28. MENINGKATKAN BENIH-BENIH JIWA KETAATAN DAN BERPIKIR POSITIP DALAM KEPEMIMPINAN
1. PENDAHULUAN
Bertolak dari kebiasaan berpikir intuitif mendorong kekuatan dalam wawasan dan imajinasi dalam menumbuh kembangkan benih-benih jiwa ketaatan dan berpikir positip dalam rangka mewujudkan hikmah berpikir sebagai satu kekuatan untuk membentuk jiwa dan rohani kita supaya lebih mengenal kepada yang menciptakannya.
Sejalan degan pencerahan yang kita bangun, maka bayangan tidak ada yang berubah, kecuali kita berusaha, maka disitu terletak keinginan tahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu.
Oleh karena itu, benih-benih jiwa ketaatan dan berpikir positip hanya dapat tumbuh dan berkembang bagi manusia yang menyadari arti penting perjalanan hidup abadi yang harus kita persiapkan dari waktu ke waktu, kuncinya seberapa jauh kita memanfaatkan benih-benih jiwa ketaatan dan berpikir positip.
Dengan demikian, kepemimpinan yang meningkatkan makna hidup perjalanan abadi, manusia harus mampu „memahami dunia“ artinya jangan tertipu pada yang tampak. Apa yang tampak tidak selalu seperti yang sejatinya, kenalilah tabiat dunia dengan hatimu, wilayah kesadaranmu. Dengan begitu, kita akan selalu menemukan makna, sebab dan pesan di balik semua peristiwa. Jangan sandarkan penglihatan pada nafsu, wilayah kecenderunganmu. Sebab ia selalu membawamu memperhatikan apa yang tampak secara lahir dari peristiwa itu sendiri.
Kunci keberhasilan dalam kepemimpinan keteladanan, ia secara sadar dengan pikiran intuisinya, yang membayangkan kesulitan berubah menjadi kemudahan, kebahagian berubah menjadi kesedihan, kekayaan berubah menjadi kemiskinan adalah tabiat dasar dunia, sehingga ingatlah yang membuatmu terpana sering kali membuatmu merana.
Jadi keberhasilan kita memahami dunia berarti ada daya kemauan yang kuat untuk merubah tingkat kesadaran inderwawi yang bersandar pada paham materialistik. Oleh karena itu, dengan berubahnya kesadaran yang mampu digerakkan oleh kekuatan pikiran ketaatan dan berpikir positip, maka wujud berpikir sejalan dengan daya kemauan keinginan untuk berubah.
2. BENIH JIWA KETAATAN DAN BERPIKIR POSITIP
Menggerakkan kedewasaan kesadaran dengan meningkatkan kemampuan melaksanakan kepercayaan (islam) dan keyakinan (iman) sebagai kekuatan dalam mewujudkan hikmah berpikir melalui apa yang kita sebut dengan :
Hal Ketaatan, pemikiran dalam hal ini digunakan untuk meneliti kewajiban-kewajiban yang sudah ditentukan atas dirinya, apakah semua perbuatan-perbuatan itu sudah sesuai dengan konsep-konsep islam.
Sifat-sifat yang menyelamatkan (berpikir positip), di dunia dan akhirat itu ialah dengan bertaubat, menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan, sabar menahan bencana, bersukur ketika memperoleh kenikmatan takut dan mengharap kerahmatan Tuhan, berzuhud di dunia ikhlas dan benar dalam ketaatan terhadap kebahagian dirinya di dunia dan di akhirat , hendaklah membaca kitab suci Al Quran itu.
Bertolak dari kedua benih jiwa diatas dapat ditumbuh kembangkan sebagai buah pikiran untuk menuntun tingkat kedewasaan berpikir rohaniah, sosial, emosional dan intelektual, dalam rangka meningkatkan daya kemauan yang kuat dalam mewujudkan keinginan yang berkaitan dengan pemikiran :
Pertama, yang terkait dengan keinginan meningkatkan percaya diri yang sangat kuat.
Kedua, yang terkait dengan keinginan kebiasaan untuk menahan diri yang sejalan dengan peristiwa yang dhadapi.
Ketiga, yang terkait dengan keinginan kebiasaan dalam menekan emosi yang sejalan dengan peistiwa yang dihadapi.
