Sistem disiplin SDM<br />
•	Sistem pemberhentian pegawai<br />
•	Sistem Pensiun dan kesejahteraan hari tua<br />
•	Sistem kreatifitas individu, kelompok menjadi inovasi organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi rumusan nilai menjadi landasan norma dan norma menjadi landasan wewenang sehingga ketiga unsur tersebut yang membangun ganjar kedalam B3I sebagai unsur penentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu keempat unsur tersebut membentuk satu kesatuan dan memiliki sifat saling ketergantungan kedalam B3I sebagai suatu sistem dalam membentuk sikap dan perilaku yang menjadi unsur penentu dalam mewujudkan manusia yang seutuhnya artinya memiliki kredibilitas dalam berbangsa dan bernegara.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan terwujudnya kredibilitas dari suatu bangsa dalam bernegara akan menjadi cerminan kemampuan bangsa dan Negara dalam melaksanakan pembangunan seperti apa yang diamanatkan dalam UUD ’45. Hal ini hanya bisa terjadi apabila semua warga memahami arti hidup berbangsa dan bernegara Indonesia atas dasar pemahaman untuk melaksanakan B3I yang akan sejalan dengan kemampuan mereka mendapatkan kejelasan, kebersamaan da intergritas.</p>
<p style="text-align:justify;">BAB  IV<br />
ILUSTRASI MEMBANGUN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">1. KEBERSAMAAN DALAM KEBIASAAN SEBAGAI DAYA<br />
DORONG MEMBANGUN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Bukanlah sesuatu yang gampang dalam melaksanakan transformasi secara fokus untuk mendapatkan kebersamaan dalam kebiasaan karena kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa kebiasaan itu tumbuh dan berkembang sejalan<br />
dengan sikap dan perilaku dalam kehidupannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, diperlukan mengkomnikasikan dengan baik suatu keputusan perubahan yang berkaitan dengan lapisan budaya, sehingga semua usaha-usaha diperlukan kesamaan dalam pola pikir untuk membangun kebiasaan yang produktif akan sangat menentukan arti keberadaan manusia yang berperan dalam dimensi pembangunan, yang berarti kunci keberhasilan kita dalam pemangunan ekonomi ditentukan oleh manusia yang memiliki kredibiltas sebagai manusia yang seutuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dalam membangun kebiasaan yang produktif akan terwujud bila sikap dan perilaku memberikan motivasi untuk meningkatkan wawasan melalui ilmu dari informasi, keterampilan dari pengalaman dan keinginan dari niat  yang akan menuntun usaha-usaha untuk melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan :</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, kemampuan untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam proses berpikir dari gaya lama ke gaya baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, mendorong untuk melepaskan pola pikir lama dengan kemampuan untuk merumuskan dengan gaya baru untuk dapat mendorong dalam memanfaatkan pemikiran yang menuju keberhasilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, merumuskan tindakan baru dalam pola proses berpikir baru yang sejalan dengan membangun kebiasaan yang produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan fokus  membangun kebersamaan kebiasaan melalui tiga langkah yang disebutkan diatas, diharapkan mampu menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal dalam proses berpikir dalam melaksanakan Visi dan Misi, Tujuan, Strategi B3I yang telah dirumuskan dan dipahami bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">2. KEBERSAMAAN DALAM KEYAKINAN SEBAGAI DAYA<br />
DORONG MEMBANGUN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang sangat menentukan dalam menggerakkan sikap dan perilaku yang terpola diperlukan pula kebersamaan dalam keyakinan agar aktualisasi dari kebiasaan yang produktif berjalan seperti yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan itulah sebagai perekat dalam memberikan motivasi dalam proses berpikir untuk menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal agar kesiapan untuk melaksakan perubahan dalam sikap dan perilaku dapat diterima menjadi komitmen yang datang dari diri sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tumbuh dan berkembangnya keyakinan pada diri berarti akan selalu mengingatkan disatu sisi mengnai apa yang telah kita perbuat dan disisi lain secara konsisten kita harus terus membangun kebersamaan agar terwujud keikutan semua individu dalam melaksanakan perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi bila setiap individu merasakan manfaat dalam melaksanakan perubahan, maka kita harus mengambil pengalaman tersebut untuk bersyukur pada sikap dan perilaku yang selalu siap menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian fokus membangun kebersamaan dalam keyakinan adalah sesuatu tuntutan yang terus kita dorong dan komunikasikan agar tercipta adanya keyakinan yang sesungguhnya, bukan sekedar untuk memenuhi panggilan semata melainkan sudah merupakan kebutuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. KEBERSAMAAN DALAM KONSISTENSI SEBAGAI DAYA<br />
DORONG MEMBANGUN B3I</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita memiliki kebersamaan dalam kebiasaan yang produktif dan keyakinan, maka diperlukan pula daya dorong apa yang disebut dengan konsistensi dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Wujud konsistensi dalam bersikap dan berperilaku adalah keinginan dengan niat yang menggerakkan kemampuan berpikir yang terpusat pada pilihan-pilihan yang telah ditetapkan untuk tidak berubah.<br />
Jadi dengan adanya ketetapan hati setiap terjadi perubahan, maka ia akan dapat memberikan konstribusinya yang terbaik yang sejalan dengan putusan yang diambil sehingga ia dalam bersikap dan berperilaku akan selalu pada keinginan untuk menunjukkan keuletan dalam proses berpikir untuk tidak mudah dibawa oleh arus ketidakpastian dalam bertindak yang dapat merubah sikap dan perilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan wujud konsistensi yang telah tertanam dalam pola proses berpikir diharapkan setiap orang merasakan manfaat dari sikap dan perilaku dalam memberikan inspirasi secara terus menerus agar setiap individu menjadikan diri lebih berharga sehingga akan berdampak dalam konstribusinya yang lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">4. MEMBANGUN ILUSTRASI  B3I KEDALAM KABINET</p>
<p style="text-align:justify;">Uraian dibawah ini hanya satu ilustrasi dalam “Membangun B3I kedalam struktur Kabinet” seandainya anda mencalonkan diri dalam Pemilu yang akan datang, apa yang terpikirkan dalam pikiran anda untuk membangun bangsa dan negara dapat tumbuh dan berkembang sebagai suatu harapan yang selama ini hanyalah suatu impian ?</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah-langkah yang harus dipikirkan dalam kesiapan membangun B3I kedalam struktur kabinet dengan memperhatikan faktor daya dorong membangun kebersamaan kebiasaan produktif, keyakinan dan konsistensi   mencakup pokok pikiran sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">PERTAMA, merumuskan keputusan strategik yang berkaitan dengan visi, misi, tujuan, budaya, strategi berdasarkan pemikiran intuitif dengan arah pemikiran yang bersifat persfektif. Dibawah ini hanya merumuskan yang berkaitan untuk menjabarkan B3I yang akan menuntun kemana perjalanan yang akan ditempuh dalam usaha untuk merealisasikan keputusan strategik.</p>
<p style="text-align:justify;">VISI KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari rumusan VISI B3I, yaitu :<br />
“VISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia seutuhnya membangun CITRA sebagai manusia yang unggul berdasarkan pelaksanaan pemahaman yang mendalam atas B3I sebagai penuntun menuju ke ARAH kesiapan yang mampu memasuki setiap perubahan dengan TUJUAN membangun kebiasaan yang produktif.”</p>
<p style="text-align:justify;">Maka diperlukan suatu rumusan VISI KABINET sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">VISI KABINET adalah kemampuan para Menteri dan setingkatnya dalam membangun CITRA Bangsa dan Negara dalam pembangunan yang berdemensi manusia berdasarkan BUDAYA kepemimpinan kolaboratif dengan ARAH dalam bersikap dan berperilaku dengan mentalitas manusia seutuhnya dengan TUJUAN meningkatkan nilai tambah sebagai kunci kemakmuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur VISI KABINET dalam sikap mencakup : Citra, Budaya, Arah, Tujuan artinya:<br />
•	CITRA adalah mewujudkan dimensi manusia dalam pembangunan.<br />
•	Budaya adalah mengkomunikasikan pola berpikir kedalam prinsip kepemimpinan kolaboratif.<br />
•	ARAH adalah bersikap dan berperilaku dengan mentalitas manusia sutuhnya.<br />
•	TUJUAN adalah meningkatkan nilai tambah sebagai kunci kemakmuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan VISI KABINET menggambarkan arah perjalanan yang hendak dituju, sebaliknya pernyataan MISI KABINET menyatakan bagaimana sarana itu disiapkan dalam menuju arah yang dituju, dengan memperhatikan MISI B3I sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">MISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia seutuhnya dalam usaha-usaha untuk MEMPERHATIKAN perilaku dalam mengkomunikasikan kehangatan serta MEMBIMBING dalam membangun kepercayaan dengan pemikiran ANALITIS STRATEGIS melihat masa depan yang bersifat antisipatif dari sudut pandang yang bersifat EKSPRESIF dengan penguasaan wawasan dan imajinasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan hal tersebut, maka pernyataan MISI KABINET yang sejalan dengan VISI KABINET dapat dibuat pernyataan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">MISI KABINET adalah kemampuan menteri dan setingkatnya yang sejalan dengan perannya untuk MEMPERHATIKAN perilaku dalam usaha membangun keharmonisan serta MEMBIMBING kearah kebiasaan produktif, keyakinan dan konsistensi dengan penguasaan berpikir ANALITIS TRATEGIS dalam merumuskan masalah kritis dan bersifat EKSPRESIF dalam inisiatif, kreatifitas dalam pemecahan masalah masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur MISI KABINET dalam perilaku mencakup: Memperhatikan, Membimbing, Analitis, Ekspresif artinya :<br />
•	MEMPERHATIKAN adalah membangun keharmonisan<br />
•	MEMBIMBING  adalah membangun kebiasaan, keyakinan, konsistensi<br />
•	ANALITIS STRATEGIS adalah merumuskan masalah masa depan.<br />
•	EKSPRESIF adalah inisiatif, kreatif, dalam pemecahan masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperi yang telah diungkapkan bahwa B3I sebagai landasan dalam pemikiran untuk merumuskan Visi kabinet,  (perjalanan yang ingin dilakukan), sehingga dalam bersikap (cara anda mengkomunikasikan suasana hati anda kepada orang lain) selalu dalam pemikiran yang positip, sedangkan  Misi kabinet dalam Perilaku (segala tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme), maka dalam usaha untuk merealisasikannya, diperlukan jabaran kedalam apa yang hendak dicapai KABINET, apa yang disebut dengan :</p>
<p style="text-align:justify;">TUJUAN KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Meletakkan landasan penglolaan pemerintahan berbasiskan budaya yang kuat dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Melaksanakan dimensi manusia dalam pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dalam hukum, ekonomi, politik, agama, pendidikan, sosial dan budaya, daerah, sumber daya alam dan lingkungan hidup, pertahanan dan kemanan</p>
<p style="text-align:justify;">•	Merumuskan kreteria-kreteria dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas dalam melaksanakan pembangunan nasional yang berencana.</p>
<p style="text-align:justify;">KEDUA, merumuskan keputusan pencapaian yang berkaitan dengan visi, misi, tujuan,  berdasarkan budaya kepemimpinan kolaboratif dengan arah pemikiran yang bersifat persfektif. Dibawah ini hanya merumuskan yang berkaitan untuk menjabarkan B3I yang akan menuntun kemana perjalanan yang akan ditempuh dalam usaha untuk merealisasikan keputusan strategik, dengan apa yang kita sebut budaya formal kabinet.</p>
<p style="text-align:justify;">BUDAYA FORMAL KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan rumusan B3I dan Visi kabinet, maka sebagai wahana transformasi dalam pola berpikir yang akan menuntun sikap dan perilaku anggota kabinet dan setingkatnya dalam berintraksi dalam organisasi kabinet, maka bagaimana setiap individu sesuai dengan perannya dapat menyeberangi kesenjangan BUDAYA KOLABORATIF berdasarkan  versus   RENCANA PERSFEKTIF, POSISI (Rencana Lima Tahun) DAN KINERJA (Rencana Tahunan) dalam mewujudkan prima dalam karsa dan sadar dalam karya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, diperlukan rumusan budaya formal kabinet yang diharapkan<br />
menjadi penuntun dalam bersikap dan berperilaku karena menyangkut hal-hal yang konkrit yang digerakkan oleh manusia yang memiliki budaya kolaboratif sebagai penggerak mewujudkan hal-hal yang bersifat abstrak yang kita sebut dengan rencana pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pemikiran diatas, maka budaya formal kabinet dibangun atas dasar pemahaman yang mendalam mengenai aktualisasi dari kepemimpinan kolaboratif artinya suatu pendekatan dalam usaha mewujudkan kebersamaan dalam memandang suatu yang tidak hanya dalam hubungan atas bawah melainkan juga situasional dalam keterlibatan individu dalam organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran itu, maka perlu dirumuskan nilai, norma, wewenang dan ganjar yang jelas kedalam tiga pilar yang sangat menentukan dan saling memiliki keterkaitan satu sama lain yaitu yang kita sebut dengan pilar pertama budaya kolaboratif, kedua struktur kolaboratif dan ketiga proses tim kolaboratif.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumusan dari keempat unsur berupa nilai, norma, wewenang dan ganjar yang membentuk BUDAYA FORMAL KABINET, dapat dituangkan dalam suatu pemikiran sebagai berikut :<br />
NILAI DALAM BUDAYA FORMAL KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari nilai-nilai yang tertuang dalam budaya bangsa dan negara Indonesia (B3I) yang harus kita pahami bersama sebagai landasan dalam kita bersikap dan berperilaku sebagai nilai primer yang telah disepakati bersama, maka perlu kita merumuskan nilai-nilai sekunder yang harus menjadi daya dorong untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai primer secara utuh dalam menjalankan peran dalam kabinet.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai-nilai skunder yang kita maksudkan adalah nilai-nilai yang dapat membentuk terwujudnya kebiasaan produktif dalam menjalankan peran pada organisasi kabinet agar suasana keharmonisan di tempat kerja kolaboratif dapat diciptakan dari sikap dan perilaku yang mampu dalam kesiapan untuk menyesuaikan diri dari kebutuhan pengaruh faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi dalam proses berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi nilai-nilai skunder utama yang perlu ditumbh kembangkan kedalam organisasi kabinet adalah yang mencakup :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Imajinatif<br />
•	Konseptual<br />
•	Kreatif<br />
•	Intuitif<br />
•	Pengambilan keputusan empiris<br />
•	Fokus<br />
•	Sensitivitas<br />
•	Penguasaan teknologi informasi<br />
•	Kooperatif<br />
•	Empati<br />
•	Menghargai<br />
•	Intergritas dan Kehormatan<br />
•	Konsensus<br />
•	Hubungan berdasarkan keyakinan dan kepercayaan<br />
•	Tanggung jawab dan akuntabilitas.<br />
•	Terbuka<br />
•	Divergen<br />
•	Interpersonal<br />
•	Evolusioner</p>
<p style="text-align:justify;">NORMA DALAM BUDAYA FORMAL KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan landasan nilai-nilai primer dan skunder yang telah kita pahami, maka seluruh NORMA yang terumuskan dalam kebijakan manajemen sumber daya manusia sebagai NORMA yang terumuskan itu menjadi tuntunan setiap orang yang sesuai dengan perannya yang sejalan dengan menciptakan tim kolaboratif. Dengan demikkian norma menjadi aturan yang mengikat sebagai panduan, tatanan dan kendali dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, NORMA yang terumuskan dalam struktur tempat kerja kolaboratif artinya akan menjawab hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan What to do ; Why to do it ; How to do it ; When to do it., sehingga merupakan proses terbuka dimana semua anggota menyadari arti keberadaan mereka dalam struktur kabinet.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka norma-norma yang dirumuskan itu menyangkut hal-hal proses tim kolaboratif yang disebutkan dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Harus ada kejelasan mengenai tugas atau fungsi tim.<br />
•	Harus ada kejelasan mengenai peran dan tanggung jawab tim.<br />
•	Harus ada kejelasan mengenai menciptakan kebersamaan dalam sikap dan perilaku untuk  menjalankan kegiatan operasi.<br />
•	Harus ada kejelasan mengenai pedoman uraian pekerjaan.<br />
•	Harus ada kejelasan mengenai faktor kunci kesuksesan.<br />
•	Harus ada kejelasan  mengenai rencana kerja berkesinambungan.<br />
•	Harus ada kejelasan mengenai kebutuhan kompentensi.</p>
<p style="text-align:justify;">WEWENANG DALAM BUDAYA FORMAL KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Wewenang dalam arti kemampuan untuk mengambil keputusan sesuai dengan nilai dan norma yang telah dirumuskan diatas maka wewenang haruslah dipandang sebagai kekuasaan  yang syah untuk melaksanakan peranan sesuai dengan jabatan untuk mewujudkan harapan-harapan selaras dengan B3I.  Wewenang merupakan wahana untuk memasyarakatkan nilai-nilai dan norma-norma dalam budaya fomal kabinet.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur WEWENANG dalam budaya formal kabinet haruslah terumuskan secara jelas dalam deskripsi organisasi formal. Organisasi formal kabinet terbangun kedalam suatu pola organisasi berbasiskan pengetahuan sehingga terwujudlah organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol dengan landasan yang kuat dari unsur wewenang yang akan menuntun setiap orang dalam bersikap dan berperilaku menjadi suatu stuktur kolaboratif.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, struktur kolaboratif dimana setiap angota tempat kerja merasakan sebagai pelanggan yang memfokuskan pada kualitas dalam semua aspek tuigasnya. Jadi setiap anggota tempat kerja kolaboratif bekerja sama secara intern untuk menghadapi tantangan ekstern sehingga energinya dapat doptimalkan bukan untuk membuat konflik internal.</p>
<p style="text-align:justify;">GANJAR DALAM BUDAYA FORMAL KABINET :</p>
<p style="text-align:justify;">Ganjar dalam arti imbalan yang diberikan secara wajar dan adil baik bersifat finansial maupun non finansial. Atau dengan kata lain ganjar adalah imbalan dalam bentuk penghargaan atas prestasi positip atau hukuman atas prestasi negatif. Sistim pemberian ganjar mendorong terwujudnya budaya yang menuntun sikap dan perilaku dan tercapainya sasaran organisasi dalam bernegara sebagai manusia yang seutuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, ganjar dalam budaya kabinet haruslah terumuskan secara jelas dalam sistem manajmen sumber daya manusia kedalam sistem iklim organisasi, sistem imbal jasa dan penghargaan, sistem disiplin dsb.</p>
<p style="text-align:justify;">KETIGA, setiap anggota kabinet sebelum diangkat, dimintakan kemampuan untuk merumuskan rencana jangka panjang dengan menjabarkan tujuan kabinet kedalam sasaran-sasaran yang hendak dicapai secara kuantitatif dan kualitatif, program dan jadwal pencapaiannya. Sasaran yang dirumuskan sejalan dengan peran dan tanggung jawab yang akan diserahkan dan prioritas yang telah digariskan.</p>
<p style="text-align:justify;">KEEMPAT, berdasakan Kepemimpinan Kolaboratif, maka perlu pula adanya rumusan yang dapat menuntun untuk melaksanakan keputusan strategik yang telah dikemukakan diatas kedalam seperangkat strategi agar sikap dan perilaku sejalan dengan tuntunan perubahan pola pikir</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam usaha untuk menyeberangi kesenjangan dari pola pikir lama menuju ke pola pikir baru dengan memperhatikan keputusan strategik yang mencakup visi,  misi, tujuan dan sasaran dalam budaya organisasi formal kabinet, maka dibawah ini dirumuskan strategi sebagai landasan untuk merumuskan kebijaksanaan dan program perencanaan, proses dan transformasi atas pelaksanaan perubahan budaya sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Strategi mengelola kabinet berbasiskan budaya organisasi yang responsip artinya sikap dan perilaku yang selalu siap mengadaptasi setiap perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Strategi mengelola kabinet berbasiskan iklim organisasi yang kondunsif artinya organisasi dibangun dengan infrastruktur yang mendorong setiap orang memahami atas kehadirannya dalam organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Strategi mengelola kabinet berbasiskan pemanfaatan teknologi informasi kedalam pengetahuan dan pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Strategi mengelola kabinet berbasiskan perubahan berencana secara berkesinambungan.</p>
<p style="text-align:justify;">•	Strategi mengelola kabinet berbasiskan kepemimpinan kolaboratif dan good governance.</p>
<p style="text-align:justify;">KELIMA, sejalan dengan kesiapan untuk melaksanakan strategi-stratgi tersebut diatas, maka dalam proses kesiapan melaksanakan pola pikir baru diperlukan pula ksiapan dalam melaksankan hal-hal sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Membangun komitmen.<br />
•	Memimpin Perubahan.<br />
•	Mengkomunkasikan apa yang diinginkan dalam perubahan.<br />
•	Mengelola dan membangun partisipasi.<br />
•	Merumuskan prinsip dalam proses perubahan<br />
•	Merumuskan prinsip dalam proses transformasi.<br />
•	Merumuskan prinsip perbaikan erkelanjutan.</p>
<p>BUDAYA BERBANGSA BERNEGARA INDONESIA (B3I)<br />
Berdasarkan Ps. 32 UUD ‘45<br />
DIRUMUSKAN PELAKSANAAN DENGAN UNDANG2</p>
<p>LEGISLATIF                       EKSEKUTIF                    YUDIKATIF</p>
<p>KABINET</p>
<p>DEPARTEMEN / SETINGKAT</p>
<p>PROPINSI                           LEMBAGA                        BUMN</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=150&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/06/17/budaya-dalam-komunitas-berbangsa-dn-bernegara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EPEMIMPINAN ENTREPRENEUR DALAM MEWUJUDKAN PERTUMBUHAN YANG BERKELANJUTAN</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/04/13/epemimpinan-entrepreneur-dalam-mewujudkan-pertumbuhan-yang-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/04/13/epemimpinan-entrepreneur-dalam-mewujudkan-pertumbuhan-yang-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 03:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[BERKELANJUTAN]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR]]></category>
		<category><![CDATA[EPEMIMPINAN]]></category>
		<category><![CDATA[MEWUJUDKAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERTUMBUHAN]]></category>
		<category><![CDATA[YANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Sebaiknya setiap kepemimpinan entrepreneur harus belajar dari pengalaman perusahaan yang sukses meningkatkan pertumbuhan, mengapa yang terjadi saat ini perusahaan yang mengelola system teknologi informasi , cenderung mengalami penurunan pertumbuhan yang dapat berdampak atas daur hidup perusahaan yang terus membawa akibat ketidak pastian dalam usaha meningkatkan prtumbuhan.
