Feeds:
Posts
Comments

1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Kita menyadari sepenuhnya perang kemerdekaan dimulai dengan Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.

Namun demikian perlu kita sadari bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan yang dimulai dari pergerakan nasional pada permulaan abad ke-20 dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perjuangan yang sebelumnya dilaksanakan secara sedaerah-daerah, namun terdapat pebedaan kualitatif dalam perjuangan dimana unsur modernisasi mempengaruhi pola berpikir.

Tapi perlu untuk diingat bahwa penjajahan Belanda mempengaruhi proses perubahan dalam bersikap dan berperilaku dalam memasuki proses modernisasi. Proses itu tidak berakhir setelah kita mengakhii penjajahan Belanda, melainkan kita melanjutkan dan meningkatkan proses modernisasi itu dalam pembinaan bangsa.

Disatu sisi kita menyadari satu sumber kekuatan selama perjuangan kenmerdekaan ialah kemampuan bangsa kita untuk memelihara dan terus meningkatkan perastuan dan kestuan nsional kita sambil menghormati secara wajar keanekaragaman dalam rangka persatuan dan keatuan nasional itu. Hal itu paling nyata dilambangkan oleh PANCASILA tidak hanya dasar Negara secara formal saja, tetapi juga telah menempa identitas bangsa kita.

Disisi lain bahwa dalam perjuangan kemerdekaan kita yang telah disusul oleh pembinaa bangsa, revolusi dan pembangunan yang diiukuti perubahan dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi tidak menunjukkan perhatian yang terfokuskan mengenai “pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan”. Dapat kita baca hal tersebut yang ditulis oleh para pemikir seperti Soejatmoko dalam bukunya “Dimensi manusia dalam pembangunan”, Prof Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan”, Mochtar Lubis dalam bukunya “ Manusia Indonesia”

Apa yang terjadi, para pemikir tidak lepas dari perdebatan yang dikenal “Polemik Kebudayaan” kearah mana pengembangan dan perkembangan Kebudayaan Nasional Indonesia seharusnya berkiblat ? budaya barat atau arah budaya yang sudah mentradisi di dunia timur khususnya di bumi Nusantara ?

Polemik yang berkepanjangan tidak jelasnya rumusan tentang “budaya berbangsa dan bernegara Indonesia” dalam menafsirkan seperti yang termuat dalam UUD ’45 yang tertuang dalam pasal 32 “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia” (sebelum dirubah) serta uraian dalam penjelasan yang berbunyi “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya Rakyat Indonesia seluruhnya.” “Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kea rah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari ebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan

Pasal tersebut terdapat perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002, yang berbunyi “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya” “(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”

Dari rumusan atas perubahan yang diungkapkan diatas hanyalah mendorong adanya pemikiran polemik yang berkepanjangan dan hal itu yang diinginkan oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tuntunan dalam kebrsamaan dalam bersikap dan berprilaku dalam mengaktualisasikan kesatuan dalam pemikiran yang tidak memiliki budaya berbangsa dan bernegara yang kuat karena tidak memiliki kredebilitas manusia Indonesia seutuhnya.

Bertitik tolak dari apa yang kita kemukakan diatas, maka dipandang perlu untuk merumuskan kembali apa yang diungkapkn dalam pasal 32 UUD ’45 seselum perubahan dengan mencantumkan ayat (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Pealsanaannya diatur lebih lanjut dalam peraturan pemrintah. Dalam penjelasan ditambahkan kedalam satu alenia baru yang berbunyi “ Diprlukan satu rumusan Budaya Berbangsa dan Bernegra Indonesia sebagai aturan dan tuntunan yang harus dianut dalam bersikap dan berperilaku sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam memberikan arah Kreabilitas Bangsa Indonesia. Continue Reading »

PENDAHULUAN

Sebaiknya setiap kepemimpinan entrepreneur harus belajar dari pengalaman perusahaan yang sukses meningkatkan pertumbuhan, mengapa yang terjadi saat ini perusahaan yang mengelola system teknologi informasi , cenderung mengalami penurunan pertumbuhan yang dapat berdampak atas daur hidup perusahaan yang terus membawa akibat ketidak pastian dalam usaha meningkatkan prtumbuhan.