Keempat, yang terkait dengan keinginan meraih kehidupan masa depan yang lebih baik dan melupakan masa lalu.
Kelima, yang terkait dengan keinginan merubah kebiasaan merasa bersalah dalam rangka merebut peluang yang terbuka.
Keenam, yang terkait dengan keinginan merubah kebiasaan merasa takut dalam mewujudkan impian.
Ketujuh, yang terkait dengan keinginan mewujudkan kebangkitan jiwa besar yang sejalan dengan tuntutan kehidupan.
3. MENCAPAI WUJUD DARI KETUJUH KEINGINAN DIATAS
Dengan memanfaatkan hasil pemikiran dari ketaatan dan berpikir positip yang mampu mendorong daya kemauan untuk mewujudkan keinginan diatas akan terletak kebiasaan berpikir baik secara metodis (otak dan hati) maupun non-metodis (hati) yang mampu mengungkit daya ingat dengan langkah pemikiran untuk mewujudkan setiap keinginan yang kita sebutkan dibawah ini :
Pertama, adanya kemampuan untuk mengungkapkan dari situasi yang ada kedalam kisah nyata yang dihadapi dengan menghubungkan kedalam kinginan misalkan dengan keinginan meningkatkan percaya diri yang sangat kuat.
Kedua, mendalami atas situasi yang nyata, maka didalamnya terdapat masalah yang harus dirumuskan sebagai pokok permasalahan, yaitu terkait dengan harga diri rendah.
Dalam pikiran yang terpikirkan mempunyai harga diri berarti merasa nyaman dengan diri sendiri, merasa layak meraih kebahagian, kesehatan, cinta dan pengampunan.
Ketiga, bertolak dari rumusan masalah diatas, maka kita mengungkit daya ingat untuk membicarakan dalam pikiran untuk membahas dalam fungsi konsultasi dalam diri sendiri, yang mampu mengungkapkan latar belakang dan sebab-sebab yang menimbulkan masalah.
Sejalan dengan pikiran tersebut dengan penguasaan wawasan dan imajinasi, maka kita mengungkapkan daya ingat dari hasil konsultasi batin dalam pikiran sendiri untuk mengidentikasi dari mana datangnya harga diri dengan berpikir sejauh mana dapat kita ungkapkan kembali melalui 1) agar kita mampu dalam mewaspadai pikiran karena apa yang kita lakukan hari ini adalah hasil pikiran sendiri ; 2) oleh karena itu kembangkan untuk belajar menanamkan pikiran baru, dimana setiap manusia memiliki potensi yang tersembunyi yang dapat digerakkan ; 3) belajarlah lebih menjadi berpikir bijaksana terhadap diri sendiri atinya berpikir dengan melepskan diri dari tekanan dan kepedihan yang mendorong terbentuknya penyesalan atas diri sendiri
Keempat, berpikirlah kedalam kerangka mencari jalan keluar pemecahan masalah dengan unsur jiwa sebagai ala berpikir berupa kesadaran (menjawab what to do), kecerdasan (menjawab why to do it) dan akal (menjawab how to do it). Ketiga unsur tersebut ditopang kepada oleh niat dan asrat (menjawab when to do it).
Bertolak dari pemanfaatan unsur jiwa diatas, maka dibalik itu renungkan pandangan pencerahan psikolog yang berpendapat bahwa percaya diri adalah pemusnah sikap meagukan diri sendiri. Jika kita perhatikan orang dengan percaya diri dan harga diri tinggi mempunyai dialog batin yang kuat dan positif dalam diri mereka.
Sejalan dengan pikiran diatas, maka kita belajar mencintai diri sendiri atau mulai mencintai hal-hal yang kita lakukan dalam hidup kita dengan cara berkomitmen ntuk mencintai, menghargai, dan merawat diri sendiri, maka dampak yang ditimulkan sungguh menakjubkan, baik secara mental, fisik, mauun spritual.
Cara mewujudkannya adalah seberapa jauh anda mapu mengungkit daya ingat anda kedalam daya kemauan yang kuat untuk bersikap dan berperilaku kedalam apa yang kita sebut “Membangun peneguhan positif” dengan langkah pikiran:
1) Rumuskan untuk memprogramkan ulang pemikiran anda artinya a) pikiran baru ; b) baru berarti berlawan dengan pikiran negatif anda ; c) pikiran baru harus menawarkan kegembiraan dan harapan masa depan ; d) pikiran baru anda meninspiras anda untuk bertindak.