Pengalaman telah menunjukkan suatu gambaran dari pengalaman perusahaan yang besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=147&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaiknya setiap kepemimpinan entrepreneur harus belajar dari pengalaman perusahaan yang sukses meningkatkan pertumbuhan, mengapa yang terjadi saat ini perusahaan yang mengelola system teknologi informasi , cenderung mengalami penurunan pertumbuhan yang dapat berdampak atas daur hidup perusahaan yang terus membawa akibat ketidak pastian dalam usaha meningkatkan prtumbuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman telah menunjukkan suatu gambaran dari pengalaman perusahaan yang besar dengan kehilangan pandangan atas strategi dan kebijaksanaan yang ditempuhnya, yang berdampak kemunduran sebagai akibat 1) Kurang mampu membuat keseimbangan kepentingan dari pada stakeholders sehingga eksploitasi waralabanya secara berlebihan demi kepentingan pemilik ; 2) Melakukan investasi dan perluasan dengan sangat berlebihan dan  tidak fokus pada pasar yang dituju, sehingga tidak mampu menghadapi pesaing dengan kekuatan keuangan yang kuat ; 3) Kurang memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keunggulan dalam pemilikannya sehingga dapat terjebak dalam system pengelolaan bisnisnya ; 4) Kurang memberikan perhatian yang terfokuskan dengan kepentingan pelanggan yang sejalan dengan tuntutan perubahan yang dikehendakinya dalam melaksanakan pemecahan secara menyeluruh ; 5) Ketidakmampuan dalam melaksanakan penelitian pasar dan fungsi produk baru yang berdampak sulit menghadapi pendatang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dalam melangkah diperlukan prinsip-prinsip dasar yang harus ditegakkan sebagai satu pendekatan pertumbuhan di satu sisi dan di sisi lain diperlukan kejelasan untuk meminimalkan resiko saat ini dan masa depan. Beberapa prinsip  yang harus ditegakkan adalah yang terkait dengan 1) Melaksanakan diversifikasi yang sejalan dalam usaha membagikan resiko ; 2) Melaksanakan pertubuhan yang sejalan dengan kebutuhan yang terkait dengan keseimbang kepentingan stakeholders ; 3) Secara jelas melaksanakan perluasan yang bersifat organik dan atau akuisisi atau keseimbangan dari dari keduanya ; 4) Membangun dan mengembangkan pengelolaan berbasiskan nilai yang lebih terarah dalam keseimbangan kepentingan stakeholders ; 5) Menumbuh-kembangkan kemampuan dalam melaksanakan pertumbuhan secara berkelanjutan ; 6)<br />
Mengamankan secara jelas kebiasaan yang produktif untuk melaksanakan pertumbuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan meletakkan landasan prinsip tersebut diatas, diharapkan usaha kepemimpinan entrepreunur dalam melaksanakan pertumbuhan yang berkelanjutan diperlukan suatu kekuatan dari pada pelaksanaan pengelolaan berbasiskan budaya organisasi yang dibangun untuk mengembangkan disiplin pertumbuhan yang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan 1) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan dalam kemampuan mempertahankan basis pelanggan perusahaan (strategi 1) ; 2) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan dalam meningkatkan pangsa pasar (strategi 2); 3) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan memposisikan pasar (strategi 3) ; Meletakkan pemikiran yang terfokus-kan pada penetrasi pasar (strategi 4) ; Meletakkan pemikiran yang terfokuskan untuk meraih pertumbuhan ke bidang bisnis baru (strategi 5).<span id="more-147"></span></p>
<p style="text-align:justify;">MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM PERTUMBUHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari strategi tersebut diatas sebagai disiplin untuk menumbuhkan suatu kebijaksanaan dalam kebiasaan yang produktif, diperlukan peningkatan ilmu sebagai informasi, pengetahuan sebagai keterampilan dari pengalaman dan keinginan sebagai landasan yang kuat untuk menyatukan pandangan sikap dan perilaku dalam bertindak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pola pikir diatas, maka semua peran-peran yang terlibat untuk melaksanakan strategi dan disiplin yang telah digariskan diharapkan menjadi daya dorong bagi setiap peran yang terlibat dalam pemikiran untuk melaksanakan perubahan dalam usaha meningkatkan pertumbuhan dua digit.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka diperlukan keinginan untuk menambah pengetahuan dari beberapa perusaahan yang berhasil meningkatkan pertumbuhan seperti Dell Computer, Oshkosh Truc, Biomet, Paychex, Mohawk Industries, Johnson Controls, dengan menjalankan strategis dan disiplin yang kita sebutkan diatas. Dengan belajar dari pengelaman perusahaan trsebut, kita harus mampu mencari ukura yang lebih tepat untuk mengukur pertumbuhan, apakah pendapatan dan laba bersih atau dari laba kotor ? Hal tersebut sudah tentu sangat berpengaruh dari sifat dan fungsi operasi perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang lbih menarik lagi, kita juga perlu belaar dari pengalaman perusahaan yang berbeda dalam menjalankan strategi dan disiplin dalam mencapai pertumbuhan. Dalam hal ini kita perlu mempelajari dari pengalaman seperti First Data Corporation, yang mengelola sebuah portfolio pertumbuhan yang berbeda. Dalam hal ini, ia mngembangkan metodologi empat hal yang menjadi dasar dalam merumuskan strategi, yang disebutnya adalah 1) Prioritas artinya ia mencoba merumuskan pertumbuhan lewat inovasi sebagai prioritas tertinggi. Bagi setiap peran harus bertangung jawab dengan pelaksanaanya, namun yang harus diperhatikan bahwa dengan kapasitas setiap peran memiliki terbatas, maka ia menggariskan tidak lebih dari tiga yang di fokoskan dalam pertumbuhan, sudah tentu bertolak dari kinerja operasi saat ini, bila ini harus dilakukan menjadi prioritas pertumbuhan dua digit, itu berarti ia memiliki dua prioritas lainnya. ;</p>
<p style="text-align:justify;">2) Persfektif artinya usaha untuk merumuskan tindakan bertitik tolak dari hasi analisis SWOT yang anda lakukan dimana anda akan menemukan sebuah kebenaran yang mendasar pada kinerja masa lalu bahwa kekuatan dan kelemahan perusahaan anda dn dimana energi harus difokuskan dalam mewujudkan pertumbuhan ;</p>
<p style="text-align:justify;">3) Sumber daya manusia, artinya keberhasilan merupakan faktor penentu dalam usaha melaksanakan pertumbuhan dengan tersedianya sumber daya manusia yang unggul, untuk itu diperlukan investasi yang signifikan pada pengembangan internal dan rekruitmen yang terarah dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi dalam menjalan peran yang sangat dibutuhan untuk melaksanakan pertumbuhan ;<br />
4) Perencanaan artinya menyiapkan rencana setiap unit akan menyeimbangkan portpolio pertumbuhan yang dimlikinya dengan cara yang berbeda sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi di masing-masing pasarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan merumuskan pemikiran diatas sebagai suatu strategi, yang digariskan oleh CEO-nya (Charlie Fote) dalam kurun waktu satu tahun ia telah menunjukkan kemampuan untuk melaksanakan strategi kedalam kebijaksanaan yang terarah menunjukkan hasil dalam satu tahun untuk merealisasikan pertumbuhan dua digit.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pengalaman model pikiran yang diterapkan diatas, dapat memberikan pelajaran, hal-hal yang berkaitan dengan 1) bagaimana pasar menggerakkan porpolio ; 2) bagaimana pasar yang tumbuh dengan cepat dapat mempengaruhi portpolio ; 3) bagaimana pasar yang tidak berkembang mempengaruhi portpolio ; 4) bagaimana tingkat kehilangan pelanggan pasar mempengaruhi portpolio</p>
<p style="text-align:justify;">MELAKSANAKAN DISIPLIN DALAM PERTUMBUHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Kpemimpinan entrepreneur harus mampu memberikan arahan pelaksanaan strategi kedalam disiplin sebagai langkah kebijaksanaan yang akan ditempuh dan memperhatikan prinsip-prinsip yang telah digariskan seperti uraian dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">Pertahankan pertumbuhan yang telah anda raih :</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu disadari bahwa kesetiaan hanyalah sebuah label, oleh karena itu tidak banyak yang dapat diramalkan dengan keterkaitan segmentasi pelanggan berdasarkan adanya suatu kesetiaan, sehingga perlu dipahami benar, apa yang menjadi dasar retensi yang mendasarkan pelanggan. Dalam hal ini, maka perlu menimbang setiap kemungkinan yang berhubungan dengan pensyaratan tertentu yang mereka miliki untuk masa kini dan masa depan dalam mengoptimalkan kepentingan pelanggan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, haruslah secera jelas merumuskan kebijaksanaan yang terkait dengan menghadapi retensi berbasiskan pelanggan yaitu yang terkait dengan kreteria nilai konsumen, mempersempit alternatif-alternatif pelanggan dalam memperkuat jasa yang mengikat, sesuaikan penawaran anda, mengantisipasi kepergian pelanggan, menyatu dengan pelanggan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rebut bisnis dari para pesaing anda :</p>
<p style="text-align:justify;">Secara umum untuk dapat merebut bisnis dari para pesaing, pada dasarnya terletak pada kemampuan yang unggul dibandingkan para pesaing, oleh karena itu untuk meraih pangsa pasar diperlukan seperangkat kebijaksanaan dari keputusan strategi yang telah ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, maka usaha meraih pangsa pasar diperlukan kejelasan dalam rumusan kebijaksanaan yang terkait dengan 1) Membangun keunggulan dan berusaha menumpulkan keunggulan pesaing ; 2) Bagaimana cara memberikan nilai yang jauh lebih baik dari pada [pesaing ; 3) Bila dianggap cara yang terbaik, maka bila perlu dengan membeli pangsa pasar sekaligus dengan memperhatikan kondisi yang terkait dengan a) premi harga di atas nilai dari bisnis ; b) Model operasi yang harus dalam pengelolaan jauh lebih baik ; c) Memiliki kemampuan ntuk mengintergrasikan dengan cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Muncul di tempat pertumbuhan akan terjadi :</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memiliki kemampuan yang didukung oleh peran-peran yang unggul, maka perlu untuk memfokuskan pada usaha menemukan pertumbuhan lebih awal, sejalan dengan pikiran tersebut dapat dilaksanakan dengan memperhatikan indikator dalam mewujudkan segmen-segmen yang terkait dengan :<br />
1) Pergesaran dalam kreteria pembelian karena masalah harga , mutu  ;<br />
2) Inovasi produk dan jasa dalam meningkatkan nilai ;<br />
3) Memperhatikan kecenderungan demografis.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan hal-hal yang disebutkan diatas, maka diperlukan suatu pemikiran untuk mengorganisasikan pencarian merupakan langkah untuk memposisikan pasar merupakan jalan keluar yang mana banyak perusahaan tidak mampu melakukannya dalam berkompetisi di segmn pasar yang buntu dan lambat pertumbuhannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, diperlukan keberanian dalam membuat keputusan untuk melaksanakan reposisi pasar bila ia bekerja dari awal untuk tidak terlambat dalam bertindak dengan alasan 1) anda mendapatkan manfaat dari memasuki sebuah segmen pasar yang sedang tumbuh dengan prporsi langsung terhadap bagian dari pasar yang anda memiliki kemampuan untuk mengendalikannya ; 2) secara bertahap anda dapat meningkatkan pangsa pasar dan memperhalus kemampuan dari model operasi sebelum potnsi dari segmen pasar tersebut dipahami secara luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyerang pasar-pasar yang berdekatan :</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melangkah mmasuki pasar-pasar yang berdekatan, maka diperlukan suatu pemikiran untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan 1) Haruskah anda memasuki pasar ini ? jawabnya terletak dari apakah memberikan pertumbuhan dan kemampuan menciptakan laba  jangka panjang ? ; 2) Dapatkah anda memenangkan pasar ini ? Apakah anda memiliki keunggulan di bandingkan dengan pesaing anda. ; 3) Dapatkah anda menyamai standar kompetisi dari pasar in ? Keunggulan strategis yang anda miliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menjawab ktiga pertanyaan diatas, maka jawabannya akan terletak pada apakah pasar tersebut menjanjikan ? Bila halnya demikian, maka pertumbuhan pasar berdekatan haruslah menunjukkan gambaran yang sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, haruslah benar-benar memahami lingkungan bisnis anda, agar keputusan yang diambil dalam menyerang pasar-pasar yang berdekatan mampu memberikan tingkat pertumbuhan yang berkelanjtan.</p>
<p style="text-align:justify;">Investasi pada bidang bisnis baru :</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melangkah mengambil keputusan nvestasi pada bidang bisnis baru adalah 1) Jangan membayar terlalu banyak untuk sebuah bidang bisnis baru ; 2) Untuk melaksanakan bidang bisnis baru diperlukan rumusan yang jelas suatu strategi yang sederhana ; 3) Memiliki kemampuan untuk bermitra dengan bidang bisnis anda yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dengan pemikiran diatas, maka melaksanakan investasi di bidang baru, perlu pula memahami keterampilan dalam 1) Melakukan identifikasi, evaluasi dan memilih  bidang  bisnis yang baru dan akuisisi yang potensial ; 2) Nilai dan stuktur dari pnawaran akuisisi ; 3) Memiliki kemampuan menggunakan keuangan, manajerial, dan pengendalian strategi atas bisnis yang diakuissi.</p>
<p style="text-align:justify;">PENUTUP</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan entrepreneur harus mampu memberikan arahan dalam mengelola portoflio anda untuk pertumbuhan dua digit, diperlukan keterampilan untuk menguraikan secara jelas bahwa lima disiplin yang telah kitan ungkapkan diatas, bukanlah dipandang sesuatu yang berdiri sendiri melainkan memandang lima strategi yang berbeda namun sebagai satu portofolio dari pilihan-pilahan yang saing berhubungan disatu sisi dan disisi lain harus mampu memperhatikan secara fokus yang terkait dengan resiko yang lbih kecil dengan pertumbuhan yang lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pikiran diatas, maka menilai resiko pertumbuhan harus mampu dalam menganalisa 1) resiko pertumbuhan ; 2) resko pesaing ; 3) resiko implementasi ; 4) resiko operasi. Oleh karena itu diperlukan kemampuan dalam keterampilan bakat dan sistem manajemen yang komprehensif dalam hal 1) menemui pasar ; 2) diversifikasi 3) menemuka bakat manajemen 4) mencari sistem manajemen baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan seperangkat keterampilan diatas, maka yang bersangkutan mampu untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut 1) Berapakah tingkat pertumbuhan dari setiap segmen di dalam pasar ? ; 2) Berapakah bagian bisnis kita dari setiap segmen ? 3) Berapa bagian dari setiap segmen yang kita kendalikan 4) Berapa jumlah kerugian yang di akibatkan oleh  bidangnya pelanggan elama priode tersebut ? 5) Berapah keuntungan yang di raih daripertumbuhan permintaan dari pelanggan pada awal priode ? 6) Berapakah keuntungan yang diraih dari pelanggan-pelangan baru dalam bisnis kita ?</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi diperlukan seperangkat pengetahuan sebagai ketrampilan yang mampu mendorong stiap peran pelaku dalam sebuah sistem untuk mengelola sebuah portofolio pertumbuan membutuhkan proses peninjauan, evaluasi dan diagnosis yan dapat mengarah ke predeksi yang akurat dan tindakan untuk perbaikan. Oleh karena itu agar proses tersebut dapat berjalan lancar harus di tetapkan sasaran yang dan dapat dibedakan untuk masing-masing disiplin pertumbuhan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=147&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/04/13/epemimpinan-entrepreneur-dalam-mewujudkan-pertumbuhan-yang-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEPEMIMPINAN ENTREPRENEUR YANG SUKSES BERBASISKAN JIWA TANPA TOPENG KEPALSUAN</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/kepemimpinan-entrepreneur-yang-sukses-berbasiskan-jiwa-tanpa-topeng-kepalsuan/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/kepemimpinan-entrepreneur-yang-sukses-berbasiskan-jiwa-tanpa-topeng-kepalsuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 09:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTREPRENEUR 42]]></category>
		<category><![CDATA[BERBASISKAN]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR]]></category>
		<category><![CDATA[JIWA]]></category>
		<category><![CDATA[KEPALSUAN]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[SUKSES]]></category>
		<category><![CDATA[TANPA]]></category>
		<category><![CDATA[TOPENG]]></category>
		<category><![CDATA[YANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Dunia tanpa batas telah menggambarkan gelombang perubahan yang serba komplek dan tidak ada kepastian, oleh karena itu, masa depan tantangannya bukan terletak dari keunggulan kompetitip melainkan keunggulan bisnis akan terletak seberapa jauh peran kepemimpinan mengungkit kedewasaan rohaniah dan sosial dijadikan landasan yang kuat  untuk membangun jiwa bisnis yang berbasiskan jiwa tanpa topeng kepalsuan.