Pengalaman telah menunjukkan suatu gambaran dari pengalaman perusahaan yang besar dengan kehilangan pandangan atas strategi dan kebijaksanaan yang ditempuhnya, yang berdampak kemunduran sebagai akibat 1) Kurang mampu membuat keseimbangan kepentingan dari pada stakeholders sehingga eksploitasi waralabanya secara berlebihan demi kepentingan pemilik ; 2) Melakukan investasi dan perluasan dengan sangat berlebihan dan tidak fokus pada pasar yang dituju, sehingga tidak mampu menghadapi pesaing dengan kekuatan keuangan yang kuat ; 3) Kurang memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keunggulan dalam pemilikannya sehingga dapat terjebak dalam system pengelolaan bisnisnya ; 4) Kurang memberikan perhatian yang terfokuskan dengan kepentingan pelanggan yang sejalan dengan tuntutan perubahan yang dikehendakinya dalam melaksanakan pemecahan secara menyeluruh ; 5) Ketidakmampuan dalam melaksanakan penelitian pasar dan fungsi produk baru yang berdampak sulit menghadapi pendatang baru.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dalam melangkah diperlukan prinsip-prinsip dasar yang harus ditegakkan sebagai satu pendekatan pertumbuhan di satu sisi dan di sisi lain diperlukan kejelasan untuk meminimalkan resiko saat ini dan masa depan. Beberapa prinsip yang harus ditegakkan adalah yang terkait dengan 1) Melaksanakan diversifikasi yang sejalan dalam usaha membagikan resiko ; 2) Melaksanakan pertubuhan yang sejalan dengan kebutuhan yang terkait dengan keseimbang kepentingan stakeholders ; 3) Secara jelas melaksanakan perluasan yang bersifat organik dan atau akuisisi atau keseimbangan dari dari keduanya ; 4) Membangun dan mengembangkan pengelolaan berbasiskan nilai yang lebih terarah dalam keseimbangan kepentingan stakeholders ; 5) Menumbuh-kembangkan kemampuan dalam melaksanakan pertumbuhan secara berkelanjutan ; 6)
Mengamankan secara jelas kebiasaan yang produktif untuk melaksanakan pertumbuhan.

Dengan meletakkan landasan prinsip tersebut diatas, diharapkan usaha kepemimpinan entrepreunur dalam melaksanakan pertumbuhan yang berkelanjutan diperlukan suatu kekuatan dari pada pelaksanaan pengelolaan berbasiskan budaya organisasi yang dibangun untuk mengembangkan disiplin pertumbuhan yang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan 1) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan dalam kemampuan mempertahankan basis pelanggan perusahaan (strategi 1) ; 2) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan dalam meningkatkan pangsa pasar (strategi 2); 3) Meletakkan pemikiran yang terfokuskan memposisikan pasar (strategi 3) ; Meletakkan pemikiran yang terfokus-kan pada penetrasi pasar (strategi 4) ; Meletakkan pemikiran yang terfokuskan untuk meraih pertumbuhan ke bidang bisnis baru (strategi 5). Continue Reading »

PENDAHULUAN

Dunia tanpa batas telah menggambarkan gelombang perubahan yang serba komplek dan tidak ada kepastian, oleh karena itu, masa depan tantangannya bukan terletak dari keunggulan kompetitip melainkan keunggulan bisnis akan terletak seberapa jauh peran kepemimpinan mengungkit kedewasaan rohaniah dan sosial dijadikan landasan yang kuat untuk membangun jiwa bisnis yang berbasiskan jiwa tanpa topeng kepalsuan.

Dengan pemikiran tersebut diatas, maka kekuatan pemikiran intuitif menjadi faktor yang kuat untuk menuntun kedewasaan emosional dan intelektual, sehingga setiap peran kepemimpinan akan mendorong kearifan dalam berbisnis yang ditopang oleh kekuatan moral Jadi orang berbisnis tidak semata-mata keuntungan yang mutlak dengan tanpa memikirkan kepentingan orang banyak, maka disitulah terletak peluang berbisnis untuk mendapatkan kesempatan meningkatkan energi. Jadi merebut peluang masa depan menjadi fokus untuk memberikan daya dorong dalam menciptakan semangat.