2) Gunakan akselator bermakna pernyataan sebagai daya dorong artinya a) punjian yang pernah anda terima ; b) tujuan yang mendorong anda merenungkan pemikiran anda ; c) peristiwa di masa lalu yang membuat anda berpikir seperti ini ; d) alasan yang masuk akal untuk memercayai pemikiran ini.
3) Rumuskan kembali hasil pkiran diatas untuk menilai harga diri anda sendiri
Kelima, berpikirlah dalam kerangka melaksanakan kontrol yang terkait dengan pemeriksaan yang mencakup pengawasan dan pengendalian, sehingga kita mampu menilai apa-apa yang telah kita pikirkan dalam pemberdayaan daya ingat dalam usaha untuk mewujudkan kenyataan masa depan akan sangat dimotivasi oleh tanggung jawab sosial dan kreativitas, imajinasi anda.
Sejalan dengan pikiran diatas, maka renungkan apa-apa yang telah anda pikirkan sebelumnya dalam usaha mewujudkan keinginan ada, oleh karena itu kuatkan pikiran anda kedalam sikap dan perilaku yang tertuang dalam hal-hal yang terkait 1) catat segala hal yang anda pikirkan dan rasakan positif dan negatif ; 2) bila sulit menemukan hal-hal yang positif tentang diri anda, maka gerakan unsur jiwa kesadaran menjadai kekuatan kecerdasan menjadi kekuatan akal untuk menungkit pikiran anda ; 3) gerakkan kekuatan unsur jiwa anda dalam berpikir kedalam latihan-latihan secara teratur.
4. PENUTUP
Usaha-usaha untuk melaksanakan benih-benih jiwa ketaatan dan berpikir postif ( sifat-sifat yang menyelamatkan) dalam kepemimpinan sangat ditentukan oleh keberhasil berpkir manusia melihat kehidupan masa depan.
Sadar dengan keinginan untuk menjalani hidup abadi, dibutuhkan kebiasaan anda berpikir baik dalam kemampuan berpikir metodis dan non-metodis sehingga anda memikirkan secara berkelanjutan untuk menumbuh kembangkan hasil pemikiran ketaatan dan berpikir positif, itu berarti anda memiliki komitmen untuk memperdayakan „OTAK“ baik dari sisi kedewasaan berpikir intelektual maupun dari sisi rohaniah. Dengan demikian anda mampu memanfaatkan benih-beni jiwa untuk mewujudkan keinginan anda seperti yang telah kita utarakan sebelumnya.
29. KEDEWASAAN BERPIKIR MENENTUKAN ARAH UNTUK JIWA DALAM KEPEMIMPINAN
1. PENDAHULUAN
Sering kita ungkapkan bahwa hidup kita dibentuk oleh pikiran kita sendiri, oleh karena itu, maka menjadi kebutuhan dalam mendorong daya kemauan yang kuat untuk meningkatkan kedewasaan berpikir yang mencakup dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual.
Dengan kekuatan kedewasaan berpikir tersebut mendorong untuk menentukan arah untuk jiwa dalam kepemimpinan. Arah yang kita maksudkan adalah bagian dari visi hidup kita yang mencakup citra, budaya, arah dan tujuan.
Jadi tekanan yang hendak diungkit dalam pikiran disini adalah kedewasaan berpikir dalam menentukan arah sebagai peta perfekstif jiwa yang menuntun sikap dan perilaku dalam kepemimpinan, sehingga dengan kedewasaan berpikir itu, kita merumuskan arah dalam persiapan menuju perjalanan hidup abadi, maka disitu terletak kebiasan yang harus kita pupuk secara terus-menerus yang terkait dengan pikiran yang menggugah jiwa.
Sejalan dengan pikiran yang kita ungkapkan diatas, maka wujudkan kedewasaan berpikir kedalam hal-hal yang terkait dengan usaha-usaha menentuka arah untuk jiwa dalam kepemimpinan adalah kemampuan melepaskan diri dari topeng kepalsuan.