Dengan pemikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=145&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia tanpa batas telah menggambarkan gelombang perubahan yang serba komplek dan tidak ada kepastian, oleh karena itu, masa depan tantangannya bukan terletak dari keunggulan kompetitip melainkan keunggulan bisnis akan terletak seberapa jauh peran kepemimpinan mengungkit kedewasaan rohaniah dan sosial dijadikan landasan yang kuat  untuk membangun jiwa bisnis yang berbasiskan jiwa tanpa topeng kepalsuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran tersebut diatas, maka kekuatan pemikiran intuitif menjadi faktor yang kuat untuk menuntun kedewasaan emosional dan intelektual, sehingga setiap peran kepemimpinan akan mendorong kearifan dalam berbisnis yang ditopang oleh kekuatan moral Jadi orang berbisnis tidak semata-mata keuntungan yang mutlak dengan tanpa memikirkan kepentingan orang banyak, maka disitulah terletak peluang berbisnis untuk mendapatkan kesempatan meningkatkan energi. Jadi merebut peluang masa depan menjadi fokus untuk memberikan daya dorong dalam menciptakan semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Semangat merupakan energi yang dapat memotivasi jiwa bisnis berbasiskan jiwa tanpa topeng kepalsuan artinya dengan jiwa membuka mata hati dalam meretas jalan menjadi kepribadian diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dalam menghadapi harapan baru di dunia bisnis yang sejalan dengan gelombang perubahan untuk memenuhi kebutuhan masa depan, perlu dipahami oleh kepemimpinan entrepreneur bahwa bahaya dan keberhasilan tumbuh dari dahan yang sama, mendorong peran kepemimpinan memikirkan untuk mencari penyelesaian agar semua orang menyadari bahwa obat sejati bagi pikiran adalah melepaskan diri dari kesadaran inderawi yang sangat mengagungkan sikap dan perilaku yang berbasiskan materistik, yang berdampak impian yang sirna dalam menanggapi gelombang kebutuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kita dapat membayangkan bahwa tidak melakukan kesalahan bukanlah kuasa manusia, mlainkan dari esalahannya, maka manusia bijak dan baik belajar tentang kearifan untuk masa depan artinya pentingnya perubahan pola pikir dari kesadaran inderawi menuju kesadaran yang rasional dalam mewujudkan “nilai-nilai bisnis dan komitmen pribadi” dalam rangka pencaharian diri manusia yang sejalan dengan tuntutan kebahagian sebahagian ketenteraman pribadi sebagai wujud dari kebahagian dari suatu usaha yang tmbul dari partiipasi dalam memenuhi sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dengan ungkapan pemikiran diatas, maka perubahan pola pikir yang bersandar inderawi menjadi pola pikir yang bersandar rasional, maka kepemimpinan entrepreneur harus mampu menunjukkan bahwa alam bisnis memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan kebahagian. Mereka mengetahui caranya, tetapi tidak mengetahui bagaimana menggunakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dari pengalaman manusia yang ingin berubah, diperlukan usaha-usaha membangun kebiasaan baru untuk mendorong semangat untuk memotivasi jiwa bisnis tanpa topeng kepalsuan artinya dengan jiwa membuka mata hati dalam meretas jalan menjadi kepribadian diri sendiri yang ditopang oleh pemahaman dimensi pengalaman manusia yang disebut dengan 1) unsur intelektual mewujudkan kebenaran ; 2) unsur estetis mewujudkan keindahan ; 3) unsur moral mewujudkan kebaikan ; 4) unsur spiritual mewujudkan keutuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari empat unsur tersebut diatas, maka peran kepemimpinan entrepreneur masa depan diharapkan dapat membangun perubahan dari pengalaman manusia menuju kepada terwujudnya keunggulan manusia.<span id="more-145"></span></p>
<p style="text-align:justify;">INTELEKTUAL MEWUJUDKAN KEBENARAN</p>
<p style="text-align:justify;">Dimensi intelektual dalam bisnis akan berdampak pada kekuatan pikiran mendorong setiap manusia untuk memanfaakan kemampuan intelektual dimana orang yang tahu akan kebenaran tidak sama dengan orang orang yang mencintai-nya dan orang yang mencintainya tidak sama dengan orang yang bersukacita di dalamnya artinya begitu berat untuk memahami kebenaran sebagai daya dorong dalam kegiatan bisnis. Bila hal itu dipahami secara benar, maka timbul pada kepertanyaan bagaimana kita dapat memperlakukan kebenaran itu ?</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, “kebenaran dan sikap menghargai” merupakan kunci keberhasilan anda mempengaruhi orang lain, maka anda akan lebih efektif membantu mereka untuk menjadi lebih baik daripada keadaan mereka sekarang, sehingga kebenaran adalah inti moralitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, maka “pengetahuan dan kebutuhan akan kebenaran” merupakan landasan dari kepercayaan kita, itu berati dalam bisnis, maka kepercayaan merupakan kunci untuk mendorong orang-orang yang bekerjasama dalam sebuah aktivitas bisnis saling menarug kepercayaan karena mereka semua bekerja berdasarkan norma-norma etis yang disepakati bersama, yang berdamak kepada biaya kegiatan yang mereka lakukan akan lebih sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kebenaran merupakan lambang kebaikan manusia yang sebenarnya, dan kebenaran adalah satu-satunya keabadian yang dianugerahkan kepada kefanaan manusia agar kita mempergunakannya sebagai prinsip kekuatan ganda artinya sepanjang sesuatu memiliki kekuatan untuk menjadi baik, ia juga memiliki kekuatan yang sama untuk menjadi jahat. Itulah yang saya sebut sebagai prinsip kekuatan ganda. Disini kita lebih banyak mempunyai kebebasan untuk menggunakan kekuatan itu. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa semakin besar kekuasaan semakin berbahaya penyalahgunaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran yang diungkapkan diatas, maka menjadi jelaslah untuk dapat memberikan daya dorong dalam pemahman yang lebih mendalam hal-hal yang terkait dengan makna pengetahuan dan kekuasaan agar setiap manusia menyadari sepenuhnya dalam mengaplikasikan  intelektual mewujudkan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebenaran dan kebohongan merupakan salah satu godaan yang paling besar adalah menghalalkan segala untuk mendapatkan hasil meskipun harus memanipulasi orang lain tanpa merasa malu. Jadi tidak ada manusia yang dikatakan bahagia jika ia terlempar ke luar dari kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya mereka juga memahami kehobongan dengan cepat menghancurkan apa yang dilakukan oleh si pembohong, sehingga menggugah orang untuk sadar dibawah bayangan dari ungkapan “sangat memuakkan bagiku, orang yang menyembunyikan sesuatu di hatinya, sedangkan mulutnya mengatakan hal yang lain”</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, perlu disadari bahwa kemampuan berbicara diberikan kepada manusia, bukan agar manusia bisa saling menipu, melainkan agar pikirannya saling diketahui, inilah suatu landasan kepercayaan, yang akan menunjukkan gambaran bahwa jujurlah kepada diri anda sendiri, seperti juga anda tidak berbohong kepada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekuatan ide sebagai keunggulan sejati sebagai keunggulan sejati menggambarkan semakin banyak investasi yang anda miliki dalam keyakinan anda semakin keras mengubahnya menjadi satu kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pmikiran diatas, maka perlu memberikan perhatian yang lebih difokus-kan dalam memahami makna keunggulan kedalam pemikiran apa yang disebut dengan 1) model keunggulan dalam kemenagan kompetitif ; 2) model keunggulan dalam usaha meningkatkan pertumbuhan komparatif ; 3) model keunggulan dalam usaha-usaha untuk membangun kekuatan kerjasama perkongsian</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai puncak keunggulan manusia, semangat untuk menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku bertolak dari aktualisasi kepemimpinan kolaboratif yang dapat memperoleh daya saing  tertinggi yang diinginkan bersama, sehingga alih pertentangan dengan cara berpikir kompetitif dan komparatif, cara berpikir kolaboratif akan mencapai hasil yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">ESTITIS MEWUJUDKAN KEINDAHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur estitis mewujudkan keindahan memberikan daya dorong dalam kerjasama tim untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan, dengan menekankan hal-hal yang terungkap dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur estitis dalam bisnis  merupakan landasan dalam mewujudkan nilai abadi yang kita sebut dengan keindahan, kebenaran, kebaikan dan keutuhan dimana keempat unsur nilai tersebut dapat menjadi daya dorong dalam keterkaitannya dengan peningkatan bisnis.<br />
Bertolak dari empat nilai tersebut diatas, dapat memotivasi melahirkan semangat baru yang mendorong menjadi keindahan di tempat kerja, itu berarti kejutan estitis untuk menunjukkan suatu gambaran bahwa dalam kehidupan bisnis tidak semata-mata melihat manusia secara intelektual dalam pandangan bahwa manusia sebagai mesin belaka, itulah satu kesalahan dalam melihat hubungan manusia dengan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi estitis dalam bisnis memberikan daya dorong sebagai seni bekerja untuk  dapat memahami keadaan pekerja yang sering menghadapi pekerjaan membosankan karena sifat rutinnya, maka diperlukan lingkungan yang menyenangkan dengan memberi pelatihan kerja sehingga dapat memotivasi betapa pentingnya membangun idealitas yang menerangi jalan saya dan secara terus menerus memberi saya keberanian baru dalam menghadapi hidup dengan penuh sukacita adalah kebenaran, kebaikan dan keindahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kreativitas dan makna hidup serta bertolak dari unsur estetis dalam bisnis yang didorong oleh usaha-usaha membangun keinginan aktif dapat mendorong untuk meningkatkan kekuatan pikiran dengan terus meningkatkan wawasan kehidupan yang dapat memberikan makna hidup melalui proses berpikir secara intuitif untuk mengungkit imajinasi sebagai pendorong untuk memahami makna segala sesuatu bukan terletak pada segala sesuatu itu sendiri, mlainkan pada sikap kita terhadap mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dengan menggerakkan kekuatan pikiran dengan penguasaan wawasan yang luas sangat memungkinkan mencari jawaban untuk mengungkit kemudahan dalam kehidupan untuk mendorong perubahan yang terarah dan memberikan makna atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pikiran-pikiran yang dikemukakan diatas, maka keindahan bisnis<br />
dapat mengilhami untuk membangun struktur bisnis yang dapat mendorong seni hdup yang baik dengan corak bisnis yang manusiawi dalam mewujudkan kebaikan manusia dalam kerangka kerjasama baru dalam keindahan bisnis.</p>
<p style="text-align:justify;">MORAL MEWUJUDKAN KEBAIKAN</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur moral dalam bisnis memberikan gambaran betapa pentingnya etika dalam berbisnis sehingga sikap dan perilaku akan menuntun orang-orang sehat secara spiritual dan menjalin hubungan sosial yang harmonis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan kekuatan etika yang harus dikembangkan, maka peran budaya organisasi juga menuntun moral dan tata krama yang dapat memberikan daya dorong rasa tanggung jawab sosial untuk mendukung hubungan antar manusia dalam mewujudkan kerja tim yang lebih baik yang secara tidak langsung akan tumbuh kebiasaan bagian terbaik dari kehidupan seorang yang baik adalah tindakan kecilnya yang tak terucap dan terkenang, yang penuh keramahan dan belas kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, maka upayakan dirimu untuk selalu berlaku sederhana, baik, murni, serius, terbebas dari kepura-puraan. Jadilah sahabat keadilan dan pemuja Tuhan yang mampu memotivasi untuk bersikap ramah dan penuh simpati. Jadilah pekerja keras untuk semua yang patut dlakukan. Berjuanglah untuk terus berharap bahwa moral mewujudkan kebaikan, maka disutulah letak hubungan menentukan dunia dimana bekerja sempurna dengan berbuat baik sejalan dengan etika perusahaan yang terus dimajukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi tantangan bagi kepemimpinan entrepreneur, seberapa jauh ia dapat memperlihatkan keteladanan yang mampu melampaui slogan-slogan untuk membangun bekerja sempurna dengan berbuat baik sesuai dengan tuntutan etika bisnis itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, wujud bertindak etis menjadi pendorong dalam membangun kearifan, kebajikan dan kekuatan bisnis masa depan dengan meletakkan landasan yang kuat apa yang desebut dengan 1) membentuk jaringan dengan para bijak ; 2) yang sering dilupakan oleh pemimpin untuk memperhatikan hal-hal kecil tapi begitu menentukan ; 3) harus secara terus menerus membangun dan mengembangkan imajinasi yang cerdas sebagai sarana yang bagus bagi kebaikan moral.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, kita akan belajar berbelas kasih, bersabar, mengampuni, bersimpati dan mengasihi sehingga wujud semua kebajikan yang tanpanya dunia kita tidak akan bertahan, oleh karena itu rasa setia kawan adalah sifat yang menakjubkan.sehingga mampu memperlihatkan gambaran utuh dalam pikiran membentuk kebesaran manusia. Jadi meskipun saya tidak harus berjalan di jalan lurus hanya karena sifat lurusnya, saya akan tetap mengikutinya karena berdasarkan pengalaman, jalan ni umumnya paling membahagiakan dan berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">SPRITUAL MEWUJUDKAN KEUTUHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur spiritual dalam pengalaman manusia mendapatkan puncak kutuhan sebagai landasan untuk memperoleh keunggulan jangka panjang yang harus dipertimbangkan para pelaku bisnis saat mereka berpikir dan berbicara tentang upaya memperkuat usaha pertumbuhan dalam daur hidup perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi unsur spritual dalam bisnis harus mampu mendorong kedalaman jiwa untuk membangun komitmen dalam keterikatan jiwa untuk mendorong manusia sudah menjadi satu keluarga dalam kerjasama tim sehingga kita tidak bisa memperjuangkan kesejahteraan kita sendiri tanpa usaha memikirkan kesejahteraan orang lain. Jika anda bahagia anda harus brupaya agar orang lain berbahagia juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari pikiran diatas, maka kebutuhan spiritual yang dirasakan manusia mencakup hal-hal yang terkait dengan 1) keunikan sebagai seorang individu ; 2) keutuhan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri ; 3) kemanfaatan bagi orang lain ; 4) pemahaman tentng kehidupan dan pekerjaan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran dalam keunikan dan keutuhan, maka perlu menaruh perhatian kepada setiap orang oleh perhatian, sehingga diharapkan lahir pemikiran bentuk-bentik bantuan khsusus yang harus diberikan agar tidak mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan individulitas terabaikan. Inilah parhatian dalam membangun kebutuhan untuk bersatu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam persatuan dan keragaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan unsur spiritual dapat mendorong lahirnya kebajikan sejati dan persatuan yang tepat dalam rangka kebersamaan dalam  nilai dan dorongan memotivasi untuk dapat</p>
<p style="text-align:justify;">memberikan nilai penting perasaan bermanfaat sebagai suatu kebutuhan yang dapat memberikan akan pemahaman secara kontetual yang dilakukan perusahaan, sehingga dengan penguasaan wawasan semakin besar pemahaman mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">PENUTUP</p>
<p style="text-align:justify;">Membangun keunggulan bisnis dengan bertolak dari suatu pemikiran bahwa keberhasilan berbisnis dengan kearifan yang beretika menuntut perubahan pola pikir yang harus dapat digerakkan oleh peran kepemimpinan entrepreneur dalam memberikan keteladanan dengan tekanan yang terkait dengan intelektual, estetis, moral dan spiritual.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat unsur tersebut dapat memberikan daya dorong yang kuat untuk mengungkit kekuatan pikiran dalam melakukan perubahan dalam memahami secara mendalam yang terkait usaha untuk mencapai kemenangan kompetitif dan pertumbuhan komparatif disatu sisisi dan disisi lain sejalan dengan pertumbuhan dunia tanpa batas menuntut adanya satu pemikiran untuk membangun dalam keunggulan yang disebut dengan perkongsian dalam bisnis untuk memanfaatkan keunggulan dalam bersinrgy.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian perlu kita tumbuh kembangkan menjadi suatu kebiasaan yang produktif bertolak dari pemikiran bahwa keunggulan bisnis adalah suatu bentuk keungulan manusia sebagai sumber daya yang sangat mnentukan dan selalu siap mengikuti gelombang perubahan yang sejalan dengan keunggulan yang dipelihara  oleh peran kepemimpinan entrepreneur dalam melakukan semuanya didukung dengan sebuah budaya yang menghargai dan menumbuh kembangkan keempat unsur yang disebut diatas</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=145&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/kepemimpinan-entrepreneur-yang-sukses-berbasiskan-jiwa-tanpa-topeng-kepalsuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ENTREPREUNER MENITI KEBAHAGIAN MELALUI BISNIS</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/entrepreuner-meniti-kebahagian-melalui-bisnis/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/entrepreuner-meniti-kebahagian-melalui-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 09:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTREPRENEUR 41]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPREUNER]]></category>
		<category><![CDATA[KEBAHAGIAN]]></category>
		<category><![CDATA[MELALUI]]></category>
		<category><![CDATA[MENITI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Meniti kebahagian melalui bisnis merupakan suatu cara membuka jalan kesuksesan untuk kepentingan stakeholders, oleh karena karena itu peran enytrepreneur untuk mengungkit aliran kekuatan pikiran untuk mengintergrasikan faktor-faktor sumber daya yang tersedia kedalam suatu rancangan untuk mengalirkan input kedalam proses menjadi output kebahagian yang hendak dicapai.
