PENDAHULUAN :
Dua tulisan terdahulu telah kita utarakan mengenai (1) Melaksanakan Perubahan , (2) Kesadaran menggerakkan Daya Kemauan yang Kuat, pada (3) Mengkomunikasikan Keputusan Strategik merupakan pemikiran untuk mewujudkan agar pencapaian organisasi mampu memberikan berkinerja tinggi.
Oleh karena itu, untuk menjawab kepentingan stakeholders, maka perlu untuk menggerakkan kebiasaan pikiran yang produktif dalam rangka mengkomunikasikan keputusan strategik, dimana peran CEO harus mampu merealisasikan semua kepentingan yang terkait dengan organisasi. Jadi untuk mewujudkan itu banyak perusahaan berhasil melaksanakan salah satu alat manajemen yang disebut dengan “Balanced Scorecard”. sebagai suatu pendekatan.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka output yang disajikan harus mampu memberikan informasi kepada semua pihak-pihak yang berkepentingan, khususnya kepentingan kedalam, dengan begitu peran CEO akan menjadi lebih efisien, efektif dan berkualitas.
LANGKAH MEMIKIRKAN KEPENTINGAN KEDALAM
Peran CEO harus mampu mengkomunikasikan keputusan strategik agar keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan organisasi yang sejalan dengan kepentingan stakeholder lainnya. Oleh karena itu, Peran Kepemimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi formal, mampu memikirkan dan melaksanakan hal-hal yang kita sebutkan dibawah ini :
Pertama, memahami dan mendalami kepentingan karyawan sebagai pelanggan internal yang sejalan dengan pelanggan eksternal, dengan begitu maka tingkat pengalaman tersebut membuka kekuatan berpikir untuk memecahkan aktivitas yang sejalan dengan rencana dan bila perlu fungsi kontrol ( pengawasan dan pengendalian) harus berjalan sesuai sistem dan prosedur yang dibuat namun tidak kaku dalam pelaksanaannya.
Kedua, CEO dan kepemimpinan pada semua tingkatan menjadi sentral kekuatan kebiasaan pikiran yang harus dikomunikasikan secara kelanjutan agar semua keputusan strategik (visi, misi,budaya, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan) dapat direalisir dengan baik dengan kejelasan perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.
Ketiga, CEO harus mampu menjadi penggerak kreativitas dan inovasi organisasi yang sejalan dengan tuntutan perubahan yang serba komplek dan cepat, karena kuncinya terletak dari kemampuan melihat dari luar ke dalam yang terkait dengan pertukaran nilai yang saling menguntungkan. jadi tidak cukup hanya memiliki kemampuan kompetensi dalam produk, harga, tempat, dan promosi.
Keempat, mendalami makna pelanggan dan pemasaran, yang digerakkan oleh CEO, sehingga ia mampu memberikan inspirasi dalam menciptakan jenis pemasaran yang lebih baru dalam organisasi.
Kelima, CEO dan Kepemimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi formal, harus mampu meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan dalam kerangka memanfaatkan fungsi dan tugas pemasaran yang sejalan dengan kebutuhan perubahan dengan meningkatkan hal-hal yang terkait dengan 1) keberadaan organisasi ; 2) sikap dan perilaku yang sejalan dengan kepentingan pelanggan ; 3) melaksanakan sistem umpan balik dan mengkurnya ; 4) tersedianya sistem pengambilan keputusan ; 5) kejelasan tanggung jawab, wewenang dalam peran.
Keenam, kebutuhan akan kompetensi untuk mengaplikasi SWOT sebagi alat manajemen yang harus diterapkan, sehingga mampu merumuskan arah masa depan.
Ketujuh, memiliki kemampuan dari CEO dan kepemimpinan semua tingkatan sesuai dengan fungsinya, tidak bisa tidak memikirkan kebutuhan melakukan penataan demi keberhasilan, yang yang terkait dengan pelanggan dan pemasaran.
KESIMPULAN
Kebiasaan pikiran yang kuat yang harus ditumbuh kembangkan adalah adanya kompetensi u ntuk mengkominikasi keputusan strategik kepada stakeholders sebagai satu kebutuhan dalam rangka meningkatkan berkinerja tinggi dalam organisasi yang diperankan oleh CEO dan kepemimpinan semua tingkatan dalam organisasi formal yang mampu memikirkan dan melaksanakan makna pelanggan dan pemasaran.
Dengan kekuatan pemahaman atas makna pelanggan dan pemasaran harus mampu menumbuh kembangkan pemikiran-pemikiran baru untuk menembus dan merebut peluang-peluang yang terbuka.
