27. MEMBANGUN PRIBADI PENUH MAKNA DALAM KEPEMIMPINAN
1. PENDAHULUAN
Usaha-usaha kebiasaan pikiran yang digerakkan untuk membangun pribadi penuh makna dalam perjalanan hidup abadi dalam kepemimpinan, bermula dari daya kemauan yang kuat berdasarkan impian yang telah digariskan dalam visi hidup anda. Seperti dalam tulisan terdahulu, kami mengungkapkan pikiran visi hidup dalam rumusan yang mencakup berpikir, berkerja dan belajar sebagai tuntunan arah perjalanan ke masa depan.
Sejalan dengan pikiran diatas, maka usaha membangun pribadi penuh makna kita diingatkan tentang manusia terkait dengan siapa, darimana, kemana ? Oleh karena itu, dengan kekuatan berpikir dan belajar, kita dapat memahami usaha-usaha yang terkait dengan peningkatan kebiasaan dalam pencerahan, maka disitu terletak bagaimana kita memanfaatkan benih-benih jiwa yang digerakkan oleh kesadaran, kecerdasan dan akal, sebagai satu kekuatan untuk berpikir.
Bertolak dari kebiasaan dalam pencerahan, menjadi satu kekuatan untuk mendorong kekuatan berpikir dalam ketaatan dan postif, maka disitu terletak kekuatan melepaskan diri dari berpikir maksiat dan negatif sehingga kita mampu membangun kebiasaan dalam mewujukan keinginan dengan daya kemauan yang kuat untuk menjawab arti keberadaan anda di bumi ini.
Usaha-usaha kita untuk menjawab arti keberadaan manusia di bumi ini, adalah sejalan yang sedangkan kita pikirkan yaitu untuk membangun pribadi penuh makna dalam perjalanan hidup abadi.
Dengan demikian melalui pencerahan kedalam benih-benih jiwa, maka kekuatan berpikir mampu mengungkit kekuatan keyakinan yang mendorong kedalam komitmen terhadap serangkaian langkah tindakan. Oleh karena itu janganlah pernah meragukan bahwa tindakan, kepercayaan dan keuletan anda akan mencapai sasaran anda yang secalan dengan visi hidup anda.
Jadi dalam kehidupan ini merupakan sebuah pulau di lautan kesunyian dan bagi pulau itu bukit karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan dan sungai merupakan damba kehausan.
Pikiran tersebut menuntun hidup kita, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain, begitulah kekuatan pikiran yang membayangkan bahwa kita tidak dikenal sesama insan dan merasakan terpencil dari keakraban dan perhatian. Dengan bayangan pikiran tersebut memberikan satu kekuatan daya kemauan untuk mendalami makna mengenang kehidupan kita menjelang ajal datang, oleh karena itu ketika kita menengok ke belakang, apakah yang kita sesali kurang kita perbuat ? Sekaranglah waktunya kita berbuat.
2. TEMPUHLAH JALAN MENUJU PENCERAHAN
Bangkitkan kekuatan kebiasaan pikiran dalam pencerahan bagi siapapun yang memiliki daya kemauan yang kuat yang ditumbuhkan oleh kekuatan komitmen dalam diri sendiri seperti halnya menumbuh kembangkan di satu sisi kedalam kepercayaan (islam) dan disisi lain kedalam keyakinan (iman).
Kedua kata berupa kepercayaan dan keyakinan haruslah menjadi kekuatan daya dorong untuk mengungkit daya ingat agar kita selalu siap melaksakan pencerahan, oleh karena itu berilah ruang sejnak untuk memikirkannya dalam suasana kita seperti merenung makna hidup yang kita jalani. Bertekadlah untuk menggerakkan kekuatan jiwa dalam pemanfaatan kesadaran, kecerdasan dan akal dalam pikiran ketaatan dan berpikir positif, jauhkan pikiran dari maksiat dan negatif.