Semangat merupakan energi yang dapat memotivasi jiwa bisnis berbasiskan jiwa tanpa topeng kepalsuan artinya dengan jiwa membuka mata hati dalam meretas jalan menjadi kepribadian diri sendiri.

Oleh karena itu, dalam menghadapi harapan baru di dunia bisnis yang sejalan dengan gelombang perubahan untuk memenuhi kebutuhan masa depan, perlu dipahami oleh kepemimpinan entrepreneur bahwa bahaya dan keberhasilan tumbuh dari dahan yang sama, mendorong peran kepemimpinan memikirkan untuk mencari penyelesaian agar semua orang menyadari bahwa obat sejati bagi pikiran adalah melepaskan diri dari kesadaran inderawi yang sangat mengagungkan sikap dan perilaku yang berbasiskan materistik, yang berdampak impian yang sirna dalam menanggapi gelombang kebutuhan.

Jadi kita dapat membayangkan bahwa tidak melakukan kesalahan bukanlah kuasa manusia, mlainkan dari esalahannya, maka manusia bijak dan baik belajar tentang kearifan untuk masa depan artinya pentingnya perubahan pola pikir dari kesadaran inderawi menuju kesadaran yang rasional dalam mewujudkan “nilai-nilai bisnis dan komitmen pribadi” dalam rangka pencaharian diri manusia yang sejalan dengan tuntutan kebahagian sebahagian ketenteraman pribadi sebagai wujud dari kebahagian dari suatu usaha yang tmbul dari partiipasi dalam memenuhi sesuatu.

Bertitik tolak dengan ungkapan pemikiran diatas, maka perubahan pola pikir yang bersandar inderawi menjadi pola pikir yang bersandar rasional, maka kepemimpinan entrepreneur harus mampu menunjukkan bahwa alam bisnis memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan kebahagian. Mereka mengetahui caranya, tetapi tidak mengetahui bagaimana menggunakannya.

Oleh karena itu, dari pengalaman manusia yang ingin berubah, diperlukan usaha-usaha membangun kebiasaan baru untuk mendorong semangat untuk memotivasi jiwa bisnis tanpa topeng kepalsuan artinya dengan jiwa membuka mata hati dalam meretas jalan menjadi kepribadian diri sendiri yang ditopang oleh pemahaman dimensi pengalaman manusia yang disebut dengan 1) unsur intelektual mewujudkan kebenaran ; 2) unsur estetis mewujudkan keindahan ; 3) unsur moral mewujudkan kebaikan ; 4) unsur spiritual mewujudkan keutuhan.

Bertolak dari empat unsur tersebut diatas, maka peran kepemimpinan entrepreneur masa depan diharapkan dapat membangun perubahan dari pengalaman manusia menuju kepada terwujudnya keunggulan manusia. Continue Reading »

PENDAHULUAN

Meniti kebahagian melalui bisnis merupakan suatu cara membuka jalan kesuksesan untuk kepentingan stakeholders, oleh karena karena itu peran enytrepreneur untuk mengungkit aliran kekuatan pikiran untuk mengintergrasikan faktor-faktor sumber daya yang tersedia kedalam suatu rancangan untuk mengalirkan input kedalam proses menjadi output kebahagian yang hendak dicapai.

Oleh karena itu, selaku entrepreneur memulai merumuskan gambaran arah persfektif dalam berbisnis untuk meraih kebahagian bagi stakeholders yang bertolak dari wawasan dan imajinatif untuk mengungkit kekuatan pikiran kedalam kreativitas untuk mengalirkan sumber daya sebagai input kedalam proses menjadi output menjadi pertumbuhan terus menerus dalam daur hidup perusahaan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka proses dalam mengelola sumber daya sebagai input haruslah dipikirkan oleh entrepreneur kedalam kepemimpinan kolaboratif dalam wujud tempat kerja, struktur, budaya, tim dalam pelaksanaan dengan kerja sama agar kekuatan mengalirkan sumbr daya menjadi produktif dalam perusahaan.