Dengan kedewasaan berpikir, akan mampu mengungkit daya ingat untuk melepaskan jiwa tanpa topeng kepalsuan dari hasil pikiran ketaatan dan berpikir positif untuk mengetuk dinding jiwa, oleh karena itu merumuskan arah peta untuk jiwa dalam kepemimpinan secara sadar menjadi kekuatan penggerak dalam memotivasi diri berlandaskan kepercayaan dan keyakinan. Jadi apa-apa yang kita ungkapkan dalam arah peta untuk jiwa disini adalah hasil gambaran visi dari kekuatan berpikir, bekerja dan belajar yang digerakkan oleh kekuatan berpikir secara intuisi.
2. ARAH PETA UNTUK JIWA DALAM KEPEMIMPINAN
Dalam merumuskan arah peta untuk jiwa dalam kepemimpinan dipengaruhui oleh kemampuan kita memanfaatkan kebiasaan pikiran yang kuat untuk mendorong daya kemauan yang mampu mengungkit daya ingat dalam usaha menggerakkan berpikir intuitif kedalam hal-hal yang berkaitan dengan :
Pertama, wujudkan kedalam kehidupan visi yang tertinggi anda :
Rumuskan visi anda secara jelas yang mampu menggambarkan kekuatan citra, budaya, arah dan tujuan. Setelah itu komunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Arah peta untuk jiwa disini adalah komitmen yang kuat agar mampu mewujudkan apa-apa yang terpikirkan menjadi suatu kenyataan sehingga sikap dan perilaku sejalan dengan arah yang diharapkan.
Kedua, wujudkan kedalam kehidupan yang mampu jalinan hubungan :
Hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri yang di dorong dari kemauan yang ada di dalam diri anda, seperti halnya juga orang-orang yang anda jumpai selaku pemain peran utama secara tidak sadar anda mempengaruhi dalam memberi makna kehidupan orang lain.
Arah peta untuk jiwa disini adalah jiwa tidak mengenal yang namanya keterpisahan karena ketidak-terhubungkan adalah suatu ilusi, oleh karena itu pusatkan perhatian anda setiap harinya pada satu sasaran atau gagasan yang lebih besar dari pada diri sendiri yang terkait dengan kekuatan hubungan dalam pikiran anda.
Ketiga, wujudkan kedalam kehidupan untuk menemukan komunitas :
Komunitas adalah kebutuhan jiwa manusia yang paling penting dan paling tidak disadari, oleh karena itu temukanlah dan bangunlah komunitas dari kekuatan berpikir yang taidak tahu menjadi tahu.
Arah peta untuk jiwa disini adalah daya kemauan yang kuat untuk mendorong dari kelompok kecil menjadi besar suatu kominitas yang secara sadar kita teribat untuk mengelola komunitas baik dalam suatu organisasi formal maupun tidak forma karena disitu tersimpan potensi yang dapat kita manfaatkan dalam kepentingan individu, kelompok dan organisasi. Yang harus dijaga bagaimana kita membangun kominitas dalam keseimbangan kepentingan. Dengan begitu anda membangun suatu iklim dalam komonitas yang selalu siap mengikuti perubahan.
Keempat, wujudkan kedalam hidupan bahwa anda tidak sendirian :
Bayangkan dari hasil pikiran ketaatn dan berpikir positif, maka disitu terletak kekuatan kepercayaan dan keyakinan bahwa anda sebagai khalifah di bumi, maka anda menyadari arti keberadaan anda, oleh karena itu, renungkan bahwa aku tidak seorang diri. Artinya Ia telah mengutus aku, Ia menyertai aku.
Arah peta jiwa disini adalah meningkatkan dari kebiasaan berpikir berlandasrkan kesadaran inderawi yang dimata Allah Swt adalah paling rendah sehingga begitu mudah pikirannya untuk melakukan pikiran maksiat dan pikiran negatif oleh karena itu rubahlah kesadran anda ketingkat yang di ridhoi oleh Allah Swt. Jadi ingatlah sama seperti halnya gelombang kecil itu tidak pernah terpisah dari samudera jiwa kitapun tidak pernah dari Allah.
Kelima, wujudkan kedalam kehidupan dalam kesiapan perjalan hidup
Abadi dengan menemukan sorga di dalam diri anda :
Bertolak dari kedewasaan berpikir yang tumbuh dan berkembang dari kebiasaan-kebiasaan, maka disitu terletak perjalanan hidup abadi dengan menemukan jati diri dalam melibatkan keagungan Allah.