Belajar dengan mendalami pencerahan, bangkitkan pikiran kita untuk memberi makna hidup ini dengan kebiasaan berpikir intuitif untuk kita renungkan kembali makna “Manusia sebagai khalifah Allah di bumi” sejalan dengan daya kemauan yang kuat dalam “ memakmurkan dan memerbaiki bumi”
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka pencerahan yang kita ungkapkan dibawah ini sebagai landasan dari kekuatan kepercayaan dan keyakinan yang mampu memberi makna arti hidup ini berupa :
Pertama, apa arti dan dampak dalam pikiran kita mengenai iblis berhasil merayu Adam a.s. dan Hawa a.s. untuk memakan buah pohon yang Allah Swt. Larangan ,akibat perbuatan maksiat memakan buah pohon larangan yaitu 1) tersingkapnya aib : tampaklah aurat mereka dan mulailah keduanya menutupi aurat dengan dedauan surga ; 2) Terusir dari surga ; 3) Disebut durhaka ; 4) Dikecam.
Dalam fase ini, 1) Ia sadar bahwa pada dirinya terdapat tiupan dari Allah Swt ; 2) Ia mndapat berbagai sifat agung ; 3) Ia menyadari realitas kehidupan dan bahwa iblis memilki tujuan : menghinakan dan menjerumuskan dirinya dalam maksiat ; 4) Ia sadar bahwa dalam kehidupan terdapat pranata tobat kepada Allah Swt.
Kedua, apa yang dapat kita petik dalam benih-benih jiwa dalam kurun waktu yang sangat panjang, maka diutuslah Nabi Nuh a.s., seharusnya manusia belajar eluruh hidupnya berlandaskan ajaran islam artinya mula dunia ini seluruhnya berupa ketundukan kepada Allah Swt.
Apa yang terjadi atas manusia ketika harta, dan teknologi semakin meningkat, maka manusia menjadi sombong kepada Pencipta bukan sebaliknya dengan harta , ilmu, dan teknologi makin meningkat makrifat dan keimanan kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, renungkanlah dalam kekhalifahan dengan amal nyata sebagai satu kekuatan dalam sikap dan perilaku yang sejalan dengan kebiasaan dalam menjalankan prinsip-prinsip dalam berdakwah (berikanlah motivisi, janjikan hal yang terkait dunia dan akhirat, ajaklah membaca Alquran, ingatkanlah hakikat kembali kepada Allah Swt)
Bertolak dari kekuatan pikiran dalam perjalanan akhir kisah Nuh a.s. untuk mengingatkan kepada kita bahwa untuk membangun negeri dibutuhkan apa yang kita sebut dengan kekuatan pikiran dalam kesabaran dan pengorbanan.
Ketiga, apa yang dapat kita petik dalam benih-benih jiwa dari kehidupan Nabi Ibrahim a.s. memiliki usia yang cukup panjang. Sejak lahir, ia telah mempersembahkan pngorbanan untuk menggapai apa yang menjadi perhatian utamanya sebagai hal terpenting baginya yaitu ketaatan kepada allah Swt.
Fase pertama, diawali dengan 1) mendakwahi orang tuanya ; 2) mendakwahi kaumnya ; 3) menghancurkan berhala, lalu 4) dilmpar ke dalam api.
Fase kedua, 1) menghadapi raja Namrud mengajaknya ke jalan Allah, tapi ia menolakna ; 2) berhijrah dari Irak ke Syam ; 3) berhijrah dari Syam ke Mesir ; 4) berhijrah dari Mesir ke Palestina.
Fase ketiga, 1) meninggalkan istrinya, Hajar dan anaknya Ismail di lembah Mekah di tengah gurun pasir ; 2) melaksanakan perintah penyembelihan Ismail a.s. ; 3) membangun Ka’bah ; 4) Wafat.
Bertitik tolak dari fase kehidupan diatas, maka dalam Mendalami fase kehidupannya, maka keterampilan dalam hidup yang terkait dalam bekerja dan berintreraksi adalah 1) seni berbicara dan berintrekasi ; 2) sikap proaktif ; 3) pemikiran rasional ; 4) program pelaksanaan pemikiran.