Akhirnya untuk mengalirkan kekuatan pikiran menjadi entrepreneur yang sukses meniti kebahagian bergantung dari kejelasan dari keputusan strategic yang dituang kedalam visi, misi, tujuan, budaya, strategi sebagai gambaran jiwa bisnis masa depan, oleh karena itu pendekatan system dalam mewujudkan bisnis yang baik sebagai jalan kebahagian, lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut : Continue Reading »

PENDAHULUAN

Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen membicarakan seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis untuk melihat segala sesuatu di masa depan.

Untuk menjadi seorang entrepreneur yang sukses dalam arti kemampuan yang bersangkutan untuk terus mengelelola daur hidup perusahaan yang perima, disamping terus dapat bertahan, tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, maka diperlukan kemampuan berkir jangka panjang yang bertolak dari usaha menggerakkan kekuatan berpikir secara intuitif.

Dengan penguasaan wawasan entrepreneur yang bersangkutan diharapkan memiliki keterampilan merumuskan lompatan-lompatan strategis untuk dapat memandang arah jangka panjang, oleh karena itu kemampuan berpikir strategis merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan, tanpa kemampuan itu sangat sulitlah ia menerapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan, jadi tidak heran banyak pemimpin menguasai informasi tapi ia tidak mampu memanfaat informasi menjadi berguna.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka kepemimpinan entrepreneur masa depan sangat ditentukan kemampuannya untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif artinya ia memiliki kemampuan mengungkapkan situasi dalam gelombang perubahan karena perubahan akan selalu ada dimana-mana sehingga pemahaman yang mendalam memanfaatkan otak dan hati dalam mewujudkan antisipasi.

Entrepreneur berwawasan yang mampu menggerakkan kekuatan berpikir dalam melahirkan ide-ide baru sebagai langkah untuk membangkitkan kekuatan kreatifitas dari mimpi menjadi sesuatu yang dapat meletakkan landasan yang kuat dalam merumuskan antsipasi.

Antisipasi adalah keterampilan baru untuk menggerakkan kemampuan yang terkait dalam pemikiran analisis strategis dimana ia mampu mengungkapkan segala sesuatu yang belum terjadi. Inilah keterampilan yang sangat perlu.

Jadi entrepreneur berwawasan akan mampu menggerakkan kekuatan kemungkinan berpikir intuitif dengan mengungkapkan persfektif dari hasil analisis strategis sebagai satu usaha untuk meramalkan sesuatu yang harus dihindari dimasa depan, maka dengan melaksanakan manajemen yang benar diharapkan kita mampu untuk menciptakan peluang-peluang dalam masa ketidak pastian.

Dengan pemikiran diatas, mendorong entrepreneur berwawasan untuk kembali memikikan konsep manajemen persfektif sebagai kemungkinan berpikir untuk mendorong pemahaman mengenai persfektif, manajemen dan manajemen persfektif dengan pendekatan dari penguraian huruf dari kata menjadi kata yang bermakna. Continue Reading »

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Sejalan dengan pemikiran untuk meningkatkan kebiasaan yang produktif, diperlukan peningkatan wawasan entrepreneur dalam menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat pengetahuan.

Sebagai jawabannya, tulisan ini kami susun sejalan dari hasil renungan untuk mengendalikan dorongan hati dalam memikirkan hal-hal yang sedang kita hadapi, dalam sikap (suasana mengkomunikasikan suara hati ini), sejenak memikirkan untuk menempatkan hal-hal tersebut dalam persfektif yang diyakini kedalam pemahaman atas paradigma abad baru, manusia seutuh, dan kebiasaan yang produktif.

Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk dapat mendengarkan intuisi kami dan mengutarakannya dari huruf menjadi kata-kata yang bermakna menjadi untaian kata paradigma abad baru, manusia seutuh dan kebiasaan produktif. Continue Reading »

PENDAHULUAN

Berpikir dalam kerangka persfektif diperlukan motivasi yang kuat dalam menumbuhkan sikap dan perilaku positip agar dapat tumbuh yang sejalan dengan satu keyakinan sebagai daya dorong agar kemampuan mengelola masa depan dengan cara yang benar.

Dengan keyakinan seorang yang memiliki kepemimpinan akan mampu pula mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan kebersamaan dalam sikap dan perilaku untuk mewujudkan pemikiran intuitif yang telah diputuskan dalam keputusan strategik.