Oleh karena itu, selaku entrepreneur memulai merumuskan gambaran arah persfektif dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=142&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Meniti kebahagian melalui bisnis merupakan suatu cara membuka jalan kesuksesan untuk kepentingan stakeholders, oleh karena karena itu peran enytrepreneur untuk mengungkit aliran kekuatan pikiran untuk mengintergrasikan faktor-faktor sumber daya yang tersedia kedalam suatu rancangan untuk mengalirkan input kedalam proses menjadi output kebahagian yang hendak dicapai.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, selaku entrepreneur memulai merumuskan gambaran arah persfektif dalam berbisnis untuk meraih kebahagian bagi stakeholders yang bertolak dari wawasan dan imajinatif untuk mengungkit kekuatan pikiran kedalam kreativitas untuk mengalirkan sumber daya sebagai input kedalam proses menjadi output menjadi pertumbuhan terus menerus dalam daur hidup perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka proses dalam mengelola sumber daya sebagai input haruslah dipikirkan oleh entrepreneur kedalam kepemimpinan kolaboratif dalam wujud tempat kerja, struktur, budaya, tim dalam pelaksanaan dengan kerja sama agar kekuatan mengalirkan sumbr daya menjadi produktif dalam perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya untuk mengalirkan kekuatan pikiran menjadi entrepreneur yang sukses meniti kebahagian bergantung dari kejelasan dari keputusan strategic yang dituang kedalam visi, misi, tujuan, budaya, strategi sebagai gambaran jiwa bisnis masa depan, oleh karena itu pendekatan system dalam mewujudkan bisnis yang baik sebagai jalan kebahagian, lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut :<span id="more-142"></span></p>
<p style="text-align:justify;">MENGELOLA MENGALIRKAN INPUT KEDALAM WUJUD KEBAHAGIAN</p>
<p style="text-align:justify;">Merumuskan Keputusan strategic untuk memberikan arah masa depan :</p>
<p style="text-align:justify;">Mengalirkan input kedalam wujud kebahagian bertitik tolak dari suatu pemikiran untuk memberikan arah persfektif dengan merumuskan keputusan strategik yang mencakup visi, misi, tujuan, budaya, strategi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola sumber daya yang dapat merebut peluang berbisnis dalam meraih kebahagian haruslah didukung kepada pemikiran bagaimana caranya menciptakan kerjasama yang lebih baik, oleh karena itu diperlukan seperangkat kebijaksanaan sebagai pelaksanaan strategi yang dirumukan, yang akan mencakup pensyaratan meliputi hal-hal seperti : 1) Ada kejelasan komitmen yang menginsiperasikan hasil-hasil ; 2) adanya kejelasan konstribusi yang membuat perbedaan ; 3) adanya kejelasan kompetensi yang meningkatkan standar ; 4) adanya kejelasan komunikasi yag meningkatkan keefektifan ; 5) adanya kejelasan kepemimpinan kolaboratif yang menciptakan keharmonisan ; 6) adanya kejelasan kedalam usaha-usaha untuk meningkatkan hubungan pribadi ; 7) adanya kejelasan untuk menerapkan manajemen konflik ; 9) adanya kejelasan untuk menyatukan kesamaan pandangan dalam melaksanakan perubahan yang berencana ; 10) adanya kejelasan peranan komunitas melaksanakan keputusan strategic.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola input kedalam berbisnis untuk meraih kebahagian :</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu dipahami benar dalam mengelola input, disatu sisi paham benar proses diferensiasi yang terkait dengan tanggung jawab atas kelangsungan dan kesejahteraan hidup kita sendiri sebagai sesuatu sosok yang unik, disisi lain paham atas kemampuan untuk mengintergrasikan kedalam seluruh lingkungan internal dan eksternal. Jadi paham atas diferensiasi dan intergrasi tersebut memberikan peluang terbaik untuk mengembangkan kehidupan yang bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola input dalam beraktivitas untuk mencapai kebahagian</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola input dalam beraktivitas bisnis adalah tanggung jawan dan tantangan yang besar, oleh karena itu bisnis haruslah dipandang sebagai pekerjaan yang menyenangkan, maka disitu terletak makna dari menikmati sesuatu dalam mengelola input karena ada sesuatu dorongan yang menggerakkan kekuatan pikiran anda untuk mencapai kebahagian dimana tergambarkan, bagaimana rasanya berada dalam mengelola input, maka akan terdapat komponen yang harus dicermati secara baik yang menyangkut hal-hal sbb. :<br />
1) ada tujuan yang jelas, 2) ada umpan balik dating seketika, 3) keseimbangan antara peluang dan kemampuan, 4) tumbuhnya konsentrasi bertambah, 5) dalam mengelola input tersebut yang penting adalah saat sekarang, 6) dalam mengelola input tersebut tidak ada masalah dalam kontrol karena ada dalam system, 7) untuk setiap mengelola input akan kita hadapi berubahnya persepsi mengenai akan waktu, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> adanya kejelasan untuk berperan dalam mengelola input sehingga tidak dirasakan hilangnya ego karena terikat kedalam satu system.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan memahami hal-hal tersebut diatas, mendorong setiap individu dalam suatu organisasi formal, maka mereka akan terikat dalam sistem sehingga dapat menjawab mengapa mereka melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola input dalam pendalaman pertumbuhan</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengelolaan input akan memperlihatkan bagaimana aktivitas biasa dapat berubah menjadi yang komplek sejalan dengan waktu, oleh karena itu mengapa kita harus memperhatikan kompleksitas ? Karena dengan adanya kompleksitas akan mendorong perkembangan personal untuk meningkatkan kemampuan yang bersangkutan dalam menjalankan aktivitasnya sehingga dapat diharapkan perilaku yang produktif dan selalu bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertumbuhan kompleksitas melalui pengelolaan input dapat diungkapkan lebih lanjut sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">A. titik awal dengan tantangan dan kemampuan yang rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">B – C pada titik ini dengan kompleksitas lebih tinggi menuntut peningkatan keahlian<br />
C – D pada titik dengan tantangan yang tinggi berdampak kegelisahan, tapi juga harus<br />
siklus tersebut berlangsung berulang-ulang tanpa batas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemahaman pertumbuhan kompleksitas, mengapa kita harus memprhatikannya karena kita akan belajar dari peta pengalaman sehari-hari yang terkait dengan hubungan antara tantangan yang bergerak akan meningkat, maka mendorong untuk meningkatkan keahlian pula sejalan dengan peta pengalaman yang menggambarkan adanya situasi seperti apati, jenuh, relaksasi, khawatir, control, gelisah, waspada, terfokus, bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemahman dari pengalaman tersebut diatas, mendorong kita untuk lebih memahami hubungan aktivitas dengan kualitas pengalaman yang terkait dengan hubungan tantangan dengan keahlian yang dapat menggambarkan hal-hal yang terkait dengan situasi seperti kesepian, kerja, makan, masalah keluarga dan konflik dalam kerja, kerja, cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">MENGELOLA MENGALIRKAN PROSES INPUT DALAM PERUSAHAAN</p>
<p style="text-align:justify;">Yang sangat menentukan dalam mengubah input menjadi output melalui proses sebagai suatu aktivitas yang digerakan oleh peran tenaga kerja, oleh karena itu factor sumber daya manusia merupakan factor yang sangat menentukan tapi tidak berarti kita memahmi factor pendukung lainnya, dengan mngungkapkan halhal sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Membangun lingkungan kerja yang kondusif</p>
<p style="text-align:justify;">Lingkungan kerja yang kondusif akan mendorong setiap tenaga kerja harus mampu untuk menjalankan perannya dalam tugas, ini berarti menuju hidup yang lebih terarah yang sejalan  dengan perkembangan kompleksitas setia individu sebagai pekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam untuk memahami motivasi kerja orang dan beragam kerja sehingga kondisi lingkngan yang kondusif akan memberikan akses terhadap modal sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dengan mendalami hal-hal yang terkait dengan 1) memahami jenis pekerjaan yang tersedia ; 2) budaya kerja yang dapat mendorong orang membangun bersikap saling kebersamaan ; 3) berusaha untuk untuk menumbuhkan kesediaan yang timbul pada diri pekerja sendiri untuk dapat memberikan komitmen dalam pekerjaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka peran kepemimpinan sebagai entrepreneur yang ingin berhasil, maka perlu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan, apa yang harus terpikirkan mengenai  1) kondisi tempat kerja yang kondusif secara objektif dimana tempat kerja yang menarik ; 2) menemukan suatu cara untuk memberikan makna dan nilai pada pekerjaan ; 3) membangun kepuasan bagi pekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengembangkan pelaksanaan proses input dalam perusahaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan perkembangan kondisi kerja yang berubah dan berubahnya makna serta nilai-nilai kerja diperlkan perhatian untuk mengembangkan pelaksanaan proses input dalam perusahaan agar setiap individu ditempat kerja yang harus mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, setiap individu harus mampu mnunjukkan perubahan sikap dan perilaku yang sejalan dengan tuntunan pelaksanaan proses input dalam perusahaan agar masih mampu meningkatkan pertumbuhan dalam kompleksitas di tempat kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memberikan perhatian bahwa pentingnya mengembangkan pelaksanaan proses input dalam perusahaan itu berarti peran kepemimpinan sebagai entrepreneur memahami benar bagaimana caranya mengadakan pendekatan untuk mengontrol modal psikologis yang dimiliki oleh setiap pegawai melalui pengakuan yang jelas terhadap keterkaitan antara kinerja dengan sikap sehingga dapat menuntun mereka secara terus menerus dalam kebersamaan yang sejalan dengan budaya perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">MENGELOLA OUTPUT SEBAGAI WUJUD KEBAHAGIAN</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemikiran atas kemampuan mengelola input dan mengelola proses untuk mewujudkan output sebagai kebahagian dari peran kepemimpinan entrepreneur bergantung kepada seberapa jauh ia mampu untuk mengkomunikasikan keputusan strategik yang dirumukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan keputusan strategik (visi, misi, tujuan, budaya, strategi) harus mampu dijabarkan kedalam arah posisi masa depan dan kinerja yang diharapkan dapat dicapai dengan terus menerus membangkitkan peran sumber daya manusia agar tumbuh komitmen yang dating dari diri yang bersangkutan dngan jalan mengungkit pemikiran sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Membangkitkan jiwa bisnis</p>
<p style="text-align:justify;">Menuju keberhasilan adalah suatu wujud kerjasama membuat impian menjadi kenyataan sangat bergantung kemampuan kepemimpinan entrepreur yang mampu menumbuh kembangkan jiwa bisnis dari para individu dalam menciptakan organisasi kewirausahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, menanamkan jiwa bisnis adalah kunci keberhasilan karena ia merupakan manifstasi dari kompleksitas yang dicapai oleh system saraf manusia. Jadi mengelola output sebagai suatu system yang memiliki jiwa yang dapat memberikan energi kedalam sub-sistem sehingga melahirkan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, bila tertanamkan jiwa bisnis berarti kepemimpinan entrepreneur telah memfokuskan dalam kerja dan sedemikian efektif mengedepankan keputusan strategik dapat diwujudkan dari kerjasama yang dapat menyentuh jiwa dan  kebutuhan dalam usaha bersama mencapai kebahagian.</p>
<p style="text-align:justify;">Menciptakan output dalam hidup</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemahaman jiwa bisnis, maka perlu diciptakan secara terus menerus untuk mengalirkan impian dalam hidup untuk menjadi entrepreneur dan oleh karena itu kemampuan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam prioritas-prioritas yang hendak dilakukan yang dapat memberikan daya dorong kedalam keyakinan dalam mewujudkan impian dengan menunjukkan tujuan utama yang akan dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka anda akan mampu menjawab hal-hal yang dapat memotivasi kekuatan pikiran mengenai kejelasan 1) siapakah anda ? ; 2) kemampuan menciptakan peluang ; 3) kemampuan menciptakan tempat yang tepat bagi anda ; 3) kemampuan menguasai kesadaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengungkit hal-hal yang kita kemukakan diatas, maka jawabannya terletak dari usaha anda untuk membangun kebiasaan yang produktif dalam arti memahami makna ilmu sebagai informasi, pengetahuan sebagai keterampilan dan keinginan, dengan kebiasaan tersebut setiap orang menjadi mampu menciptakan output dalam hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisnis merupakan output dalam hidup masa depan</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali anda membuat keputusan dan memiliki keyakinan diri dalam hidup masa depan untuk melakukan bisnis berarti anda mampu menjawab “akankah bisnis bertahan?”. Aktivitas bisnis akan terus hidup dan terus berkembang dengan model investasi yang dilakukan oleh penanam modal. Kompleksitas bisnis terus berkembang sejalan dalam meningkatnya kekuatan ekonomi yang mempengaruhi sikap stakeholders.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan gelombang perubahan yang komplek dan cepat dan kepemimpinan entrepreneur harus mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan, tetapi yang menjadi masalah dalam hal ini akan terkait dengan “dapatkah dipertahankan prinsip-prinsip bisnis yang baik ?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana beroperasinya bisnis yang baik” sangat bergantung setiap pelaku dalam bisnis yang berusaha memberikan nilai tambah bagi stakeholders. Wujudnya ditentukan oleh sikap dan perilaku dari stakholders untuk membangun keseimbangan kepentingan.</p>
<p style="text-align:justify;">PENUTUP</p>
<p style="text-align:justify;">Peran kepmimpinan entrepreneur untuk menciptakan kerjasama membuat impian menjadi kenyataan dalam mewujudkan bisnis sebagai jalan kebahagian, dengan merumuskan kemampuan menglola input kedalam proses menjadi output dengan menumbuhkan secara berkelanjutan jiwa bisnis untuk mengungkit kekuatan pikiran dalam bersikap dalam menmbuhkan kebiasaan yang produktif yang bertolak dari pemikiran yang memberikan fokus peran sumber daya manusia yang sangat menentukan agar mampu melihat masa depan bisnis akan terus berjalan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=142&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/entrepreuner-meniti-kebahagian-melalui-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMAHAMAN KONSEP PERSFEKTIF MANAJEMEN DALAM WAWASAN ENTREPRENEUR</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/pemahaman-konsep-persfektif-manajemen-dalam-wawasan-entrepreneur/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/pemahaman-konsep-persfektif-manajemen-dalam-wawasan-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 09:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTREPRENEUR 40]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR]]></category>
		<category><![CDATA[KONSEP]]></category>
		<category><![CDATA[PEMAHAMAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERSFEKTIF. MANAJEMEN]]></category>
		<category><![CDATA[WAWASAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen membicarakan seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=140&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen membicarakan seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis untuk melihat segala sesuatu di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjadi seorang entrepreneur yang sukses dalam arti kemampuan yang bersangkutan untuk terus mengelelola daur hidup perusahaan yang perima, disamping terus dapat bertahan, tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, maka diperlukan kemampuan berkir jangka panjang yang bertolak dari usaha menggerakkan kekuatan berpikir secara intuitif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan penguasaan wawasan entrepreneur yang bersangkutan diharapkan memiliki keterampilan merumuskan lompatan-lompatan strategis untuk dapat memandang arah jangka panjang, oleh karena itu kemampuan berpikir strategis merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan, tanpa kemampuan itu sangat sulitlah ia menerapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan, jadi tidak heran banyak pemimpin menguasai informasi tapi ia tidak mampu memanfaat informasi menjadi berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka kepemimpinan entrepreneur masa depan sangat ditentukan kemampuannya untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif artinya ia memiliki kemampuan mengungkapkan situasi dalam gelombang perubahan karena perubahan akan selalu ada dimana-mana sehingga pemahaman yang mendalam memanfaatkan otak dan hati dalam mewujudkan antisipasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Entrepreneur berwawasan yang mampu menggerakkan kekuatan berpikir  dalam melahirkan ide-ide baru sebagai langkah untuk membangkitkan kekuatan kreatifitas dari mimpi menjadi sesuatu yang dapat meletakkan landasan yang kuat dalam merumuskan antsipasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Antisipasi adalah keterampilan baru untuk menggerakkan kemampuan yang terkait dalam pemikiran analisis strategis dimana ia mampu mengungkapkan segala sesuatu yang belum terjadi. Inilah keterampilan yang sangat perlu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi entrepreneur berwawasan akan mampu menggerakkan kekuatan kemungkinan berpikir intuitif dengan mengungkapkan persfektif dari hasil analisis strategis sebagai satu usaha untuk meramalkan sesuatu yang harus dihindari dimasa depan, maka dengan melaksanakan manajemen yang benar diharapkan kita mampu untuk menciptakan peluang-peluang dalam masa ketidak pastian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, mendorong entrepreneur berwawasan untuk kembali memikikan konsep manajemen persfektif sebagai kemungkinan berpikir untuk mendorong pemahaman mengenai persfektif, manajemen dan manajemen persfektif dengan pendekatan dari penguraian huruf dari kata menjadi kata yang bermakna.<span id="more-140"></span></p>
<p style="text-align:justify;">PERSFEKTIF DARI SISI HURUF MENJADI KATA BERMAKNA</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengungkit kekuatan kemungkinan berpikir melalui alat pikir dari kesadaran, kecerdasan dan akal dalam proses berimajinasi terhadap suatu situasi, maka diperlukan pendekatan untuk mengerakkannya, dalam hal ini bagi seorang entreprenaur berwawasan memanfaatkan apa yang disebut pendekatan  dari huruf dalam kata persfektif , bila kita uraikan maka setiap huruf akan menjadi satu kata yang bermakna yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">P  menjadi kata Perencanaan<br />
E menjadi kata Esensi<br />
R menjadi kata Relokasi<br />
S menjadi kata Sumber daya<br />
F menjadi kata Faktor<br />
E menjadi kata Ekonomi<br />
K menjadi kata Keterampilan<br />
T menjadi kata Teknologi<br />
I menjadi kata Informasi<br />
F menjadi kata Fondasi</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menguraikan huruf menjadi kata yang bermakna diatas, maka kita dapat pula merumuskan makna kata Persfektif sebagai sesuatu wawasan kemungkinan berpikir sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">PERSFEKTIF adalah PERENCANAAN analisis strategi sebagai ESENSI merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan RELOKASI terhadap SUMBER-DAYA sebagai satu FAKTOR penentu EKONOMI keberhasilan dengan memanfaatkan KETERAMPILAN dalam TEKNOLOGI dan INFORMASI  sebagai FONDASI dalam mewujudkan keputusan strategik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman kata persfektif yang dirumuskan diatas diharapkan akan menjadi alat pendorong sikap dan perilaku agar semua rumusan dalam kerangka berpikir ANTISIPATIF mampu meramalkan keputusan strategik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemanfaatan otak dan hati dalam kerangka kemampuan berpikir antisifatif dengan menggerakkan kompetensi agar komponen memahami apa yang dapat mempengaruhi, cara berpikir yang dalam mencari jawaban lebih dari satu arah, lebih terfokuskan, mampu menggambarkan jalan yang akan ditempuh, maka keseluruhan proses berpikir itu disebut analisis strategis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi merumuskan persfektif akan memberikan hasil yang memuaskan bilamana kompetensi untuk membuat satu analisa strategis dipenuhi sehingga informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai langkah untuk membuat antisipasi yang lebih terarah, terpadu dan kompeherensip.</p>
<p style="text-align:justify;">MANAJEMEN DARI SISI HURUF MENJADI<br />
KATA BERMAKNA</p>
<p style="text-align:justify;">Kata manajemen terdiri dari beberapa huruf, bila kita uraikan dari huruf menjadi kata bermakna, akan memberikan petunjuk kedalam operasionalnya artinya bagaimana anda menerapkannya dalam pelaksanaan. Jadi huruf dalam kata manajemen dapat diuraikan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">M menjadi kata Mengelola<br />
A menjadi kata Aktiva<br />
N menjadi kata Nilai tambah<br />
A menjadi kata Akseptasi<br />
J menjadi kata Jaminan<br />
E menjadi kata Ekuitas<br />
M menjadi kata Masa depan<br />
E menjadi kata Emisi<br />
N menjadi kata Naik</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menguraikan huruf menjadi kata bermakna diatas, maka kita dapat pula merumuskan manajemen dari sisi huruf menjadi kata bermakna sbb.:</p>
<p style="text-align:justify;">MANAJEMEN adalah Kemampuan dalam MENGELOLA penggunaan sumber daya yang tercantum sebagai AKTIVA untuk mewujudkan NILAI TAMBAH ekonomis ( economic value added) menjadi AKSEPTASI untuk memberikan JAMINAN atas EKUITAS yang ditanam sebagai EMISI akan NAIK sejalan dengan pertumbuhan usaha.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman manajemen yang dikemukakan diatas mendjadi satu kekuatan bagi pemimpin bertanggung jawab dalam menjamin pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian menjadi peluang.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi manajemen haruslah dipandang bukan saja dalam arti abstrak tetapi juga dipandang dari konkrit artinya manajemen sebagai keterampilan membutuhkan kompetensi tertentu. Dengan keterampilan itu bagi pemimpin akan selalu mampu menggerakkan sumber daya manusia untuk dapat memaksimumkan sumber daya yang lain dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p style="text-align:justify;">Keterampilan tertentu tersebut harus dikembangkan menjadi kompetensi dalam manajerial, organisasi, teknik dan informasi sehingga manajemen dapat dipahami dalam arti praktis yang dapat diaktualisasikan kedalam sikap dan perilaku yang bersifat yang proaktif</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap dan perilaku proaktif akan mampu mendorong kemampuan dalam kompetensi tertentu dengan memanfaatkan manajemen dari kebiasaan memecahkan masalah menjadi menghindari masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">PERSFEKTIF MANAJEMEN  (P.M.)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bagian terdahulu telah diutarakan pemahaman secara umum dan dari sisi huruf menjadi kata yang bermakna atas persfektif dan manajemen, maka bila kedua kata itu disatukan menjadi persfektif manajemen berarti kita melihat dari sisi bagaimana seharusnya ia diaplikasikan menjadi kenyataan dalam praktek.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemahaman itu, maka aplikasi PERSFEKTIF MANAJEMEN disini kita maksudkan adalah penguasaan seperangkat pengetahuan dan keterampilan  yang dapat  memberi kekuatan kepemimpinan dalam mewujudkan keinginan agar dapat memberikan motivasi dalam menciptakan keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengetahuan, keterampilan dan keinginan tersebut harus ditumbuh kembangkan menjadi suatu kebiasaan yang produktif untuk mendukung kemampuan dalam pemikiran strategis, jangka panjang dan pendek dalam organisasi dan menjadi pendorong lahirnya kompetensi manajerial, teknik, informasi dan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan-kemampuan tersebut harsulah dapat dipandang sebagai satu kebiasaan yang produktif yang menunjukkan kekuatan-kekuatan dan atau kelemahan-kelemahan artinya dari sisi kekuatan-kekuatan akan berdampak mendukung keberhasilan persfektif, posisi dan performa, sebaliknya dari sisi kelemahan-kelemahan akan menghambat keberhasilan.</p>