Sejalan dengan kebiasaan pikiran diatas, maka kekuatan pikiran dalam melakukan dialog 1) dengan ayahnya ; 2) dengan kaumnya ; 3) dengan raja; 4) dengan para penyembah bintang., maka setiap sikap dan perilaku yang diperlihatkannya sejalan dengan adab memberikan pelajaran.
Oleh karena itu, kekuatan dalam kebiasaan pikiran yang ditumbuhkannya bertolak dari dari kekuatan apa yang disebut dengan “bertawakallah dengan sukarela, niscaya hidupmu nikmat.
Keempat, apa yang dapat kita petik dalam benih-benih jiwa dari kehidupan Nabi Yusuf a.s. dimana memulai hidup dengan mimpi yang dialaminya saat masih kecil. Ia mengadu kepada ayahnya : Ingatlah ketika Yusuf kepada ayahnya “ Wahai ayahnya, aku bermmpi melihat sebelas bintang, , matahari, dan bulan, kulihat semuanya bersujud kepadaku” Ayahnya menandaskan “ jangan kauceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu”
Dia mahakuasa mewujudkan kehendaknya seperti yang terungkap dalam 1) dia mahakuasa mewujdkan kehendaknya saat sadara-saudara Yusuf a.s. disaat menjadikan serombongan musafir keliru jalan sehingga sampai ke tengah gurun pasir dan mengeluarkan Yusuf a.s. dari sumur. ; 3) dia mahakuasa mewujudkan kehendaknya saat menjadikan rombongan musafir itu menjual Yusuf a.s. kepada al-Aziz di Mesir yang kala itu menjabat sebagai menteri ekonomi. Meskipun menjadi budak di rumah sang Menteri, Yusuf a.s. bisa belajar ekonomi ; 4) dia mahakuasa mewujudkan kehendak-nya saat raja bermimpi ; 5) dia mahakuasa mewujudkan kehendak-nya saat Yusuf a.s. dizalimi oleh isteri a-Aziz hingga dijobloskan dalam penjara, kemudian raja meminta untuk bertemu dengannya ; 6) dia mahakuasa mewujudkan kehendaknya saat orang yang menuangkan minuman untuk raja dimasukkan dalam penjara padahal ia tidak bersalah, sehingga ia bertemu dengan Yusuf a.s. 7) dia mahkuasa mewujudkan kehendak-nya saat menjadikan seluruh Mesir dan dunia Arab membutuhkan Yusuf a.s. sehingga saudara-saudaranya datang kepadanya guna mempertemukannya kembali dengan orangtuanya ; 8) dia mahakuasa mewujudkan kehendak-nya saat menadikan Yusu a.s. terhormat di sisi raja serta menjadikannya tokoh penyelamat Mesir dan dunia Arab dari paceklik dan pengangguran.
Setelah dua puluh tahun tanpa putus asa, gerakan perbaikannya, Allah swt. Menjadikan kondisi-kondisi yang mendukungnya, ia tidak sombong, ia terima saudara-saudaranya dengan penuh kerendahan hat.
Kelima, apa yang dapat kita petik dalam benih-benih jiwa dari kehidupan Keluarga Imran, dimana pada bagian ini mengungkapkan peran keluarga yang sangat memengaruhi dalam melaksanakan perbaikan berbeda dengan peran utama yang kita ungkapkan sebelumnya.
Oleh karena itu, pikirkanlah rencana untuk memberikan konstribusi bagi kemajuan negeri kalian. Berintraksilah dengan tetangga dengan penuh amanah. Carilah pintu-pintu kebaikan dan program-program sosial. Lakukan apa saja asalkan untuk perbaikan dan kemajuan sebagai pesan orang tua.