Salah satu kemampuan manajerial yang harus dibangun dengan keyakinan yang dapat mempengaruhi dalam perubahan bersikap dan berperilaku adalah membangun satu kebiasaan yang efektif melalui manajemen partisisifatip. Keyakinan tersebut haruslah ditopang oleh kebesaran kebesaran apa yang telah mendorong keberhasilan suatu organisasi dalam memanfaatkan alat manajemen tersebut menjadi satu kenyataan.

Kebesaran-kebesaran yang kita maksudkan sebagai daya dorong untuk kita membangun keyakinan dalam mencari kepastian melalui proses manajemen partisipatif, mencakup pemahaman hal-hal yang kita sebutkan dibawah ini :

Pertama, pemahaman atas permerdayaan sumber daya manusia
Kedua, pemahaman atas benih-benih keyakinan dalam pola berpikir
Ketiga, pemahaman menumbuh-kembangkan manajemen partisipatif
Keempat, pemahaman atas keterampilan-keterampilan dalam abad baru.

Keempat hal tersebut akan kita utarakan secara sepintas dibawah ini : Continue Reading »

PENDAHULUAN

Berpikir dalam kerangka metodis maka dalam setiap melangkah dalam usaha menjadi usahawan yang tangguh maka perliu adanya pemikiran yang tersusun secara sistimatis dan dapat dikomunikasikan secara baik sehingga menjadi kekuatan-kekuatan motivasi untuk bersikap dan berperilaku yang positip dengan penguasaan prinsip-prinsip kepemimpinan.

Pemikiran pertama adalah mencakup tiga langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran intuitif artinya merumuskan hal-hal yang bersifat strategis untuk jangka panjang (diatas 5 tahun) yang menggambarkan masa depan sebagai persfektif.

Pemikiran kedua adalah mencakup satu langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran jangka menengah (2 s/d 5 tahun) artinya merumuskan hal-hal dari jangka panjang mengarah pada posisi yang digambarkan secara kuantitatif untuk melaksanakan pencapaian persfektif yang sudah digariskan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal dan produktif berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan.

Pemikiran ketiga adalah mencakup empat langkah yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran jangka pendek ( 1 tahun ) artinya merumuskan hal-hal dari jangka menengah menjadi kegiatan operasional yang mengarah pada performa yang digariskan kedalam kebijakan rencana kerja dan anggaran.

Pemikiran keempat adalah mencakup dua langkah teraakhir yang khusus mengungkapkan hal-hal yang berkaitan usaha-usaha mengelola berdasarkan budaya perusahaan agar semua yang terlibat dalam organisasi perusahaan agar kewiraswastaan sesuai dengan paradigma abad 21. Continue Reading »

PENDAHULUAN

Proses berpikir mencakup dua lingkungan yaitu lingkungan alam sadar dan alam bawah sadar. Untuk menggerakkan proses berpikir dalam alam sadar memanfaatkan otak atas dimana masing-masing otak (kiri dan kanan) harus dapat memberikan rangsangan satu sama lain, jangan sampai terjadi salah satu tidak berperan sebagaimana layaknya. Jadi kesadaran (otak atas kanan) dan kecerdasan (otak atas kiri), keduanya menjadi alat pikir dari otak.

Sedangkan otak bawah sadar, yang juga disebut otak kecil artinya ia berpusat di hati oleh karena itu, ia berperan untuk mengendalikan semua fungsi tubuh yang tidak disadari dan otomatis, sehingga otak bawah akan bekerja secara terpisah dengan otak atas. Jadi otak bawah sadar yang kita sebut dengan Akal mengandung arti dari satu sisi sebagai ilmu tentang hakikat segala sesuatu, letaknya dalam hati dan disisi lain kata Akal itu dipergunakan kepada yang mengenal ilmu itu ialah hati yakni benda halus dan indah itu.

Jadi hati akan berperan untuk menghayati dalam mengendalikan emosi, seksualitas dan pusat kenikmatan, oleh karena itu otak bawah sadar yang kita sebut Akal sebagai alat pikir. Proses berpikir dengan memanfaatkan otak bawah sadar menjadi hasil kerja hati dengan penghayatan yang juga kita sebut dengan intuisi. Dengan demikian intuisi termasuk salah satu bentuk berpikir juga.

