PENDAHULUAN
Pada bagian pertama telah kita utarakan mengenai pemahaman pola pikir dalam menentukan pilihan cara mendapatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan perjalanan hidup ini. Apapun pilihannya sudah merupakan keputusan anda untuk dijalankan.
Setiap orang dapat pula menginginkan perubahan dalam perjalanan hidup mereka, yang memutuskan untuk berubah, sudah tentu menghadapi resiko dan tantangan. Untuk orang yang ingin berubah, ia meyakini dalam berpikir untuk tidak terlalu cemas menghadapi masa depan. Keberanian mengambil keputusan menjadi wirausaha, sudah tentu berdasarkan pertimbangan yang mendalam dari satu keinginan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Merebut kesempatan yang ada disekeliling kita, kita meyakini pula memiliki kemampuan memanfaatkan otak untuk pandai melihat, mengenalinya serta mengikuti perkembangannya. Jadi memaksimumkan peluang masa datang pada orang sebanding dengan kecakapan, kemauan bertindak, kemauan memandang jauh, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang dunia usaha.
Kemampuan untuk merealisasikan keputusan atas kesempatan datang sekali dan tidak jarang pula banyak orang mengatakan kurang kesempatan baginya, atau dengan kata lain ia membela diri bahwa dirinya tidak pernah mendapat kesempatan.
Oleh karena itu sekali keputusan yang diambil menjadi wirausaha, maka saat ini dan seterusnya tidak pernah akan ada kesempatan untuk memaksimumkan peluang-peluang yang ada, kecuali anda meyakini benar bahwa jangan cemas menghadapi masa depan dengan kemauan yang keras untuk mewujudkannya melalui satu proses membangun kebiasaan yang efektif.
MEMPERSIAPKAN KESEMPATAN
Masih banyak orang beranggapan bahwa kesempatan itu umumnya adalah persoalan nasib. Disinilah letak persoalan yang dihadapi oleh setiap orang yaitu perubahan cara kita berpikir bahwa bila kita meyakini dimana manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang berbeda dengan yang lainnya dan diberikan – NYA dengan ilmu yang sedikit, itu satu tanda kita harus belajar secara berkelanjutan.
Dengan pikiran itu, manfaatkanlah otak untuk merebut kesempatan, walaupun kita menyadari bahwa nasib kalau memang ada memegang peran yang kecil dalam membentang kesempatan oleh karena itu renungkan kembali bahwa bagian dari nasib adalah keuntungan-keuntungan, sehingga anugerah keuntungan tidak memandang kepada siapapun adanya.
Jadi ingatlah selalu bahwa kesempatan adalah sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk meletakkan sebelah kakinya di sebelah dalam dari pintu sukses, tapi bukan berarti telah memecahkan pintu. Jadi salah satu yang paling sulit terlambatnya memperoleh rencana di samping kesibukan mengejar kesempatan karena ia tidak mampu memanfaatkan otak untuk berpikir dengan alat pikir yang telah tersedia, yang disebut dengan kesadaran, kecerdasan dan akal.
Dengan alat pikir itulah seseorang mempersiapkan kesempatan, apa saja yang harus dilakukan orang, tidak lain ia harus bekerja, belajar, membaca, berpikir, melakukan pengamatan, sehingga ia mampu bersikap dan berperi-laku untuk waspada mengamati kesempatan, bijaksana dan berani mempertimbangkan kesempatan, kuat dan ulet memanfaatkan kesempatan agar berhasil sebaik-baiknya, namun akhirnya ia berserah diri kepada sang pencipta adanya, Dialah menentukan segala-galanya.
Jadi dengan otak manusia pula, ia harus mampu menemukan tentang dirinya agar secara jujur terungkap dalam pikirannya bahwa dalam mempersiapkan kesempatan, maka ia harus berani mengungkapkan kekurangan-kekurangan pribadi agar secara sistimatis langkah pertama menuju perbaikan diri sendiri harus dilakukannya, dengan harapan agar seseorang dapat memastikan diri dalam usaha untuk memusatkan pikiran tugasnya, jika perlu membangun kembali kepribadiannya.
Kepribadian yang dibentuk dan dikembangkan disini haruslah dipandang sebagai salah satu tonggak yang menentukan dalam keberhasilan mewujud-kan impian visinya, oleh karena itu ia harus dipandang sebagai satu pola menyeluruh kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intlektual dalam bersikap dan berperilaku sebagai mana dikehendakinya.
MEMBANGUN KESAN KEPEMIMPINAN
Membangun kepribadian seperti yang kita utarakan diatas, merupakan esensi sebagai kepemimpinan yang mampu membangun kesan sebagai suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama.
Membangun kesan kepemimpinan haruslah dipandang sebagai strategi dalam mengemban tanggung jawab, sehingga menjadi kewiraswastaan atau pengusaha haruslah tumbuh dan berkembang dalam satu kesan secara perlahan-lahan, langkah inilah yang akan menuntun sikap dan perilaku dari aktualisasi kepribadian yang ditunjukkan bahwa tak ada orang yang membuat reputasi baik sedemikian cepat.
Perlu kita sadari pula bahwa kepemimpinan efektif, juga dibentuk oleh pendapat-pendapat berkembang secara lambat dan sekali terbentuk, mereka mengeras ibarat beton. Oleh sebab itu tidaklah pernah terlalu dini bagai seorang pengusaha yang sangat berambisi untuk melangkah kedalam sikap dan perilaku eksekutif teladan, tapi sebaliknya mungkin akan terlambat baginya jika ia terus mengikuti kebiasaannya tidak pada jalan-jalan yang benar dan terarah.
Oleh karena itu, haruslah dibayangkan kedalam kemampuan berpikir bahwa reputasi seseorang ditentukan oleh kepribadiannya, untuk mengingatkan kita bahwa karena tak ada jalan lain untuk menerangkan mengapa begitu banyak orang terus membuat kesalahan-kesalahan yang sama hari demi hari, menghapuskan segala kemungkinan mereka mencapai suatu tingkat keberhasilan. Oleh karena itu, setiap keberhasil juga memperlihatkan kepada kita bahwa suatu gambaran yang benar memerlukan pengorbanan.
Jadi disatu sisi reputasi menambah keberhasilan, disisi lain merupakan gambaran yang benar memerlukan pengorbanan, sehingga mungkin pengorbanan terbesar yang dibutuhkan seorang sangat berambisi berkisar disekitar disiplin diri. Ia harus belajar mengendalikan diri. Ia harus belajar mengendalikan diri. Ia harus menahan keinginannya, menaikan batas emosinya dan umumnya melatih kemajuan zaman dari perubahan masyakat informasi ke arah masyarakat pengetahuan.
PENUTUP
Pilihan menjadi pengusaha berarti membangun dan mengembangkan satu kepribadian sesuai dengan tuntutan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang kedalam kepemimpinan efektif yang sejalan dengan usaha-usaha mengembangkan kebiasaan yang efektif.
Mempersiapkan kesempatan merupakan awal perubahan sikap dan perilaku dalam usaha mengembangkan kebiasaan yang efektif yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intlektual.
Dengan membangun kebiasaan yang efektif secara bertahap, maka akan melahirkan satu kesan kepemimpinan yang memiliki reputasi yang mengingatkan setiap orang dalam ia bersikap dan berperilaku dalam mencapai keberhasilan.
Setiap keberhasilan memerlukan satu pengorbanan yang sebenarnya dalam mewujudkan kepemimpinan yang dipandang sebagai strategi dalam mengemban tanggung jawab sesuai dengan tuntutan perubahan.