Arah peta jiwa disini adalah menumbuh kembangkan kebiasaan-kebiasaan dalam pemahamn ISLAM (I-lmu, S-unnatullah, L-ihat, A-gama, M-uslim) ;
IMAN (I-krar, M-anusia, A-llah, N-abi) ; AMAL (A-khlak, M-artabat, A-jaran, L-angkah) sebagai satu kekuatan dalam berpikir ketaatan dan berpikir positif., oleh karena itu pentingnya kita memahami dunia agar anda jangan tertipu pada yang tampak artinya diri (nafsu) melihat kepada lahiriahnya yang menipu, sementara kalbu meihat kepada batinnya yang menjadi pelajaran.
Keenam, wujudkan kedalam kehidupan bersyukur atas nikmat yang terulur sebagai dorongan ketaatan dan berpikir positif :
Renungkanlah bermacam nikmat Allah curahkan pada anda dari segala penjuru, baik dari atas maupun bawah. Oleh karena itu, cobalah dengan pendekatan 7M (membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami, mengamalkan). Dalam Al Qur’an, kata „bersyukur) terungkap dalam QS. 2 : 52,56, 185 ; 5 : 6, 89 ; 6 : 63 ; 7 :10,58, 144, 189 dan seterusnya seperti yang termuat dalam surat : 8, 10, 14, 16, 17, 21, 22, 25, 28, 30, 3, 34, 35, 36, 39, 42, 45, 46, 48, 56, 76 93. Renungkanlah apa-apa yang terungkap didalamnya sbagai ilustrasi seperti yang termuat dalam :
QS. 14 : 34“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).“
QS. 34: 20 „Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
QS. 55 : 1“ Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Arah peta jiwa disini adalah bersikaplah sederhana, sampai kapan berangan-angan, bebaskan dirimu dari kebutuhan yang mengikat, jangan menunggu hadirnya berbagai ujian, berbagilah bila engkau peroleh dari-Nya, belajarlah pada kejadian dan peristiwa masa lalu, bukalah matahtimu, jangan remehkan rangkaian doa-doamu kepadaNya.
Oleh karena itu, ingatlah ungapan seperti „Jika kau tak menanam dan lihat orang lain menuai, Kau akan menyesal atas kelalaianmu pada masa tanam ; Jika engkau memperoleh nikmat, maka jagalah ia. Ingatlah maksiat akan menghilangkan nikmat“
Ketujuh, wujudkan dalam kehidupan untuk serahkanlah masalah anda kepada kuasa yang lebih tinggi :
Apapun yang kita pikirkan secara metodis, namun keberhasilan tidak dengan sendirinya terpecahkan sangat bergantung oleh kehendak-Nya, oleh karena itu renungkan apa yang terpikirkan bersama kesulitan ada kemudahan, maka ingatlah ungkapan bahwa „wahai manusia setelah lapar ada kenyang, setlah haus ada rasa segar, setelah bergadang ada tidur, setelah sakit ada sehat, yang tiada pasti akan sampai, yang tersesat akan menemukan jalan, kesulitan akan hilang dan kegelapan akan sirna“
Arah peta jiwa disini adalah renungan bacaan amalan batin dilihat dari sisi hubungan manusia, oleh karena itu wujudkan gerakan untuk berpikir tentang karunia-Nya melalui proses peningkatan amalan batin.
Oleh karena itu, serahkanlah kehidupan anda ke dalam tangan Allah Swt. Dan percayalah bahwa ada rencana ilahi ; Allah tidak pernah membuat anda berubah tanpa memastikan anda memiliki segala bantuan yang anda butuhkan ; Janganlah terlalu bergumul dengan usaha menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang sulit. Kalau anda serahkankehidupan anda ke dalam tangan Allah Swt., pkiran anda menjadi rileks.Solusi-solusi baru akan datang dengan sendirinya.
Kedelapan, wujudkan dalam kehidupan sadar diri dalam genggaman kehendak Ilahi :
Sejalan dengan berpikir hasil ketaatan dan berpikir postif dan menjauhi berpikir maksiat dan negatif, maka disitu terletak keinginan mengubah hidup anda kedalam daya kemauan yang kuat yang sejalan dengan kekuatan niat yang anda ungkapkan dalam mimpi anda.