<p style="text-align:justify;">KEMAMPUAN DALAM KOMPETENSI MANAJERIAL</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tingkat eksekutip akan ditunjukkan kemampuan manajerial yang kuat dan terbangun dari kebiasaan yang efektif yang tumbuh dari pengalaman dan pengembangan bakat yang tersembunyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kemampuannya para eksekutip mengarahkan organisasi melalui kondisi lingkungan yang dinamik. Para eksekutip pembuat keputusan tingkat atas dengan melaksanakan penelitian strategis akan menghasilkan antisipasi dengan baik pula dari kemampuan mengidentifikasi situasi, merumuskan masalah (strategik, pokok dan insidentil), menyeleksi serta membuat solusi penyelesaian secara tepat dan benar yang ditunjukkan dalam membuat pilihan-pilihan strategi yang sempurna di dalam  berbagai kondisi diatas lingkungan yang beragam dan komplek adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pada peringkat manajemen menengah dimana kemampuan akan manejerialnya lebih terfokuskan kedalam kegiatan untuk menterjemahkan keputusan strategik agar dapat dilaksanakan. Sebaliknya pada kemampuan manajerial operasional dapat membantu mengaktualisasikan seluruh strategi organisasi di dalam jangka pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">KEMAMPUAN DALAM KOMPETENSI TEKNIK</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan teknik dapat memperkuat dan atau memperlemah pencapaian keputusan strategik dalam lingkungan tugasnya yang terletak di dalam area-area teknologi produk baru, teknologi proses, teknologi pendukung operasi serta manajemen sumber daya manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Operasi yang mendukung teknologi adalah teknik-teknik, prosedur-prosedur dan sistem-sistem yang dimiliki oleh organisasi yang secara langsung dapat menyokong teknologi produk dan proses yang mampu meningkatkan kemampuan untuk bersaing.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berbagai teknik-tenik dan sistem-sistem mampu mentranformasikan informasi dengan kecepatan tinggi keluar. Begitu pula teknologi dukungan seperti teknik pengolahan pesanan, sistem logistik dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">KEMAMPUAN DALAM KOMPETENSI INFORMASI</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan informasi dapat membantu organisasi memasuki persaingan secara efektif di dalam pasar-pasar produknya yang disebut dengan kemampuan informasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memiliki kemampuan yang berhubungan dengan informasi luar mengenai lingkungan perusahaan, pasar dan pesaingnya, akan memberikan keuntungan lebih dari yang lainnya sehingga bagi organisasi yang memiliki kemampuan informasional tersebut mudah memasuki ekonomi dunia tanpa batas dan mampu menciptakan peluang dari ketidak pastian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan informasional termasuk sistem imformasi manajemen untuk mendukung komunikasi antar unit kerja menjadi efektif dan efesien karena dapat mengurangi kesalahan dan dapat tanggap atas perubahan lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">KEMAMPUAN DALAM KOMPETENSI ORGANISASI</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan dalam mendayagunakan peran-peran keorganisasian dalam merumuskan kerja, jabatan atau kedudukan, peran, pekerjaan, fungsi dan tugas akan mendukung terciptanya suatu pengorganisasian yang fleksibel dan mudah dikontrol.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kemampuan itu pula dapat memberikan daya dorong untuk supaya mudah memotivasi dan efektivitas peran dalam mengoptimalkan potensi karyawan. Sejalan dengan itu memungkinkan untuk membangun hubungan horizontal, vertical dan diagonal dalam mewujudkan keharmonisan dan koordinasi dalam pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Memiliki kemampuan untuk menggerakkan dan menumbuhkan partisipasi serta komitmen dalam organisasi untuk setiap perubahan, oleh karena itu diperlukan persyaratan terciptanya iklim organisasi yang sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan terciptanya iklim organisasi yang sehat berarti ditopang oleh „budaya organisasi yang diformalkan“ yang dapat menuntun sikap dan perilaku dari setiap warga organisasi Jadi budaya organisasi yang diformalkan berarti ada kejelasan yang terkait dengan nilai, norma, wewenang dan ganjar, sebagai pedoman yang dapat diterima oleh semua pihak dalam organisasi disatu sisi dan disisi lain diperlukan pula hal-ha yang terkait dengan transparan dan tanggung jawab sosial</p>
<p style="text-align:justify;">PENUTUP</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendukung pemahaman persfektif manajemen agar dapat diaplikasikan kedalam suatu organisasi yang efektif dan mudah dikontrol dibutuhkan kesungguhan untuk membangun kebiasaan yang produktif artinya diperlukan peningkatan yang berkelanjutan atas pengetahuan yang diperoleh dari informasi, keterampilan yang diperoleh dari pengalaman dan keinginan yang sejalan dengan sikap dan perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan</p>
<p style="text-align:justify;">Maka seperangkat kebiasaan yang produktif menjadikan pondasi yang selalu ditumbuh kembangkan sebagai usaha-usaha pengembangan sumber daya manusia agar ia selalu siap beradaptasi terhadap gelombang perubahan yang terus bergerak tanpa berakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran itu maka diperlukan pilar-pilar sebagai tonggak untuk menahan setiap perubahan artinya selalu siap menghindari masalah, sehingga ia mampu berpikir, bekerja dan belajar sebagai tonggak perjalanan hidupnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=140&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2009/01/26/pemahaman-konsep-persfektif-manajemen-dalam-wawasan-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAWASAN ENTREPRENEUR DALAM  PERSFEKTIF MANAJEMEN MEMASUKI MASYARAKAT PENGETAHUAN</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/12/21/wawasan-entrepreneur-dalam-persfektif-manajemen-memasuki-masyarakat-pengetahuan/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/12/21/wawasan-entrepreneur-dalam-persfektif-manajemen-memasuki-masyarakat-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 13:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTREPRENEUR 39]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
 
Sejalan dengan pemikiran untuk meningkatkan kebiasaan yang produktif, diperlukan peningkatan wawasan entrepreneur dalam menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=136&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">LATAR BELAKANG PEMIKIRAN</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Sejalan dengan pemikiran untuk meningkatkan kebiasaan yang produktif, diperlukan peningkatan wawasan entrepreneur dalam menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat pengetahuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebagai jawabannya, tulisan ini kami susun sejalan dari hasil renungan untuk mengendalikan dorongan hati dalam memikirkan hal-hal yang sedang kita hadapi, dalam sikap (suasana mengkomunikasikan suara hati ini), sejenak memikirkan untuk menempatkan hal-hal tersebut dalam persfektif yang diyakini kedalam pemahaman atas paradigma abad baru, manusia seutuh, dan kebiasaan yang produktif.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk dapat mendengarkan intuisi kami dan mengutarakannya dari huruf menjadi kata-kata yang bermakna menjadi untaian kata paradigma abad baru, manusia seutuh dan kebiasaan produktif.<span id="more-136"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE">PARADIGMA ABAD BARU</span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Untuk memahami makna “Pardigma Abad Baru “, disimpulkan melalui pendekatan penguraian kata menjadi : </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">P menjadi Penomena<span> </span>A menjadi Analisis</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Alamiah<span> </span>B menjadi Batasan-batasan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">R menjadi Reformasi<span> </span>A menjadi Aturan </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Angkatan kerja<span> </span>D menjadi Dilaksanakan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">D menjadi Dimensi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">I<span> </span>menjadi Indikasi<span> </span>B menjadi Berorientasi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">G menjadi Gejala<span> </span>A menjadi Amanat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">M menjadi Mempengaruhi<span> </span>R menjadi Responsip</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi aktivitas<span> </span>U menjadi universal</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila huruf diatas menjadi kata bermakna dan dirumuskan menjadi untaian kalimat, maka dapat dirumukan makknanya menjadi :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">PARADIGMA adalah gambaran PENOMENA<span> </span>yang terjadi secara ALAMIAH yang perlu dipikirkan kedalam REFORMASI untuk menghindari dampak kepada ANGKATAN KERJA yang menyesuaikan dengan DIMENSI yang menunjukkan INDIKASI terhadap GEJALA<span> </span>yang akan mempengaruhi AKTIVITAS masa depan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">ABAD adalah suatu ANALISIS yang merumuskan BATASAN-BATASAN<span> </span>sebagai ATURAN<span> </span>yang harus berubah untuk DILAKSANAKAN sesuai dengan tuntutan zaman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">BARU adalah tindakan yang harus BERORIENTASI<span> </span>kepada AMANAT dalam bersikap RESPONSIP karena akan berlaku secara UNIVERSAL.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU">MANUSIA SEUTUH- nya </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Untuk memahami makna “Manusia Seutuh “, disimpulkan melalui pendekatan penguraian kata menjadi : </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">M menjadi Mahkluk<span> </span>S menjadi Sikap<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Aktivitas<span> </span>E menjadi Emberio</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">N menjadi Naluri<span> </span>U menjadi Ummat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">U menjadi Usaha<span> </span>T menjadi Tuhan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">S menjadi Seimbang<span> </span><span> </span>U menjadi Usaha</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">I<span> </span>menjadi Intelektual<span> </span>H menjadi Hijerah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Agama</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila huruf menjadi kata bermakna dan dirumuskan menjadi untaian kalimat sebagai berikut :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">MANUSIA adalah MAHKLUK dalam perjalanan hidupnya akan selalalu memiliki AKTIVITAS yang digerakkan oleh NALURI dalam USAHA mencari KESEIMBANGAN antara INTELEKTUAL dan AGAMA yang dianutnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">SEUTUH adalah gambaran SIKAP dari suatu EMBERIO sebagai UMMAT yang mengakui keberadaan TUHAN dalam USAHA-nya untuk melaksanakan HIJERAH dalam menuju kesempurnaan yang diridhoi oleh yang maha kuasa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<h1 style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">KEBIASAAN PRODUKTIF</span></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Untuk memahami makna “Kebisaan Produktif“, disimpulkan melalui pendekatan penguraian kata menjadi : </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">K menjadi Kepribadian<span> </span>P menjadi Profesional</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">E menjadi Etika<span> </span><span> </span>R menjadi Rasional</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">B menjadi Berpikir<span> </span>O menjadi Otak</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">I<span> </span>menjadi Intuisi<span> </span>D menjadi Dimensi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Akal<span> </span>U menjadi Ukuran</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">S menjadi Sarana<span> </span>K menjadi Keberhasilan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">A menjadi Amalan<span> </span>T<span> </span>menjadi Tindakan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span style="font-family:Times New Roman;">N menjadi Nalar<span> </span>I<span> </span>menjadi Individual</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-AU"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;" lang="DE">F<span> </span>menjadi Falsafah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila huruf menjadi kata bermakna dan dirumuskan menjadi untaian kalimat sebagai berikut :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">KEBIASAAN adalah KEPRIBADIAN berlandaskan ETIKA yang menjadi kekuatan BERPIKIR secara INTUISI (hasil kerja hati) yang diputuskan oleh AKAL sebagai suatu SARANA dalam mewujudkan AMALAN dari kemampuan NALAR yang dipikirkan secara mendalam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">PRODUKTIF adalah Berpikir secara PROFESIONAL kedalam proses yang RASIONAL dengan memanfaatkan OTAK yang memiliki DIMENSI (sisi otak kiri atas, sisi otak kanan atas, sisi otak bawah sadar) untuk merumuskan UKURAN (efisien, efektif, berkualitas) dalam mencapai KEBERHASILAN dari TINDAKAN yang dilakukan secara INDIVIDUAL sebagai FALSAFAH dalam menjalankan hidup ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<h1 style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">PERSFEKTIF MANAJEMEN</span></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertitik tolak dari pemikiran kami diatas, kami sampai pada suatu kesimpulan dalam perjalanan hidup ini bahwa hari ini kami melepaskan pengelaman yang berdampak menyakitkan diri ini dan memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam proses perubahan kami.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan mengungkapkan pengalaman masa lalu, dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, menatap ke masa depan sebagai kerangka berpikir untuk memahami dan menghayati makna hurup menjadi kata bermakna kedalam untaian kalimat :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">“MENGHADAPI PARADIGMA ABAD BARU DENGAN MANUSIA SEUTUHNYA MELALUI KEBIASAAN YANG PRODUKTIF DALAM PERSFEKTIF MANAJEMEN MENUJU KESIAPAN MASYARAKAT PENGETAHUAN”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Untaian kamimat tersebut sebagai kerangka yang dituangkan kedalam suatu MODEL BERPIKIR yang akan menuntun kami menulisnya sebagai sesuatu yang terlihat dalam ketakutan dan hidup dalam pengharapan yang mengarah kepada kehidupan untuk berpikir, bekerja dan belajar sepanjang perjalan hidup ini dalam menghadapi tntangan ABAD 21.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<h1 style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">KESIMPULAN</span></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertitik tolak dari pemikirn diatas dalam kerangka kesiapan untuk memasuki masyarakat pengetahuan tulisan ini akan mnguraikan dalam 14 judul yang disusun berdasarkan pendekatan sistem dengan mengungkapkan uraian sebagai berikut :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari sisi INPUT : Dengan penguasaan wawasn dan imajinasi yang dijabarkan kedalam pemikiran INTUISI yang mengarah pada PERSFEKTIF ; pemikiran RENCANA JANGKA PANJANG yang mengarah pada POSISI ; pemikiran RENCANA JANGKA PENDEK yang mengarh pada KINERJA dalam merumuskan faktor produksi dan intelektual sebagai input melalui pemahaman atas : 1. Konsep ; 2. Tantangan ; 3. Strategi ; 4. Otak ; 5. Kepemimpinan ; 6. Daur hidup ; 7.Budaya ; 8. Perubahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari sisi PROSES : Mengelola faktor produksi dan intelektual melalui penguasaan dan keterampilan atas 9. Organisasi ; 10.Pembelajaran ; 11. Sumber daya manusia ; 12. Pengetahuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari sisi OUTPUT : Mengelola hasil yang hendak dicapai dengan berdasarkan inovasi sendiri dengan penguasaan 13. Produktivitas (efisien, efektif, berkualitas) ; 14. Sistem teknologi informasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan 14 judul yang kita kemukakan diatas, diharapkan bahwa pokok-pokok pemikiran yang kita ungkapkan itu dapat memberi daya dorong dalam usaha mengembangkan kemampuan berpikir agar kita selalu siap menghadapi tantangan abad 21, berarti pula ada kesiapan memasuki masyarakat pengetahuan yang menuntut kita selalu siap menghadapi gelombang perubahan dengan sikap dan perilaku yang proaktif dengan memiliki berpikir antisipatif. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebagai penutup, mudah-mudahan sumbangan kecil ini ada manfaat bagi pembaca yang tertarik, dan akhirnya kami ungkapkan “Mutiara Kepribadian” dari Abdullah Masrur, M.H. sebagai berikut </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">“Tambang emas dalam diri anda adalah pikiran anda. Anda dapat menggali sepuas anda inginkan”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">“Kalau anda ingin maju maka lihatlah tiap-tiap perkembangan perubahan situasi. Di sana ada kesempatan untuk karirmu”</span></span><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="DE"><span style="font-family:Times New Roman;">“Jangan dibunuh sainganmu agar engkau sendiri tiada kehilangan semangat bersaing”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=136&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/12/21/wawasan-entrepreneur-dalam-persfektif-manajemen-memasuki-masyarakat-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN KEYAKINAN DALAM MENCARI KEPASTIAN SEBAGAI ENTREPRENEUR</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/membangun-keyakinan-dalam-mencari-kepastian-sebagai-entrepreneur/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/membangun-keyakinan-dalam-mencari-kepastian-sebagai-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 14:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTERPRENEUR 38]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR]]></category>
		<category><![CDATA[KEPASTIAN]]></category>
		<category><![CDATA[KEYAKINAN]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBANGUN]]></category>
		<category><![CDATA[MENCARI]]></category>
		<category><![CDATA[SEBAGAI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Berpikir dalam kerangka persfektif diperlukan motivasi yang kuat dalam menumbuhkan sikap dan perilaku positip agar dapat tumbuh yang sejalan dengan satu keyakinan sebagai daya dorong agar kemampuan mengelola masa depan dengan cara yang benar.
Dengan keyakinan seorang yang memiliki kepemimpinan akan mampu pula mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan kebersamaan dalam sikap dan perilaku untuk mewujudkan pemikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=134&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir dalam kerangka persfektif diperlukan motivasi yang kuat dalam menumbuhkan sikap dan perilaku positip agar dapat tumbuh yang sejalan dengan satu keyakinan sebagai daya dorong agar kemampuan mengelola masa depan dengan cara yang benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan keyakinan seorang yang memiliki kepemimpinan akan mampu pula mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan kebersamaan dalam sikap dan perilaku untuk mewujudkan pemikiran intuitif yang telah diputuskan dalam keputusan strategik.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu kemampuan manajerial yang harus dibangun dengan keyakinan yang dapat mempengaruhi dalam perubahan bersikap dan berperilaku adalah membangun satu kebiasaan yang efektif melalui manajemen partisisifatip. Keyakinan tersebut haruslah ditopang oleh kebesaran kebesaran apa yang telah mendorong keberhasilan suatu organisasi dalam memanfaatkan alat manajemen tersebut menjadi satu kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebesaran-kebesaran yang kita maksudkan sebagai daya dorong untuk kita membangun keyakinan dalam mencari kepastian melalui proses manajemen partisipatif, mencakup pemahaman hal-hal yang kita sebutkan dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, pemahaman atas permerdayaan sumber daya manusia<br />
Kedua, pemahaman atas benih-benih keyakinan dalam pola berpikir<br />
Ketiga, pemahaman menumbuh-kembangkan manajemen partisipatif<br />
Keempat, pemahaman atas keterampilan-keterampilan dalam abad baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat hal tersebut akan kita utarakan secara sepintas dibawah ini :<span id="more-134"></span></p>
<p style="text-align:justify;">PERTAMA : PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu peran kepemimpinan akan mencakup apa yang disebut dengan pemberdayaan. Oleh karena itu pemberdayaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pemahaman atas profesionalisme itu sendiri sehingga dengan pemberdayaan itu haruslah menjadi unsur penggeraknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas, maka yang diartikan dengan pemberdayaan adalah menghilangkan batasan birokratis yang mengkotak-kotakkan orang dan membuat mereka menggunakan seefektif mungkin keterampilan, pengalaman, energi dan ambisinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggerakkan pemahaman tersebut, ini berarti memperkenankan mereka untuk mengembangkan suatu perasaan memiliki bagian-bagian dari proses, khususnya yang berkaitan dengan tanggung jawab mereka sesuai dengan perannya, sementara pada waktu yang sama menuntut mereka menerima suatu bagian tanggung jawab  dan kepemilikan yang lebih luas dari keseluruhan proses.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita menyadari sepenuhnya bahwa akan muncul banyak tantangan ketika sedang berubah menuju pemberdayaan dan dalam perjalanan itu sendiri menghadapi kesulitan, tetapi dibalik itu kita meyakini bahwa hasil akhirnya akan lebih berharga ketimbangan perjuangan yang dilalui dalam wujud kualitas yang lebih tinggi, layanan yang lebih baik, lebih bersaing, biaya yang lebih rendah, fleksibilitas yang lebih tinggi dalam pemenuhan akan kebutuhan pelanggan serta pihak-pihak yang memiliki kepedulian.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dengan memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai permberdayaan dengan harapan dalam perjalanannya memperoleh suatu  kenikmatan dari proses perubahan yang ada sebagai tempat yang indah diperlukan perubahan dalam bersikap dan berperilaku yang positip.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kepemimpinan pada semua tingkat dalam unit organisasi memiliki keyakinan maka keteladanan dalam kebersamaan berpikir akan terwujud karena didukung oleh semua pihak bahwa pemberdayaan merupakan soal yang dihadapi oleh gaya kepemimpinan dari atas ke bawah (top down) dan budaya organisasi (nilai, norma, wewenang dan ganjar). Oleh karena itu kedua hal tersebut menjadi pemicu suksesnya proses pemberdayaan yang harus menjadi daya dorongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan uraian yang kita kemukakan diatas, maka sukses pemberdayaan tidaklah dipundah seorang pemimpin yang hanya berperan dalam mengelola pemberdayaan, akan tetapi semua pemimpinan dalam unit organisasi saling berkontribusi untuk mensukseskannya secara bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan langkah-langkah yang dapat mendukung usaha-usaha sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, membangun organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol dengan berbasiskan jaringan agar setiap orang mampu mengakses agar memperoleh dan berbagi informasi yang benar dan akurat. Dengan tersedia informasi yang benar dan akurat diharapkan menjadi : a) kunci memperdayakan orang dan organisasi ; b) mendorong setiap orang untuk mengidentifikasi setiap situasi yang dihadapinya ; c) membentuk adanya kebersamaan dalam sikap dan perilaku agar terciptanya kepercayaan bagi semua pihak ; d) membuat orang-orang tidak terkotak-kotak  dan tidak birokratis ; e) menyadarkan orang-orang yang berperan harus bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, membangun deskripsi tugas, wewenang dan tanggung jawab yang jelas kedalam otonomi peran dalam kerangka untuk : a) menjabarkan keputusan-keputusan strategik yang ditetapkan ; b) menggerakkan budaya organisasi dalam pengelolaan ; c) mengembangkan struktur, sistem, metoda dan prosedur yang dapat mendorong terciptanya pemberdayaan orang ; d) mengingatkan kepada semua orang bahwa kita mengadakan perjalanan ke tempat pemberdayaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, membangun tim manajemen partisipatif yang benar-benar mampu bekerja dalam kerangka melepaskan diri dari pemikiran hirarkis yang konvensional dengan harapan untuk : a) merumuskan budaya peran agar dapat mengelompokkan peran kedalam driver ( developer, director, innovator), panner (strategist, estimator,scheduler), enabler (resource manager, prometor, negotiator), exec (producer, coordinator, maintainer), controller ( monitor, auditor, evaluation) ; b) bekerja dalam tim berbuat lebih banyak daripada kerja individu ; c) bekerja dalam tim memungkinkan orang saling berkonstribusi ; d) pelatihan keterampilan meningkat, e) adanya komitmen dari atasan ; f) menghindari adany ketidak puasan dalam proses pemberdayaan ; g) membangun kebiasaan yang efektif untuk masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga hal yang kita kemukakan diatas merupakan kunci keberhasilan dalam proses pemberdayaan, walaupun pemikiran tersebut nampaknya sederhana namun langkah pelaksanaannya diperlukan interaksi yang dinamis, sistimatis dan berkelanjutan dengan penuh ketekunan, tanpa itu akan mudah proses pemberdayaan itu hanya merupakan mode dalam keinginan untuk berusaha membangun kebiasaan yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">KEDUA : BENIH BENIH KEYAKINAN DALAM POLA BERPIKIR</p>
<p style="text-align:justify;">Benih-benih keyakinan yang akan kita utarakan dibawah ini merupakan daya dorong untuk kita memanfaatkan otak dalam berpikir baik secara methodis artinya disadari (unsur otak dan hati) maupun tidak methodis artinya tidak disadari (unsur hati). Jadi dengan adanya daya dorong dari kekuatan benih-benih keyakinan akan menjadi penuntun pula dalam pola berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Benih-benih keyakinan yang kita maksudkan diatas adalah :<br />