Kesadaran menyadarkan apa-apa, namun kecerdasan memberitahukan kepaada kita keadaan masalah dan hubungan-hubungannya. Apakah gerangan bahaya bagi kita. Itu saja tidak cukup dalam proses berpikir, yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana kita menghindarinya atau menumpasnya. Disnilah tampil prinsip kesembilan sebagai suatu proses berkir yang muncul kepermukaan yang disebut dengan akal sebagai alat pikir untuk mencari jalan untuk tujuan itu. Dengan Akal dalam proses berpikir menunjukkan dimana letak bahaya, jenis bahaya, apa segara datang atau berlagsung tetap sebagai bahaya, bagaimana ia dapat dihindarkan, selanjutnya menunjukkan jalan dan cara-caranya mencapai tujuan itu agar supaya dilaksanakannya. Itulah pekerjaan akal. Dalam hal tertentu, ia juga bekerja membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa mengem-bangkan akal kepemimpinan merupakan unsur jiwa ketiga selain kesadaran dan kecerdasan. Oleh karena itu ketiga unsur jiwa itu, bertindak serentak dalam proses berpikir, saling mengisi dan saling membantu sehingga menyerupai tri-tunggal. Akhirnya kita dapat menyatakan bahwa tidak dapat menyebutkan yang satu dengan meninggalkan dua yang lainnya, dengan ungkapan ini alat pikiran sebagai kecakapan jiwa yang didalam fungsinya bertindak serentak sebagai tri-tunggal dan merupakan alat pikiran yang utama untuk kita kembang-kan. Continue Reading »

PENDAHULUAN

Hasil kerja kesadaran belumlah berarti apa-apa, sehingga kesadaran belaka tidak berdaya karena kesadaran menyadarkan apa-apa, barulah bermakna merespon antisipatip sebagai prinsip kedelapan karena melalui kecerdasan melaporkan kepada kita situasi permasalahan dan hubungan-hubungannya.

Oleh karena itu mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dalam merespon antisipatif merupakan prinsip kedelapan merupakan langkah untuk memanfaatkan otak atas sebelah kiri adalah yang berperan untuk mengendalikan tubuh bagian kanan dengan fungsi menangani angka, lokika, analisis, sains, matematika dan hal lain yang terkait dengan pemikiran rasional.

Jadi kecerdasan sebagai alat pikir dalam merespon atas hasil kerja kesadaran, maka sebelum kita membuat langkah-langkah atas masalah-masalah yang kritis, pokok dan insidentil serta hubungan-hubungannya satu sama lain, maka proses berpikir tersebut dalam memandang masa depan terhadap situasi dari dalam dan dari luar lingkungan sendiri menuntun pemahaman kita saling keterkaitan antara hasil kerja kesadaran dan kecerdasan untuk melakukan proses perubahan itu sendiri.

Dengan kecerdasan pula yang akan menuntun pemahaman atas proses perubahan yang akan menjelaskan tentang cara dalam proses perubahan itu sendiri dengan gaya bertahap (mengambil langkah sedikit demi sedikit dan berkelanjutan menjadi besar) ; gaya perubahan sistimatik (melakukan perubahan transformasi total sebagai tuntutan untuk meres-pon dengan cepat dan komprehensif). Gaya manapun yang akan diterapkan, menuntut adanya perubahan yang berencana, sehingga dalam mengaktualisasikan kecerdasan dalam proses berpikir haruslah berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mengarah kepada disfungsional (perkecualian; paksaan) atau perubahan-perubahan yang mengejutkan.

Sejalan dengan ungkapan diatas, maka kecerdasan sebagai alat pikir dan sebagai unsur jiwa dalam menangkap hal-hal yang terkait dengan masa depan, tidak dapat melepaskan dari pemikiran-pemikiran dari pengalaman masa lalu, sehingga pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman masa lalu menghasilkan pengetahuan masa sekarang membuka jalan untuk meramalkan masa depan. Continue Reading »

Older Posts »