Sejalan dengan pikiran diatas maka diperlukan kebersamaan di tengah keluarga untuk membahas hal-hal yang berkaiatan dengan usaha-usaha untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan agar dalam bersikap dan berperilaku sejalan.
Keenam, apa yang dapat kita petik dalam benih-benih jiwa dari kehidupan Muhammad saw., perlu kita pahami kisah para nabi bukan sekedar untuk diperbincangkan, tetapi merupakan landasan bagi generasi sesudahnya.
Oleh karna itu, kisah para Nabi adalah pelajaran tentang bagaimana melakukan perbaikan, dan kita diciptakan untuk melakukan perbaikan di bumi sehingga merupakan contoh yang mengajarkan kesabaran, pengorbanan, dan ketawakalan.
Dalam QS.3 : 82” Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersamakamu”.
Dengan merenung apa yang tertulis diatas, Allah Swt. Telah mengumpulkan semua Nabi sejak awal penciptaan dan Dia telah mengambil perjanjian “ bila engkau hidup di masa Rasulullah saw., engkau harus mengikutinya. Wahai Ibrahim bila Aku mengutus Muhamad, engkau harus menolongnya. Wahai Isa, wahai Musa,Wahai Nuh, bila Aku mengtus Muhammad, tolonglah ia!”
Sejalan dengan pikiran diatas gerakkan pendekatan 7M ( Membaca, menterjemahkan,, Meneliti, Mengkaji, Menghayati, Memahami, Menga-malkan) sebagai suatu pendekatan untuk mengungkit kebiasaan pikiran. Oleh karena itu simaklah 1) Permulaan turunnya wahyu ; 2) Permulaan Kenabian ; 3) Permulaan Dakwah ; 4) Penganiayaan terhadap sahabat ; 5) Posisi dan wafatnya Khadijah r.a. ; 6) Dakwah di luar Mekah ; 7) Hijrah Rasul saw. ; 8) Haji Wada ; 9) Risalah yang telah Sempurna ; 10) Kepergian Nabi.
3. PENUTUP
Sejenak bila kita renungkan bahwa masa yang kita miliki adala hari ini, oleh karena itu dengan kekuatan kepercayaan da kekuatan keyakinan dalam menjalani hidup ini terbangun oleh pkiran kita sendiri, sehingga usaha-usaha “membangun pribadi penuh makna dalam kepemimpinan” sangat bergantung dari kekuatan daya kemauan yang kuat sehingga menjadi kebiasaan untuk menempuh jalan menuju penceraan secara berkesinambungan.
Oleh karena itu, tingkatkan pendekatan 7 M sebagai langkah untuk mengungkit daya ingat agar kita selalu berusaha untuk memanfaatkan kebiasaan berpikir dan belajar sebagai daya dorong untuk menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal.
Sejalan dengan apa-apa yang kita utarakan diatas, renungkanlah makna yang terkandung dalam QS. 2 : 30” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
QS. 33 : 72“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,“
Kedua surat diatas mengingatkan kepada kita sebagai „Sebagai khalifah dimuka bmi“ dan disisi lain mengingatkan kepada kita „Amanat bagi manusia“, oleh karena itu tempuhlah jalan menuju pencerahan artinya gerakan kebiasaan pikiran pencerahan menuntun untk memanfaatkan berpikir baik baik dengan metodis (otak dan hati) dan non-metodis (hati), maka terbukalah jalan untk siapapun di saat sekarang ini. Jadi tempuhlah jalan menuju pusat pencerahan anda sendiri. Carilah hikmat, buku-bku dan guru-guru rohaniah yang akan membantu anda mencapainya.
Dengan demikian bila ada daya kemauan yang kuat, maka disitu terletak kita secara berkesinambungan meningkatkan kedewasaan berpikir dalam „rohaniah, sosial, emosional dan intelektual“ agar terjadi perubahan tingkat mendasar dari kesadaran inderawi (paling rendah di mata Allah Swt) menju ke tingkat yang lebih tinggi (ilimiah dan logis, rohaniah dan tauhit)