•	Kreativitas individu<br />
•	Tanggung jawab dalam peran<br />
•	Kearifan dalam bertindak<br />
•	Komunikasi<br />
•	Tujuan perjalanan hidup<br />
•	Gambaran masa depan<br />
•	Penyesuaian dalam tantangan perubahan<br />
•	Berani dan ulet dalam berkarya<br />
•	Kepribadian yang utuh<br />
•	Berserah diri dengan sang pencipta</p>
<p style="text-align:justify;">Secara singkat dapat kita kemukakan benih-benih tersebut sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">KREATIVITAS INDIVIDU :</p>
<p style="text-align:justify;">Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta artinya kemampuan berpikir untuk meraih hasil yang variatif dan baru. Dalam hal ini kita menyadari sepenuhnya bahwa kita diajarkan tentang apa yang harus dipikirkan dan bagaimana cara berpikir, tetapi jarang diajarkan bagaimana menemukan pemikiran baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang berpikir bahwa kreativitas adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan, mereka tidak menyadari bila seseorang mampu mengelola otak itu pertanda bahwa setiap orang yang mampu berbicara akan mampu untuk menulis, begitu pula setiap orang yang mampu melihat berarti ia mampu untuk memvisualisasikan, demikian pula bagi setiap orang yang mampu memaksimumkan otak berarti ia mampu berpikir secara methodis dan non methodis berarti ia mampu mengungkapkan gagasan-gasan baru yang dipkirkan, itulah satu tanda dimana kreativitas bukanlah sesuatu yang misterius keberadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sebenarnya yang menjadi masalah kita adalah bagaimana kita mampu mendorong bagi setiap orang untuk meningkatkan kebiasaan yang efektif dalam menggerakkan ide-ide baru, meramalkan dan memvisualisasikan yang belum ada, sedangkan kita telah diajarkan hanya yang berkaitan dengan a) pemahaman fungsi mengamati dan memperhatikan ; b) mengingat kembali ; c) menganalisa dan mempertimbangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, hanya ada satu jalan bagi kita untuk membangun kebiasaan efektif untuk melatih kemampuan kreatif yaitu membangun wawasan dan imajinasi dengan menggerakkan otak sebelah kanan sesuai dengan fungsi sebaliknya dalam menganalisa kita gerakkan otak sebelah kiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pahamilah bahwa fungsi otak kiri adalah berbicara, membaca, menulis, menganalisa, mengkaitkan ide, mengikhtisarkan, mengelompokkan, logika, pertimbangan, keputusan, kemampuan matematis, ingatan verbal, menggunakan simbol, mengatur waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan fungsi otak kanan adalah kesadaran yang tak terlukiskan, melihat keseluruhan dengan sekali pandang, mengenali perasaan, intuisi, wawasan, tingkat perasaan yang dasar,, mesintesa, visualisasi, menanggapi keadaan ingatan visual, mengenai pola-pola, merasakan cara kita, menghubungkan hal-hal pada saat sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemahaman fungsi otak dan kita mampu memaksimumkannya maka disitu akan ditemukan kekosongan kreativitas dapat ditemukannya, hanya saja diperlukan latihan secara brkelanjutan sebagai satu kebiasaan yang efektif. Oleh karena itu hilangkan anggapan seperti dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Hanya para ahli dapat menciptakan sesuatu yang berarti.<br />
•	Menjadi kreatif berarti melakukan sesuatu yang baru.<br />
•	Orang kreatif karena bakat.<br />
•	Kreatif dibayangkan orang gila.<br />
•	Kreatif dikenal karena orang berbakat.<br />
•	Gagasan / ide dibayangkan adanya sifat magic.<br />
•	Berpikir kreatif dibayangkan tidak praktis.<br />
•	Kreativitas dibayang adanya kerumitan.<br />
•	Cara yang terbaik sudah ditemukan karena berpikir dalam satu arah.</p>
<p style="text-align:justify;">TANGGUNG JAWAB DALAM PERAN :</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa bangsa Indonesia sejak meredeka sampai kini masih melarat sedangkan dikatakan kita melimpah sumber daya alam tidak lain karena tanggung jawab dalam peran yang dibebankan kepadanya hanya memikirkan kepentingan individu dan kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tidak adanya tanggung jawab dalam peran kita tidak ada kesedian untuk membangun bangsa ini dengan melihat masa depan sehingga dalam pola berpikir keinginan kerja keras dan berkorban hanyalah satu bayangan mimpi belaka walaupun sering diucapkan berkarya untuk bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah satu kenyataan yang kita hadapi, oleh karena itu perlu kita tumbuh dan kembangkan secara berkelanjutan dalam sikap dan perilaku mengenai apa yang kita sebut tanggung jawab dalam peran antara pimpinan dan bawahan dalam bentuk akar tanggung jawab dan sayap kebebasan,</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tanggung jawab dan kebebasan itu setiap individu akan merasa terikat dalam organisasi, sehingga pikiran yang bersifat materialistik sebagai rucun dalam hidup dapat dihindari kedalam kebiasaan yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan membangun kebiasaan yang efektif itu akan tumbuh menjadi suatu realita kedalam kepercayaan kepada diri sendiri yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku yang dituntun oleh keberanian dengan mengambil resiko yang dapat dipredeksi agar terwujud menjadi kebiasaan yang tidak bergantung kepada orang lain. Untuk itu perlu adanya pengawasan diri sendiri dengan melangkah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Menguasi konsepsi-konsepsi yang terkait dengan wawasan dan imajinasi.<br />
•	Menguasai pemanfaatan waktu dalam kerja.<br />
•	Menguasai kontak-kontak yang sejalan dengan pikiran.<br />
•	Menguasai untuk berkomunikasi.<br />
•	Menguasai atas komitmen yang kita dibuat.<br />
•	Menguasai untuk mengkomunikasikan maksud apa yang kita utarakan.<br />
•	Menguasai apa yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">KEARIFAN DALAM BERTINDAK :</p>
<p style="text-align:justify;">Kearifan tumbuh dari sikap dan perilaku bagi setiap orang yang mampu mengaktualisasikan diri dari pengungkapan kata-kata yang sangat efektif karena keterampilan yang tumbuh dari pengalaman yang bersangkutan sehingga ia mampu mengkomunikasikan suara hatinya dengan baik dan dapat diterima bagi semua pihak yang mempunyai kepentingan atas apa yang diungkapkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pada dasarnya kearifan bukanlah ditentukan oleh bakat yang dimiliki oleh seorang pemimpin dengan kepemimpinannya melainkan tingkat kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual yang bersangkutan membentuk keperibadian yang selalu berusaha untuk meningkatkan secara berkelanjutan atas kebiasaan yang efektif dan konsisten dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">KOMUNIKASI :</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana kita bersikap dan berperilaku untuk menyembunyikan perasaan kita dengan memainkan kemampuan berkomunikasi dari dalam ke luar dengan tidak membohongi siapapun, sehingga memperlihatkan percaya kepada diri sendiri seperti halnya jika kita tidak merasa enak tentang diri kita sendiri secara emosional atau mental dimana kita rupanya tidak memberikan kesan yang sangat baik dengan rupa kita, dandanan kita dan percakapan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita menghadapi seorang teman potensial, prosfek bisnis atau salah satu keluarga sendiri, sikap kita adalah berorientasikan pelayanan, bukan hanya memenuhi kepentingan pribadi. Dengan mengarahkan kepada orang lain, sehingga mereka merasakan akan kehadiran anda. Inilah merupakan hasil dari manifestasi komunikasi non-verbal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas, maka kepemimpinan yang berhasil mempengaruhi orang lain karena keterampilan menjalankan komunikasi yang ditopang oleh keyakinan dan kepercayaan agar fungsi pengungkapan emosional, pesan yang disampaikan, mampu memotivasi, mengendalikan menerima dan mendengarkan atas konskwensi berkomunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">TUJUAN PERJALANAN HIDUP :</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memanfaatkan otak melalui proses mempergunakan alat berpikir berupa kesadaran, kecerdasan dan akal, seharusnya kita mampu akan secara teguh berpegang kepada prinsip hidup, berkerja dan belajar, dengan prinsip tersebut memiliki daya dorong yang kuat untuk menjadi seorang pribadi yang disukai dan sekali gus memiliki sikap kepemimpinan yang mampu merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan untuk menghadapi gelombang perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan merenung diri sebeum anda membuat suatu keputusan strategik atas perjalanan hidup anda dengan memperdayakan otak (memori, emosi dan naluri) yang ada dalam kekuatan berpikir anda adalah tambang emas yang ada pada diri anda, dimana anda dapat menggali sepuas hati anda dan hal-hal tersebut menjadi kebiasaan yang efektif untuk anda melangkah agar hidup ini penuh arti dengan mengungkapkan pertanyaan :</p>
<p style="text-align:justify;">What to do it…. Berkaitan dengan kesadaran.<br />
Why to do it …..Berkaitan dengan kecerdasan.<br />
How to do it …. Berkaitan dengan akal.<br />
When to do it …Berkaitan dengan niat dan hasrat.</p>
<p style="text-align:justify;">GAMBARAN MASA DEPAN :</p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir masa depan menggambarkan harapan seperti gunung, harus tinggi dan dapat dilihat. Kembangkanlah kemampuan berpikir intuitif, maka disitu akan menunjukkan apa yang sebenarnya mereka harapkan. Dengan kejelasan harapan itu mereka akan selalu berada dalam posisi tanpa kegelisahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Harapan pula yang menggerakkan mereka untuk bekerja keras, terikat satu dengan yang lainnya dan saling bantu membantu, yang mendorong mereka menjadi jujur, selalu berbuat yang terbaik dari waktu ke waktu dan bila satu ketika mereka berbuat kesalahan, mereka harus belajar dari kesalahan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan dengan kejelasan keputusan strategik yang diambil serta dapat dikomunikasikan dengan baik kepada bawahannya akan memberikan daya dorong yang kuat agar segala sesuatu yang tidak terpecahkan untuk dibicarakan bersama dan bersedia mengemukakan secara terbuka bila ada keluhan yang dihadapinya.</p>
<p style="text-align:justify;">PENYESUAIAN DALAM TANTANGAN PERUBAHAN :</p>
<p style="text-align:justify;">Hidup dalam dunia tanpa batas dengan gelombang ketidak pastian akan ada selalu perubahan disemua aspek kehidupan, oleh karena itu diperlukan kekuatan mental yang selalu siap untuk melakukan perubahan dalam berpikir sesuai dengan tuntutan untuk menyesuaikan dengan perubahan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi perubahan itu sama saja dengan kemajuan, sehingga kepemimpinan dengan kepribadian yang proaktif dapat menangkap faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi sikap dan perilaku dalam menghadapi setiap terjadi perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan tumbuh berkembang sejalan dengan usaha-usaha bagi setiap tingkat pemimpin untuk meningkatkan kebiasaan yang efektif dengan apa yang hendak dicapai dari pengetahuan, keterampilan dan niat agar tercipta suatu kondisi yang menyukai akan perubahan yang dapat menjadi daya dorong dalam melaksanakannya agar tingkat produktivitasnya meningkat dari sisi efesiensi, efektif dan kualitas.</p>
<p style="text-align:justify;">BERANI DAN ULET DALAM BERKARYA :</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berpegang kepada prinsip-prinsip kepemimpinan, maka seorang pemimpin, pada setiap keputusan yang diambil sudah tentu ada resikonya, tetapi dengan benih keberanian dan keuletan ia meyakini apa yang dibuatnya dimana soal keberhasilannya ia tetap berpegang teguh kepada sang pencipta.</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap dan perilaku tersebut diatas dituntun oleh kemampuan berpikir secara methodis dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) menetapkan prioritas apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu ; 2) konsentrasikan dan fokuskan<br />
Kedalam lingkungan yang sangat berpengaruh ; 3) perubahan yang benar harus mengarah kepada peningkatan produktivitas ; 4) gagalan harus mampu memotivasi untuk menghadapi kegagalan berikutnya ; 5) membangun kebiasaan yang efektif dengan secara teratur melaksanakan sumbang saran ;<br />
6) manfaatkan otak esuai dengan fungsi dalam melaksanakan pemecahan masalah ; 7) membayangkan satu harapan yang tidak terduga ; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> mampu memecahkan masalah yang menghadapi jalan buntu secara jujur dan logis ; 9) meningkatkan kemampuan yang lebih spesialis dalam bidang tertentu ; 10) Berikankan konstribusi dalam berkarya yang lebih banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">KEPRIBADIAN YANG UTUH :</p>
<p style="text-align:justify;">Mengungkapkan benih kepribadian yang utuh yang harus diperlihatkan oleh seseorang yang memiliki kepemimpinan adalah yang menyangkut suatu kesan yang menyeluruh tentang diri seseorang, yang dilihat orang lain. Kesan itu merupakan bauran yang unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesan yang ditarik oleh orang lain menjadi positip tentang kepribadian orang, bila yang bersangkutan menunjukkan semua kemampuan, perbuatan dan kebiasaan seseorang baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial dapat dijadikan panutan bagi orang lain.kecuali keadaan penampilan yang sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepribadian yang sehat akan sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk terus meningkatkan kedewasaannya dalam mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang dapat diterima orang lain dilihat dari sisi rohaniah, sosial, emosional dan intelektual yang bersumber dari kepercayaan diri karena kemampuan untuk menyalurkan segala yang kita ketahui dan segala yang kita kerjakan.</p>
<p style="text-align:justify;">BERSERAH DIRI DENGAN SANG PENCIPTA :</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi seorang yang memeluk agama seperti pemeluk agama islam, maka makna keberhasilan dalam masalah kesuksesan yang diajarkan dalam Al-Quran adalah satu wujud dari pikiran yang berserah diri kepada sang pencipta dalam usaha menghasilkan sesuatu yang berguna baik diri sendiri maupun orang  lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Apaun bentuk usaha pikiran dalam mewujudkan sesuatu “kberhasilan” oleh manusia dengan memanfaatkan alat pikiran berupa kesadaran, kecerdasan dan akal yang dilaksanakan secara berurutan dan memiliki saling sifat ketergantungannya.<br />
Keberhasilan akan menjadi kenyataan, maka galilah tambang emas yang ada pada dirimu yaitu pikiran daam bentuk lahir bathin yang berpadu erat tanpa terpisah-pisah, maka amalan lahir (syariat) dan bathin (hakikat) wajib dilaksanakan serentak daam satu masa di semua waktu dan keadaan.</p>
<p style="text-align:justify;">KETIGA, MENGEMBANGKAN MANAJEMEN PARTISIPATIF</p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen partisifatif diibaratkan pedang bermata dua, disatu sisi melihat proses pengambilan keputusan dan disisi lain menggambar peran pemimpin mendorong bawahannya untuk berkontribusi dalam mempengaruhi dinamika organisasi dalam mewujudkan keputusan-keputusan yang ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Didalam teori manajemen partisipatif memiliki tiga dasar pemikiran sbb. :<br />
1.	Prinsip bahwa beberapa orang lebih baik dari satu orang. Partisipasi dapat memperbaiki kualitas dari keputusan terutama karena banyak dari orang-orang yang erat kaitannya dengan tindakan.<br />
2.	Prinsip bahwa suatu keputusan mufakat akan merupakan pengembangan yang lebih besar antusiasmenya. Didalam teori orang yang mempunyai satu tangan didalam membuat keputusan adaah lebih baik motivasinya untuk melakukannya.<br />
3.	Prinsip bahwa parisipasi didalam membuat keputusan adalah efektif pada latihan pekerjaan yang membantu mengembangkan bawahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun kita sadari bahwa dalam praktek manajemen partisipatif  menjadi tidak produktif. Tapi apa yang dapat dilakukan dengan pandangan itu, maka hal-hal dibawah ini sebagai langkah jalan keluarnya sebagai berikut :<br />
1.	Janganlah menerapkan manajemen partisipatif bilamana perubahan yang radikal diperlukan dengan cepat.<br />
2.	Akan kurang menguntungkan untuk mencoba membangun suatu tim partisipatif dari orang-orang yang berinteraksi hanyalah sesekali.<br />
3.	Partisipatif hanyalah pembicaraan, kecuali hal itu menghasilkan tindakan.<br />
4.	Partisipasi pegawai yang efektif tidaklah selalu meliputi keputusan akhir.<br />
5.	Janganlah meminta untuk partisipati didalam membuat keputusan yang telah dilakukan, melainkan bagaimana caranyaagar hal itu bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan hal-ha yang diungkapkan diatas, maka agar orang menjadi berpartisipasi yang efektif haruslah memperoleh informasi yang lebih baik dari pada hanya mendapatkan pekerjaan semata, sehingga mereka dengan jelas mengetahui latar belakang masalah yang akan dibahas.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang harus dikomunikasikan dengan baik dalam menerapkan manajemen partisipatif adalah pemimpin menyadari sepenuhnya bahwa perannya dalam proses pengambilan keputusan untuk pencapaian tujuan dan sasaran haruslah dipisahkan dengan pengembanan dari pertanggungan jawaban sebagai akibat dari pelaksanaannya yang terkait dengan pertanggungan jawabannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai petunjuk atas pelaksanaannya dapat diungkapkan sebagai berikut :<br />
1.	Mintalah pendapat kepada orang yang memiliki pengetahuan (informasi), keterampilan (pengelaman) dan keperibadian terhadap sesuatu masalah yang dihadapi.<br />
2.	Mulailah dengan praktek dengan partisipasi terhadap sesuatu yang kecil, yang dipili secara teliti berdasarkan suka rela.<br />
3.	Janganlah memulai dengan yang paling kritis dan masalah yang sulit.<br />
4.	Hargailah sikap orang itu yang tidak sunguh-sungguh tertarik didalam partisipasi keputusan manajemen.<br />
5.	Nilailah secara teratur kefektifan dari proses partisipasi. Temukan hal-hal yang bermanfaat dan mana yang tidak.<br />
6.	Akhirnya ingatlah bahwa partisipasi adalah bermanfaat didalam beberapa situasi dan tidak didalam yang lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">KEEMPAT, KETERAMPILAN ABAD BARU :</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 1980 sampai menjelang akhir tahun 1990, visi kepemimpinan dengan pusat perhatian mencakup : * Bagaimana kita dapat menggerakkan sumber dan energi manusia secara optimal ; * Dan dalam waktu bersamaansuatu organisasi manusia yang bermutu dan terus tumbuh dapat dipertahankan ; * Dan dimana kebutuhan pribadi seperti harga diri tumbuh dan berkembang ; * Dan kepuasan bathin secara semaksimal mungkin dapat di penuhi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang tahun 2000, visi kepemimpinan pada dsarnya sama dengan awal tahun 1990, dengan tekanan mengelola masa-masa tidak menentu sebagai dampak globalisasi dengan segala dimensinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pemikiran yang dikemukakan oleh Alfin Toffler didalam bukunya “Future Shock” (kejutan masa depan), seharusnya dapat pula menggugah kita mengenai konsepsi masa depan yang mengujutkan serta teori penyesuaiannya. Konsep itu, ia mengingatkan kita kepada :</p>
<p style="text-align:justify;">•	Bahwa kejutan masa depan bukan lagi merupakan bahaya potensial yang masih jauh, akan tetapi merupakan suatu penyakit nyata yang diderita oleh banyak manusia. Penyakit ini adalah penyakit “perubahan”.<br />
•	Keheranan kita betapa sedikitnya orang tahu tentang penyesuaian diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyadari ha tersebut diatas, maka perjuangan untuk menjalankan perubahan harus terjadipada seluruh tingkat secara serempak. Oleh karena itu dengan bekal pengetahuan (informasi), keterampilan (pengelaman) dan keperibadian (sikap dan perilaku) yang lebih jelas tentang masalahnya, serta pengendalian yang lebih cerdik atas beberapa proses kunci tertentu, maka kita dapat mengelola krisis menjadi kesempatan sehingga akan membantu orang tidak semata-mata untuk mengangkat akan tetapi juga untuk menaiki gelombang perubahan, berkembang dan memperoleh kesadaran baru bahwa kita telah berkuasa atas tujuan hidup kita sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh C.R. Hickman &amp; M.A.Silva dalam bukunya “Creating Excellence” menyatakan :<br />
Untuk masa depan yang dinamis para manajer harus belajar untuk lebih mementingkan masa lampau dengan apa yang kita sebut keahlian / keterampilan abad baru, dimana ia menyebutkan perlu menguasai keahlian / keterampilan berupa :<br />
1.	Wawasan kreativitas.<br />
2.	Sensitivitas.<br />
3.	Visi.<br />
4.	Kecakapan melaksanakan disemua bidang.<br />
5.	Pemusatan perhatian<br />
6.	Ketekunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Wawasan kreativitas merupakan landasan untuk merumuskan strategi, sedangkan sensitivitas membangun budaya organisasi yang kuat. Melalui dua keterampilan itu mendorong terbentuknya visi yang mengintergrasikan antara realita dengan harapan atas dasar ketekunan yang secara alami mengikuti  kecakapan melaksanakan di semua bidang dengan pemusatan perhatian agar mampu mengadaptasi, antisipasi stimulasi dari kebutuhan masa depan dengan yang dahulu, kemudian baru penetrapan langsung usaha-usaha perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara singkat dapat diuraikan keterampilan tersebut diatas sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">WAWASAN KREATIVITAS, para eksekutif dengan wawasan kreativitas kan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar, sehingga ia dapat memilah-milah mana permasalahan yang bersifat kritis, pokok, dan insidentil, bukan hanya situasi permasalahan yang bisa dilihat.<br />
Eksekutif dengan wawasan yang terbatas akan memandang permasalahan dan paham secara terpisah, tidak pernah memandang secara menyeluruh akibatnya pemanfaatan sumber daya manusia tidak produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">SENSITIVITAS, dewasa ini telah diakui bahwa sumber daya manusia adalah merupakan bagian aktivitas terbesar dari suatu organisasi, oleh karena itu para eksekutif harus tahu bagaimana mengingat mereka bersama-sama dalam satu buaya agar mereka merasa betul-betul dimotivasi dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan komunikasi tatap muka, pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan, program komputerisasi, insentif yang kreatif dan keamanan pekerjaan yang kesuanya itu memperlihatkan sensitivitas yang dapat memelihara budaya yang kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">VISI, eksekutif dengan analisis. Visi merupakan proses berpikir dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dalam prakteknya dapat diibaratkan suatu lukisan dimana tidak semua orang bisa melukis demikian pula melukiskan visi pribadi atau kelompok terhadap suatu kegiatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menciptakan masa depan dari serpihan-serpihan fakta, gambaran-gambaran, harapan, impian, bahaya dan kesempatan, ini berari memiliki kemampuan melaksanakan analisis visi melalui intergrasi keterampilan dasar dengan kesempatan adaptif.</p>
<p style="text-align:justify;">KECAKAPAN MELAKSANAKAN DISEMUA BIDANG, menuntut adanya keterampilan yang tidak mudah dikuasai, oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk menaruhkan perhatian yang menarik yang ada di luar anda,tanpa itu tidak mungkin mampu menyesuaikan dengan perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">PEMUSATAN PERHATIAN, eksekutif dengan menerapkan perubahan harus mampu memelihara keharmonisan strategidan budaya, oleh karena itu dituntut untuk memusatkan perhatian atas sumber daya yang bisa didapat menuju keberhasilan dalam pemanfaatannya.</p>
<p style="text-align:justify;">KETEKUNAN DAN KESABARAN, eksekutif harus percaya pada tujuan jangka panjang organisasinya, oleh karena itu ia dituntut melahirkan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan serta melibatkan diri mereka ke masa depan. Untuk itu, ia harus tekun dan sabar menyelaminya serta mampu untuk menciptakan lingkungan yang ideal.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=134&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/membangun-keyakinan-dalam-mencari-kepastian-sebagai-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELANGKAH MENJADI USAHAWAN TANGGUH DALAM SEPULUH LANGKAH</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/melangkah-menjadi-usahawan-tangguh-dalam-sepuluh-langkah/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/melangkah-menjadi-usahawan-tangguh-dalam-sepuluh-langkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 14:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTERPRENEUR 37]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[LANGKAH]]></category>
		<category><![CDATA[MELANGKAH]]></category>
		<category><![CDATA[MENJADI]]></category>
		<category><![CDATA[SEPULUH]]></category>
		<category><![CDATA[TANGGUH]]></category>
		<category><![CDATA[USAHAWAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Berpikir dalam kerangka metodis maka dalam setiap melangkah dalam usaha menjadi usahawan yang tangguh maka perliu adanya pemikiran yang tersusun secara sistimatis dan dapat dikomunikasikan secara baik sehingga menjadi kekuatan-kekuatan motivasi untuk bersikap dan berperilaku yang positip dengan penguasaan prinsip-prinsip kepemimpinan.