Arah peta jiwa disini adalah mendorong kedalam kebiasaan berpikir untuk 1) Berjalan terus hingga engkau sampai kepada-Nya ; 2) Jangan meniru kebiasaan orang-orang pandai yang memamerkan kebodohannya sendiri ; 3) Jangan berharap pada yang bersifat sementara, karena di dalamnya selalu ada duka lara ; 4) Ingatlah bahwa perolehanmu di dunia ini hanyalah „tanda“ hadirnya pengabulan Allah terhadap amamu ; 5) Bersikaplah tulus di hadapan-Nya agar anda bisa mengetahui kedudukanmu di sisi-Nya ; 6) Perliharalah kenikmatanmu beribadah, karena karunia ini tidak mudah diperoleh.
Kesembilan, wujudkan dalam kehidupan berusaha untuk menghamba :
Renungkan dalam kebiasaan pikiran bahwa barang siapa berteman dengan ulama pasti akan terhormat, dan barang siapa yang berteman dengan orang bodoh pasti akan terhina. Oleh karena itu, ungkitlah daya ingat bahwa siapa yang bersabar pasti beruntung sehingga siapa yang jujur ia akan selamat.
Arah peta jiwa disini adalah menuntun kebiasaan berpikir kedalam sebaik-baik yang anda minta kepada-Nya adalah apa yang Dia tuntut darimu. Jadi kuatkan daya kemauan anda untuk 1) Kerjakanlah apa yang mesti engkau kerjakan sesuai dengan perintah-Nya ; 2) Buang sifat malasmu, jangan biasakan mencari-cari alasan pembenaran atas kemalasanmu itu ; 3) Diamlah dalam kedekatanmu dengan-Nya ; 4) Tidak ada upah tanpa kerja, tidak ada pahala tanpa ibadah ; 5) sadarkan sepenuhnya dirimu kpada-Nya, sebab dengan begitu nda akan lebih mudahmenikmati penghambaanmu kepada-Nya.
Kesepuluh, wujudkan dalam kehidupan ketulusan dalam menghamba :
Ingatlah bahwa keberhasilan anda sangat ditentukan oleh kebesaran yang terkait dengan ketulusan dalam menghamba artinya taat itu sangat sulit untuk diperlihatkan keberadaannya karena ia tersembunyi, oleh karena itu yang tersembunyi itu amatlah sulit mengobatinya.
Arah peta jiwa disini adalah tuntunlah pola pikir ada kedalam kedewasaan berpikir, maka disitu terletak kemampuan anda untuk mengungkit dalam ingatan agar anda selalu merangkul kebesaran Allah Swt. Itu berati ada daya kemauan untuk membangun keinginan yang berlandaskan niat yang kuat dalam melaksanakan 1) Sadarlah bahwa nafsu selalu mengelus dan tipuannya sungguh begitu halus ; 2) Sanjungan tidaklah selalu jadi sandungan, sebab yang harus diwaspadai adalah dirimu sendiri ; 3) Anda tak pantas cerita , anda tak perlu jadikan dirmu berita ; 4) Hanya bersama-Nya kita damai meski godaan begitu ramai ; 5) Celuplah dirimu dalam celupan ilahi seperti yang terungkap dalam QS. 2 : 138 „Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shighahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah“
6) Bagaimana kita bisa melihat Zat yang membuat kita melihat ? 7) Bila anda bisa melihat pantulan caha-nya, mengapa memaksa diri melihat langsung asal cahaya ?
3. PENUTUP
Dengan mengungkit kedalam daya ingat atas 10 (sepuluh) benih jiwa sebagai peta dalam memberikan arah perjalanan hidup ini, maka disitu terletak adanya daya kemauan yang kuat untuk menumbuh kembangkan kekuatan dalam berpikir ketaatan dan positif.
Jadi Mengetuk dinding jiwa tanpa topeng kepalsuan dalam meningkatkan kedewasaan berpikir (rohaniah, sosal, emosional, inteletual) berarti ada usaha meretas jalan mnjadi diri sendiri, maka ingatlah ungkapan seperti “barang siapa yang bertambah murnya, maka brkuranglah kekuatan fisiknya dan bertambah kekuatan otaknya.