Pemikiran pertama adalah mencakup tiga langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran intuitif artinya merumuskan hal-hal yang bersifat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=132&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir dalam kerangka metodis maka dalam setiap melangkah dalam usaha menjadi usahawan yang tangguh maka perliu adanya pemikiran yang tersusun secara sistimatis dan dapat dikomunikasikan secara baik sehingga menjadi kekuatan-kekuatan motivasi untuk bersikap dan berperilaku yang positip dengan penguasaan prinsip-prinsip kepemimpinan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran pertama adalah mencakup tiga langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran intuitif artinya merumuskan hal-hal yang bersifat strategis untuk jangka panjang (diatas 5 tahun) yang menggambarkan masa depan sebagai persfektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran kedua adalah mencakup satu langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran jangka menengah (2 s/d 5 tahun) artinya merumuskan hal-hal dari jangka panjang mengarah pada posisi yang digambarkan secara kuantitatif untuk melaksanakan pencapaian persfektif yang sudah digariskan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal dan produktif berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran ketiga adalah mencakup empat langkah yang  mengungkapkan pemikiran-pemikiran jangka pendek ( 1 tahun ) artinya merumuskan hal-hal dari jangka menengah menjadi kegiatan operasional yang mengarah pada performa yang digariskan kedalam kebijakan rencana kerja dan anggaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran keempat adalah mencakup dua langkah teraakhir yang khusus mengungkapkan hal-hal yang berkaitan usaha-usaha mengelola berdasarkan budaya perusahaan agar semua yang terlibat dalam organisasi perusahaan agar kewiraswastaan sesuai dengan paradigma abad 21.<span id="more-132"></span></p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH PERTAMA dalam pemikiran pertama :</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan masa depan kedalam suatu persfektif baik pada organisasi yang baru dibangun dan atau organisasi yang sedang berjalan, sebaiknya dilakukan dengan melaksanakan sumbang saran kedalam satu kelompok kecil yang memainkan peran penting kedepan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok kecil tersebut dapat terdiri dari pendiri, pimpinan puncak, tenaga ahli profesional dan bila perlu menunjuk tenaga konsultan kedalam kerja tim sebagai penasehat dalam pelaksanaan sumbang saran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan sumbang saran dapat dilakukan dalam beberapa kali dengan jangka waktu tidak lebih dari satu minggu dengan kegiatan yang berencana dimana masing-masing orang yang benar-benar terlibat dengan sadar, setuju dan memiliki komitmen yang kuat untuk memperjuangkan agar apa-apa yang dirumuskan dapat dijalankan kedalam kegiatan operasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penelitian strategis (yang mencakup memahami apa yang dapat, berpikir tidak hanya dalam satu arah, berpikir yang terarah, pemetaan, penggambaran) dari tim untuk merumuskan mengenai “perjalanan yang ingin dilakukan bahwa kita bercita-cita jadi apa”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sumbang saran melahirkan jawaban-jawaban atas pertanyaan :<br />
1.	Apa keyakinan atau kefokusan untuk pengembangan bisnis masa y.a.d. ?<br />
2.	Apa ruang lingkup produk dan pasar yang akan dan tidak dipikirkan ?<br />
3.	Bagaimana penekanan atau prioritas ?<br />
4.	Kunci kemampuan apa yang diperlukan ?<br />
5.	Apa visi yang dilaksanakan untuk pertumbuhan dan harapan ?<br />
6.	Apa yang sedang terjadi atas bisnis disekitar kita ?<br />
7.	Hal apa yang membuat kita menjadi kekhususan ?<br />
8.	Apa saingan kita ?<br />
9.	Gaya organisasi macam apa yang kami inginkan ?<br />
10.	Bagaimana caranya kita dapat menjalankan bisnis dengan lebih baik ?</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hasil sumbang saran akam melahirkan rumusan satu pernyataan tentang VISI yang mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan citra, budaya, arah dan tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pernyataan itu harus mampu memberikan kekuatan-kekuatan motivasi sehingga memiliki konsep yang terfokuskan ; perasaan akan tujuan mulia ; peluang sukses yang logis.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh, Departemen Dunas Administrasi (Persemakmuran Australia) “ Agar dikenal oleh para pelanggan kita dan pemerintah sebagai pemberi jasa Australia terbaik dan pemimpin dalam peningkatan sektor masyarakat (publik)”</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh Pos Indonsia (menurut Penulis) “Pos Indonesia senantiasa berupaya untuk menjadi penyedia sarana komunikasi kelas dunia, yang peduli terhadap lingkungan, dikelola oleh sumber daya manusia yang profesional sehingga mampu memberikan layanan terbaik bagi masyarakat serta tumbuh dan berkembang sesuai konsep bisnis yang sehat “</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KEDUA dalam pemikiran pertama :</p>
<p style="text-align:justify;">Pada langkah ini merupakan kelanjutan dari langkah pertama untuk dapat memperjelas visi mengemban tujuan dalam beberapa kali sumbang saran dalam waktu satu minggu untuk merumuskan satu pernyataan MISI sebagai sarana untuk mengadakan perjalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pernyataan misi tersebut haruslah mengandung hal-hal yang jelas atas pelanggan dlam hubungan dengan asumsi kebutuhan ; dasar pendapat tentang nilai yang terkait dengan asumsi kebutuhan ; apa yang membuat kita istimewa.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dari pernyataan misi tersebut harus mampu mengungkapkan mengenai pasti dalam arti cara kita berbisnis ; menandai kejelasan usaha yang dijalani ; singkat dalam arti mudah dituliskannya ; dapat dilaksanakan ; mudah diingat.</p>
<p style="text-align:justify;">Cotoh Hilton Hotel Corporation “ Untuk dapat dikenal sebagai organisasi perhotelan komersial dunia yang terbaik, secara terus menerus memicu peningkatan, yang memungkinkan kita sukses sebagai bisnis bagi keuntungan para pemegang saham, tamu-tamu dan pegawai-pegawai kami “</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh Pos Indonesia “ Menyediakan sarana komunikasi yang andal dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan pemerintah untuk menunjang pembangunan nasional dalam memperkuat kesatuan bangsa dan negara  yang bertumpu pada mutu pelayanan dengan menerapkan pengetahuan dan teknologi tepat guna untuk pemenuhan kepuasaan pelanggan dan peningkatan nilai tambah optimum stakeholders “</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KETIGA dalam pemikiran pertama :</p>
<p style="text-align:justify;">Merupakan langkah lanjutan dari langkah kedua untuk menjabarkan misi yang telah ditetapkan dalam rangka sumbang saran dengan terikat dalam waktu dua minggu dari bagian satu bulan yang merumuskan TUJUAN-TUJUAN secara kualitatip yang hendak dicapai dan mengariskan cara-cara pemcapaiannya kedalam STRATIGI INDUK dan menetapkan STRUKTUR ORGANISASI BERBASIS PENGETAHUAN.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya tujuan-tujuan yang hendak dicapai akan mencakup :<br />
1.	Kemampuan menciptakan laba<br />
2.	Kemampuan produksi (produk / jasa)<br />
3.	Pengembangan produk / jasa<br />
4.	Pengurangan biaya<br />
5.	Keefektifan biaya<br />
6.	Mobilisasi sumber daya<br />
7.	Pengembangan organisasi<br />
8.	Pengembangan manajemen<br />
9.	Hubungan isdustrial dan karyawan<br />
10.	Pelayanan pelanggan<br />
11.	Ekpansi<br />
12.	Pengembangan perencanaan infrastruktur<br />
13.	Diversifikasi, differensiasi dan perluasan pasar<br />
14.	Pengembangan komunitas dan tanggung jawab sosial<br />
15.	Corporate image<br />
16.	Sumber-sumber pembiayaan</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap organisasi akan memberikan tekanan atas tujuan-tujuan diatas sebagai corporate key result areas.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan strategi induk untuk merealisasikan dalam pencapaian tujuan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Pertumbuhan stabil<br />
2.	Pertumbuhan</p>
<p style="text-align:justify;">3.	Pengurangan atau berpaling haluan<br />
4.	Kombinasi dari strategi diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melaksanakan strategi tersebut, maka salah satu kebijakan yang secara strategis ditetapkan adalah yang berkaitan dengan membangun suatu struktur organisasi berbasiskan pengetahuan artinya organisasi tersebut harus dibangun memiliki sifat fleksibilitas dan mudah dikontrol.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan itu organisasi berbasiskan pengetahuan perlu menggariskan hal-hal yang berhubungan dengan :</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Sistem Kepemimpinan<br />
2.	Sistem sumber daya<br />
3.	Sistem manajemen<br />
4.	Sistem pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan dari tiga langkah dalam pemikiran pertama merupakan hasil pemikiran dari sumbang saran yang menyangkut pemikiran yang bersifat intuitif untuk menghasilkan analisa strategis yang terkait untuk jangka lima tahun keatas sebagai rencana jangka panjang yang mencakup pernyataan –pernyataan mengenai visi, misi, tujuan, strategi induk dan kebijakan yang berkaitan dengan struktur organisasi berbasis pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KEEMPAT dalam pikiran kedua :</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam langkah ini merupakan hasil pemikiran rencana jangka menengah yang mencakup jangka waktu 2 s/d 5 tahun dari hasil kerja kelompok yang memiliki peran perencanaan dengan didukung oleh peran-peran struktural dan fungsional dengan menjabarkan hal-hal dari rencana jangka panjang yang bersifat kualitatitf menjadi rencana kedalam kualitatif dan kuantitatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah ini merupakan hasil pemikiran yang merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan area kunci struktural (korporasi, divisional, SBU (strategik bisnis unit) dan fungsional dan rekayasa ulang proses bisnis bertolak dari hasil pendekatan analisa SWOT dan Lima Kekuatan Kompetitif dari Porter dengan memanfaatkan berpikir secara metodis mengarah kepada hasil pemikiran yang bersifat posisi kemasa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dari langkah ini akan menyusun rencana yang biasa disebut dengan corporate plan sebagai dukumen tertulis yang akan dipergunakan untuk<br />
panduan dalam pelaksanaan dan didalamnya sudah termasuk bagaimana memanfaatkan sumber daya yang tersedia.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk persiapan rencana usaha :<br />
•	Daftar isi<br />
•	Ringkasan Eksekutif<br />
•	Bagian Konsep<br />
•	Bagian Analisa strategis<br />
•	Bagian Analisa pasar ( Gambaran umum seluruh pasar ; Gambarang singkat yang akan dituju ; kondisi yang bersaing ; Kondisi harga ; Pengarug faktor ekstern ; Sejarah produk / jasa atau bisnis sejenis ; Perkiraan BEP)<br />
•	Bagian Produksi ( Kebutuhan peralatan ; Fasilitas peralatan ; Bahan baku, tenaga kerja, kebutuhan suplai serta sumber ; Kebutuhan kontrol kualitas, kemasan, transportasi, dll ; Program periode waktu awal ; Jadwal,  siapa harus mengerjakan apa dan kapan (lampiran) ; Anggaran belanja (lapiran) ; Hasil yang diharapkan (lampiran) ; Rencana kemungkinan.<br />
•	Bagian Pemasaran ( Metode menjual dan iklan ; Gambaran produk atau jasa serta keuntungan yang harus diutamakan ; Program untuk periode waktu awal ; Jadwal, siapa yang melaksanakan apa, kapan (lampiran) ; Anggaran dasar (lampiran) ; Hasil yang diharapkan (lampiran) ; Rencana kemungkinan<br />
•	Bagian Organisasi dan SDM (Struktur organisasi ; Job description ; Sistem kepemimpinan ; Sistem sumber daya ; Sistem manajemen ; Sistem pengetahuan ; Penempatan program untuk periode awal ; Anggaran dasar ; Hasil yang diinginkan ; Rencana kemungkinan ; Budaya organisasi )<br />
•	Bagian Aliran dana dan proyeksi finansial ( Daftar Neraca ; Daftar R / L ; Daftar Sumber dan Penggunaan dana ; Daftar Kebutuhan Investasi ; Daftar Aliran Kas operasi ; Program Monitor dan kontrol dana dengan orang dan sistem)<br />
•	Bagian Kepemilikan ( Ringkasan pembiayaan kebutuhan ; Bentuk bisnis ; Program mendapatkan equity dan atau hutang ; Projected return investor</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KELIMA dalam pemikiran ketiga :</p>
<p style="text-align:justify;">Pada langkah ini dipimpin oleh pemimpin puncak pada setiap unit kerja yang sesuai dengan struktur organisasi formal yang telah ditetapkan, dimana pemikiran-pemikiran akan dituangkan kedalam pemikiran rencana jangka pendek yang mencakup untuk 1 tahun takwin sebagai rencana kerja dan anggaran tahunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertitik tolak dari pemikiran rencana jangka menengah, maka disusunlah rencana secara terperinci menurut masing-masing unit kerja yang ada dalam struktur formal. Dengan rencana tersebut yang akan ditetapkan diharapkan semua kegiatan dapat digerakkan sesuai dengan rencana.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap rencana tersebut haruslah terssusun kedalam dukumen seperti :<br />
•	Ringkasan eksekutip<br />
•	Keputusan strategik operasional<br />
•	Anggaran pendapatan dan hasil penjualan<br />
•	Anggaran pembelian bahan baku pokok dan tambahan<br />
•	Anggaran produksi<br />
•	Anggaran tenaga kerja langsung dan tak langsung<br />
•	Anggaran biaya eploitasi langsung<br />
•	Anggaran harga pokok penjualan<br />
•	Anggaran biaya administrasi dan umum<br />
•	Anggaran biaya penjualan<br />
•	Anggaran perhiungan piutang<br />
•	Anggaran perhitungan persedian<br />
•	Anggaran perhitungan hutang<br />
•	Anggaran perhitungan perubahan aktiva tetap<br />
•	Anggaran kas<br />
•	Anggaran  rugi / laba<br />
•	Anggaran neraca<br />
•	Anggaran penerapan analisa break even</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KEENAM dalam pemikiran ketiga :</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan rencana anggaran dan telah diputuskan oleh Direksi, Dewan komisaris, Pemegang Saham dalam RUPUS (bila organisasi berbentuk  P.T. baik tertutup dan atau terbuka), maka dalam langkah ini semua rencana harus dapat dikomunikasikan  kepada pihak-pihak yang berkepentingan agar setiap peran yang telah ditetapkan dalam struktur organisasi menjalankan sesuai dengan ketentuan yang ada agar dapat mencapai target-target dalam rencana.</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KETUJUH dalam pemikiran ketiga :</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam langkah ketujuh ini, harus ditekankan pelaksanaan kontrol yang lebih baik dengan tersedianya metoda, sistem, prosedur agar setiap tindakan dapat melaksanakan disatu sisi yang berkaitan dengan kegiatan pengendalian yang harus dilakukan oleh peran-peran yang berada dalam unit kerja itu sendiri dan disisi lain harus pula terciptanya pelaksanaan pengawasan yang harus dilakukan oleh peran-peran khusus dalam organisasi formal yang ada dengan memperhatikan laporan-laporan mingguan, bulanan, triwulan, tengah tahun dan tahunan agar pelaksanaan pengawasan manajemen dapat berjalan secara maksimal.</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KEDELAPAN dalam pemikiran ketiga :</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam langkah kedelapan ini, dengan memperhatikan hasil pelaksanaan kontrol (pengendalian dan pengawasan) dalam langkah ketujuh, maka sesuai dengan seperangkat kebijaksanaan yang ditetapkan dalam organisasi bidang sumber daya manusia, maka perlu secara berkelanjutan untuk menumbuhkan kekuatan kepemimpinan positip dengan membangun kekuatan motivasi agar terciptanya sikap dan perilaku postip dengan menyelenggarakan ulang tahun organisasi untuk mengangkat semangat semua orang yang terlibat dalam organisasi serta memberikan perhatian yang serian dalam bentuk menumbuh kembangkan kepercayaan diri dengan memberikan penghargaan bagi setiap orang yang berprestasi.</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KESEMBILAN dalam pemikiran keempat :</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah kesembilan ini sangat menentukan dari delapan langkah-langkah terdahulu yang menekankan hal-hal yang berkaitan dengan yang abstrak yang kita sebutkan dengan perencanaan sedangkan pelaksanaan kita sebut dengan yang konkrit artinya menggerakkan orang untuk mencapai tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menggerakkan orang-orang disini, timbullah hal-hal yang berkaitan dengan menghubungkan kegiatan-kegiatan antara satu dengan yang lainnya.<br />
Agar tindakan mencapai tujuan dan tindakan menghubungkan menjadi satu kenyataan maka kita sebut adanya tindakan mengintergrasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keberhasilan dalam melaksanakan ketiga tindakan (mencapai, menghubungkan, mengintergrasikan) akan ditentukan proses pengelolaan manajemen yang terpola dalam tindakan dan pemikiran yang harus dilakukan secara metodis artinya merupakan kerja dari dua unsur di dalam diri kita yaitu unsur otak dan unsur hati, dimana otak alat pikir dan hati alat menghayati sehingga berpikir disini diartikan sebagai seluruh kisaran proses mental yang sadar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pemikiran diatas maka dalam mengelola hal yang abstrak menjadi hal yang konkrit diperlukan kemampuan mengelola berbasiskan budaya. Oleh karena itu pengembangan kepemimpinan dengan prinsip-prinsip yang telah kita utarakan dalam seri bina usaha terdahulu sebagai landasan untuk melahirkan pemahaman atas pengelolaan sumber daya manusia yang didekati melalui pendekatan prinsip sebagai pondasi dasar yang mencakup 1) manusia sebagai aktiva yang sangat berharga ; 2) keputusan strategik ; 3) budaya organisasi ; 4) intergrasi kedalam hubungan antar individu, kelompok dan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan manusia sebagai aktiva yang sangat berharga sudah disadari sebelum memasuki abad 21, oleh karena itu dalam masa kini dan masa depan telah ditunjukkan bahwa manusia adalah modal intelektual yang sangat berharga sehingga diperlukan kemampuan dan keterampilan mengelolanya berbasiskan pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan budaya organisasi menunjukkan adanya kejelasan yang berkaitan dengan nilai, norma, wewenang dan ganjar dalam menuntun setiap individu dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan keputusan strategik menunjukkan adanya kejelasan yang terkait dengan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya manusia sebagai rencana jangja panjang, menengah dan pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan intergrasi dalam hubungan menunjukkan hubungan yang harmonis dalam berkomunikasi untuk masing-masing individu agar setiap peran, tugas, fungsi dan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan harapan bagi semua pihak yang mempunyai kepentingan atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan pendekatan diatas, maka penerapan manajemen sumber daya manusia dapat dirumuskan kedalam pendekatan sistem berbasiskan komptetensi untuk menggariskan segala sesuatu yang terkait dalam organisasi, proses, manusia dan teknologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sub sistem kompetensi akan mempengaruhi sub sistem budaya organi-sasi, sub sistem perilaku organisasi dan sub sistem manajemen sdm. dimana keempat sub sistem saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan pemahaman atas :</p>
<p style="text-align:justify;">Kompetensi adalah suatu pendekatan sistem kedalam pengembangan sumber daya manusia yang berbasiskan kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku kedalam platform yang sejalan terhadap pengembangan organisasi, proses, manusia dan teknologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Budaya oeganisasi, sudah dijelaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajmen SDM adalah suatu pendekatan sistem dalam usaha meningkatkan konstribusi produktif dari manusia terhadap organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan yang berkaitan dengan kemasyarakatan, keorganisasian, fungsional, individu dan kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku organisasi adalah suatu pendekatan sistem dalam penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang-orang bertindak di dalam organisasi, sehingga 1) orang-orang membentuk sistem sosial intern organisasi, 2) struktur menentukan hubungan secara formal orang-orang dalam organisasi, 3) teknologi menyediakan sumber daya yang digunakan orang-orang untuk bekerja dan sumber daya itu mempengaruhi tugas yang mereka lakukan, 4) semua oraginasasi beroperasi di dalam lingkungan luar.</p>
<p style="text-align:justify;">LANGKAH KESEPULUH dalam pemikiran keempat :</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah ini merupakan tindakan yeng mengikuti pembahruan sejalan atas pemikiran antisipatif dalam menuntun sikap dan perilaku yang proaktif dalam individu, kelompok dan organisasi agar mampu secara bertahap memberikan posisi organisasi kedalam daur hidup yang prima.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembaharuan haruslah dalam kerangka pemikiran melaksanakan perubahan yang berencana dengan tindakan yang berkelanjutan sejalan dengan usaha – usaha untuk menyesuaian dengan perubahan lingkungan dan faktor internal  Oleh karena itu CEO atau pemimpinan puncak memainkan peranan penting untuk menggerakkan pembaharuan yang sejalan dengan prinsip-prinsip keterampilan kepemimpinan (kolaborasi, komitmen, komunikasi, kreativitas individu, kreativitas kelompok, inovasi organisasi , kesadaran dalam analisa masa depan, kecerdasan dalam merespon antisipatif, akal dalam proses keputusan).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengelola pemikiran diatas melahirkan kerangka peta pikiran agar proses berpikir bagaimna prinsip-prinsip kepemimpinan itu diimplementasi-kan dalam satu proses yang berurut kedalam 1) proses merancang pembaharuan, 2) proses transformasi, 3) proses peningkatan berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Makna peta pikiran tersebut mencakup pemahaman atas :<br />
Kebutuhan akan perubahan ( gelombang perubahan, keputusan strategik, komitmen).<br />
Memimpin perubahan (mengkomunikasikan, mengelola, membangun parti-sipasi ).<br />
Dimensi lapisan perubahan ( budaya, infrastruktur, struktur teknis)<br />
Memperbaharui ( umpan balik, penyesuaian)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian peta pikiran tersebut akan memperlihatkan apa yang disebut dengan proses merancang pembaharuan, proses transformasi, proses perbaikan berkelanjutan dalam kerangka membangun posisi daur hidup organisasi yang prima dalam menghadapi kabutuhan akan perubahan karena:</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Pelanggan sebagai pemacu, membutuhkan mekanisme untuk melacak keinginan pelanggan dan memonitor keluhannya.<br />
2.	Persaingan sebagai pemacu, mengarahkan perusahaan untuk meninjau proses mereka bisa menjadi kompetitif.<br />
3.	Biaya sebagai pemacu, memerangi pemborosan dalam cara pandang keseluruhan proses atau aliran dari aktivitas.<br />
4.	Teknologi sebagai pemacu, karena perubahan teknologi yang diaplikasikan kepada produk atau proses<br />
5.	Pemegang saham sebagai pemacu, mereka menginginkan pemimpin yang berani dan imajinatif yang dapat mendobrak setiap keadaan serta sanggup menghadapi dengan tegar perubahan-perubahan besar yang terjadi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=132&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/melangkah-menjadi-usahawan-tangguh-dalam-sepuluh-langkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGEMBANGKAN PRINSIP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEPEMIMPINAN KEWIRASWASTAWAN</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-proses-pengambilan-keputusan-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-proses-pengambilan-keputusan-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 14:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTERPRENEUR 36]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN]]></category>
		<category><![CDATA[KEWIRASWASTAWAN]]></category>
		<category><![CDATA[MENGEMBANGKAN]]></category>
		<category><![CDATA[PENGAMBILAN]]></category>
		<category><![CDATA[PRINSIP]]></category>
		<category><![CDATA[PROSES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Proses berpikir mencakup dua lingkungan yaitu lingkungan alam sadar dan alam bawah sadar. Untuk menggerakkan proses berpikir dalam alam sadar memanfaatkan otak atas dimana masing-masing otak (kiri dan kanan) harus dapat memberikan rangsangan satu sama lain, jangan sampai terjadi salah satu tidak berperan sebagaimana layaknya. Jadi kesadaran (otak atas kanan) dan kecerdasan (otak atas kiri), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=130&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Proses berpikir mencakup dua lingkungan yaitu lingkungan alam sadar dan alam bawah sadar. Untuk menggerakkan proses berpikir dalam alam sadar memanfaatkan otak atas dimana masing-masing otak (kiri dan kanan) harus dapat memberikan rangsangan satu sama lain, jangan sampai terjadi salah satu tidak berperan sebagaimana layaknya. Jadi kesadaran (otak atas kanan) dan kecerdasan (otak atas kiri), keduanya menjadi alat pikir dari otak.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan otak bawah sadar, yang juga disebut otak kecil artinya ia berpusat di hati oleh karena itu, ia berperan untuk mengendalikan semua fungsi tubuh yang tidak disadari dan otomatis, sehingga otak bawah akan bekerja secara terpisah dengan otak atas. Jadi otak bawah sadar yang kita sebut dengan Akal mengandung arti dari satu sisi sebagai ilmu tentang hakikat segala sesuatu, letaknya dalam hati dan disisi lain kata Akal itu dipergunakan kepada yang mengenal ilmu itu ialah hati yakni benda halus dan indah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi hati akan berperan untuk menghayati dalam mengendalikan emosi, seksualitas dan pusat kenikmatan, oleh karena itu otak bawah sadar yang kita sebut Akal sebagai alat pikir. Proses berpikir dengan memanfaatkan otak bawah sadar menjadi hasil kerja hati dengan penghayatan yang juga kita sebut dengan intuisi. Dengan demikian intuisi termasuk salah satu bentuk berpikir juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran menyadarkan apa-apa, namun kecerdasan memberitahukan kepaada kita keadaan masalah dan hubungan-hubungannya. Apakah gerangan bahaya bagi kita. Itu saja tidak cukup dalam proses berpikir, yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana kita menghindarinya atau menumpasnya. Disnilah tampil prinsip kesembilan sebagai suatu proses berkir yang muncul kepermukaan yang disebut dengan akal sebagai alat pikir untuk mencari jalan untuk tujuan itu. Dengan Akal dalam proses berpikir menunjukkan dimana letak bahaya, jenis bahaya, apa segara datang atau berlagsung tetap sebagai bahaya, bagaimana ia dapat dihindarkan, selanjutnya menunjukkan jalan dan cara-caranya mencapai tujuan itu agar supaya dilaksanakannya. Itulah pekerjaan akal. Dalam hal tertentu, ia juga bekerja membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa mengem-bangkan akal kepemimpinan merupakan unsur jiwa ketiga selain kesadaran dan kecerdasan. Oleh karena itu ketiga unsur jiwa itu, bertindak serentak dalam proses berpikir, saling mengisi dan saling membantu sehingga menyerupai tri-tunggal. Akhirnya kita dapat menyatakan bahwa tidak dapat menyebutkan yang satu dengan meninggalkan dua yang lainnya, dengan ungkapan ini alat pikiran sebagai kecakapan jiwa yang didalam fungsinya bertindak serentak sebagai tri-tunggal dan merupakan alat pikiran yang utama untuk kita kembang-kan.<span id="more-130"></span></p>
<p style="text-align:justify;">MAKNA  AKAL</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menggerakkan atas pemanfaatan otak bawah sadar yang juga disebut proses berpikir intuitif untuk merespon hasil kesadaran dan kecerdasan, maka diperlukan pemahaman makna akal melalui huruf dan kata dengan ungkapan seperti dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">(A) menjadi kata ANTISIPATIF mengandung arti sikap dan perilaku yang bersifat tanggap terhadap sesuatu yang akan terjadi dari proses hasil berpikir kesadaran dan kecerdasan dalam memberikan jawaban atas bagaimana cara dan melaksanakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">(K) menjadi kata KALBU mengandung arti kemampuan mengintergrasikan dalam proses berpikir terhadap otak atas kiri dan kanan sebagai alat pikir disatu sisi dan disisi lain hati sebagai alat menghayati, bagaimana membuat keputusan yang benar pada saat yang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">(A) menjadi kata ANTISIPASI mengandung arti melakukan penyesuaian sikap dan perilaku sesuai dengan tuntutan perubahan atas peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi sehingga perlu mendorong keterampilan-keterampilan yang terkait dengan menghindari masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">(L) menjadi kata LAHIR BATIN mengandung arti segenap hati menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam proses berpikir untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebagai kisaran proses mental yang sadar dalam mengaktualisasikan proses pengambilan keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengungkapkan huruf dan kata dalam makna akal sebagai langkah kita untuk menggerakkan kemampuan berpikir melalui proses Antisipatif (A) dengan percaya diri sebagai wujud dari Kalbu (K) yang dapat menhayati atas pemanfaatan otak untuk melaksanakan Antisipasi (A) berdasarkan keyakinan Lahir-batin (L) dalam proses pe-ngambilan kepuutusan.</p>
<p style="text-align:justify;">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align:justify;">Akal sebagai alat pikir yang akan merespon dari proses berpikir kesadaran dan kecerdasan untuk memberikan jawaban tindakan apa yang diambil sekarang sebagai tindak lanjut dari pengambilan keputusan, oleh karena itu dengan pemahaman makna akal kita dapat menghayati untuk menanyakan hal-hal 1) apakah yang menjadi maksud dari keputusan; 2) adakah suatu keputusan sesungguhnya diperlukan sekarang; 3) apa kreteria pemilihan; 4) apa alternatif yang seharusnya anda pertimbangkan; 5) apa resiko yang dihadapi; 6) seberapa jauh keseriusan resiko tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanapun juga hasil kerja akal dengan penghayatan akan merespon pertanyaan-pertanyaan yang kita kemukakan diatas dari unsur otak dan hati artinya otak sebagai alat pikir dan hati sebagai alat menghayati. Dengan demikian kita berpikir dalam kerangka yang metodis atau dengan kata lain berpikir yang disadari.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan pemikiran diatas maka proses berpikir dengan memanfaatkan akal sebagai alat pikir menuntun kita dalam proses berpikir dengan tahapan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah pertama, adalah membuat pernyataan atas maksud keputusan, dengan mengajukan pertanyaan 1) adakah saya sedang mencoba membuat apa pilihan; 2) mengapa perlu-nya keputusan ini; 3) apa keputusan yang dibuat sebelum-nya. Dengan membuat tiga pertanyaan tersebut kita menco-ba merumuskan maksud tujuan pengambilan keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah kedua, adalah menggariskan kreteria sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan, jadi keputusan yang baik adalah mendapatkan hasil yang diperlukan berdasarkan kreteria yang ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah ketiga, adalah mengembangkan dan memban-dingkan alternatif-alternatif sebagai suatu langkah untuk menentukan pilihan atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah keempat, adalah langkah untuk mengambil kepu-tusan yang terbaik melalui analisis resiko artinya mengidentifikasikan dan menilai resiko.</p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir secara metodis yang kita kemukakan diatas menuntut adanya keterampilan kepemimpinan dalam memanfaatkan tri-tunggal sebagai unsur jiwa dalam proses pengambilan keputusan, bagaimana membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=130&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-proses-pengambilan-keputusan-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGEMBANGKAN PRINSIP  MERESPON ANTISIPATIF DALAM KEPEMIMPINAN KEWIRASWASTAWAN</title>
		<link>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-merespon-antisipatif-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/</link>
		<comments>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-merespon-antisipatif-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 13:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[ENTERPRENEUR 35]]></category>
		<category><![CDATA[ANTISIPATIF]]></category>
		<category><![CDATA[DALAM]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[KEWIRASWASTAWAN]]></category>
		<category><![CDATA[MENGEMBANGKAN]]></category>
		<category><![CDATA[MERESPON]]></category>
		<category><![CDATA[PRINSIP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraatr2025.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Hasil kerja kesadaran belumlah berarti apa-apa, sehingga kesadaran belaka tidak berdaya karena kesadaran menyadarkan apa-apa, barulah bermakna merespon antisipatip sebagai prinsip kedelapan karena melalui kecerdasan melaporkan kepada kita situasi permasalahan dan hubungan-hubungannya.
Oleh karena itu mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dalam merespon antisipatif merupakan prinsip kedelapan merupakan langkah untuk memanfaatkan otak atas sebelah kiri adalah yang berperan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=128&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil kerja kesadaran belumlah berarti apa-apa, sehingga kesadaran belaka tidak berdaya karena kesadaran menyadarkan apa-apa, barulah bermakna merespon antisipatip sebagai prinsip kedelapan karena melalui kecerdasan melaporkan kepada kita situasi permasalahan dan hubungan-hubungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dalam merespon antisipatif merupakan prinsip kedelapan merupakan langkah untuk memanfaatkan otak atas sebelah kiri adalah yang berperan untuk mengendalikan tubuh bagian kanan dengan fungsi menangani angka, lokika, analisis, sains, matematika dan hal lain yang terkait dengan pemikiran rasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kecerdasan sebagai alat pikir dalam merespon atas hasil kerja kesadaran, maka sebelum kita membuat langkah-langkah atas masalah-masalah yang kritis, pokok dan insidentil serta hubungan-hubungannya satu sama lain, maka proses berpikir tersebut dalam memandang masa depan terhadap situasi dari dalam dan dari luar lingkungan sendiri menuntun pemahaman kita saling keterkaitan antara hasil kerja kesadaran dan kecerdasan untuk melakukan proses perubahan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kecerdasan pula yang akan menuntun pemahaman atas proses perubahan yang akan menjelaskan tentang cara dalam proses perubahan itu sendiri dengan gaya bertahap (mengambil langkah sedikit demi sedikit dan berkelanjutan menjadi besar) ; gaya perubahan sistimatik (melakukan perubahan transformasi total sebagai tuntutan untuk meres-pon dengan cepat dan komprehensif). Gaya manapun yang akan diterapkan, menuntut adanya perubahan yang berencana, sehingga dalam mengaktualisasikan kecerdasan dalam proses berpikir haruslah berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mengarah kepada disfungsional (perkecualian; paksaan) atau perubahan-perubahan yang mengejutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan ungkapan diatas, maka kecerdasan sebagai alat pikir dan sebagai unsur jiwa dalam menangkap hal-hal yang terkait dengan masa depan, tidak dapat melepaskan dari pemikiran-pemikiran dari pengalaman masa lalu, sehingga pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman masa lalu menghasilkan pengetahuan masa sekarang membuka jalan untuk meramalkan masa depan.<span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align:justify;">MAKNA KECERDASAN</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menggerakkan kecerdasan atas pemanfaatan otak sebelah kiri untuk memberikan daya dorong yang saling mengisi atas kesadaran, maka diperlukan pemahaman makna kecerdasan dengan ungkapan seperti dibawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;">(K) menjadi kata KETERAMPILAN mengandung arti kecakapan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kecerdasan memanfaatkan ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) dalam mengha-yati keadaan masalah dan hubungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">(E) menjadi kata EMOSI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kecerdasan dalam  memanfaatkan potensi unik, komitmen, intergritas dan pengaruh tanpa kekuasaan.</p>
<p style="text-align:justify;">(C) menjadi kata CAKRAWALA mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan jangkauan pandangan dan adanya kecelasan arah.</p>
<p style="text-align:justify;">(E) menjadi kata EKSPANSIF mengandung arti sikap dan perilaku untuk melaksanakan kemampuan berpikir yang bebas dan terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">(R) menjadi kata RASIONAL mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan pendapat yang bersistem dan logis.</p>
<p style="text-align:justify;">(D) menjadi kata DETEKSI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerak kemampuan berpikir dengan memanfaatkan usaha menemukan atau melacak dalam mendeteksi hala-hal yang terkait ke masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">(A) menjadi kata AMBISI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan naluri yang ditimbulkanya secara baik.</p>
<p style="text-align:justify;">(S) menjadi kata STRUKTUR mengandung arti sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan bagaimana cara sesuatu disusun atau dibangun.</p>
<p style="text-align:justify;">(A) menjadi kata ANTISIPASI mengandung arti sikap dan perilaku yang mampu memotivasi kemampuan berpikir dengan memanfaatkan penyesuai-an atas perubahan yang akan terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">(N) menjadi kata NALAR mengandung arti sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan kekuatan pikir dari bebarapa fakta atau prinsip.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengungkapkan huruf dan kata dalam makna kecerdasan sebagai langkah untuk menindak lanjuti dari hasil kesadaran dengan menggerakkan kemampuan berpikir melalui proses Keterampilan (K), atas pemaham-an kedalaman Emosi (E) yang memiliki Cakrawala (C)  secara Ekspansip (E) dan Rsional (R) untuk melakukan Deteksi (D) sesuai dengan Ambisi (A) yang benar dengan Struktur (S) berlandaskan Antisipasi (A) berdasarkan Nalar atas pehaman yang mendalam atas fakta dan prinsip.</p>
<p style="text-align:justify;">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align:justify;">Kecerdasan sebagai alat pikir harus dapat kita tumbuh kembangkan dengan mengoptimalkan otak atas sebelah kiri yang berfungsi menangani angka, logika, analis, sains, matematika dan hal lain yang terkait dengan pemikiran rasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila dengan kesadaran mengungkapkan untuk menyadarkan apa-apa, maka dengan kecerdasan memberitahukan dalam pikiran kita keadaan masalah dan hubungan-hubungannya, maka memanfaatkan kecerdasan dalam proses berpikir akan membentuk kebiasaan agar segala sesuatu untuk dipikirkan kesinambungan komunikasi antara kecerdasan dengan kesadaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian mengembangkan kecerdasan kepemimpinan yang didorong oleh pemahaman huruf dan kata yang bermakna atas kecerdasan membentuk kebiasaan dalam proses berpikir untuk meningkatkan keterampilan berpikir secara sadar dan metodis dalam menumbuh kembangkan rasa optimis, percaya diri dan tetap berhubungan dengan realitas dalam memprediksi atas masalah dan hubungannya atas peristiwa yang bakal terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dengan mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dapat mendorong keterampilan dalam mengungkapkan tindak lanjut dari hasil kesadaran menjadi usaha-usaha mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan proses analisis penyebabkannya dengan langkah berpikir kedalam 1) merumuskan masalah yang dihadapi dengan menyatakan masalah kritis, pokok dan insidentil ; 2) menetapkan perbandingan yang terbaik melalui what, where, when dan magnitude ; 3) mengidentifikasi kejelasan yang terkait antara fakta-fakta yang diopservasi dengan fakta-fakta dibandingkan; 4) merespon penyebab dan membuktikan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraatr2025.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraatr2025.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraatr2025.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraatr2025.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraatr2025.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraatr2025.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraatr2025.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraatr2025.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraatr2025.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraatr2025.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraatr2025.wordpress.com&blog=1886949&post=128&subd=suaraatr2025&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraatr2025.wordpress.com/2008/11/29/mengembangkan-prinsip-merespon-antisipatif-dalam-kepemimpinan-kewiraswastawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>